Pemerintah Siapkan Pembatasan Pertalite untuk Mobil Mewah

Share

Pemerintah mulai menyiapkan sistem pembatasan penyaluran BBM jenis Pertalite agar tepat sasaran. Kebijakan ini menyasar kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi yang masuk dalam kategori desil 9 dan desil 10.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menilai penyaluran subsidi BBM bernilai ratusan triliun rupiah saat ini masih dinikmati oleh kalangan mampu. Langkah pembatasan dilakukan untuk memastikan alokasi subsidi jatuh ke tangan yang berhak, seperti dilansir dari Detik Oto.

"Masa orang kaya harus kita subsidi, contoh Pertalite, desil 9, desil 10 masih kena, masih dapat subsidi. Nah ini yang kita mulai bahas sistemnya segala macam. Supaya apa? Angka subsidi yang ratusan triliun ini betul-betul diberikan kepada saudara-saudara kita yang berhak menerimanya," tutur Bahlil.

Meskipun skema teknisnya masih dibahas, Bahlil menyebutkan bahwa kriteria pembatasan nantinya bakal mengacu pada jenis kendaraan yang digunakan oleh konsumen.

"Nanti menyangkut pembatasan itu nanti kan ada jenis kendaraan. Jangan pakai BMW, pakai Mercy, masa pakai minyak subsidi. Itu yang dimaksudkan oleh Pak Menteri (Keuangan)," lanjut Bahlil.

Saat ini, transaksi pembelian Pertalite belum mengalami pembatasan jenis kendaraan dan hanya mengandalkan kode QR MyPertamina. Pembelian harian dibatasi maksimal 50 liter per kendaraan, sehingga mobil kelas atas seperti Toyota Alphard keluaran terbaru masih ditemukan mengisi BBM oktan 90 tersebut.

Penggunaan Pertalite pada mobil mewah sekelas Toyota Alphard sebenarnya tidak direkomendasikan secara teknis. Manual resmi Toyota Alphard generasi terbaru keluaran 2023 menetapkan standar minimal bahan bakar beroktan RON 91 atau lebih tinggi.

Pertalite yang diterbitkan Pertamina Patra Niaga memiliki kadar oktan RON 90 sebagai pengganti Premium. BBM jenis ini dirancang khusus untuk mesin kendaraan yang memiliki rasio kompresi 9:1 hingga 10:1.

"Pertalite dengan kadar sulfur kurang dari 500 ppm, kompatibel dengan sebagian besar mesin kendaraan di Indonesia. Aditif yang terkandung di dalamnya meningkatkan efisiensi pembakaran, sehingga memungkinkan jarak tempuh yang lebih jauh," demikian tertulis di laman tersebut.

Pengendara dianjurkan memeriksa buku panduan manual guna mengetahui rasio kompresi mesin sebelum membeli BBM. Ketidaksesuaian nilai oktan dengan spesifikasi mesin dapat berisiko memicu kerusakan komponen jangka panjang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author