Pemerintah Siapkan Ambulans Udara dan Dokter Terbang ke Daerah Terpencil
Pemerintah menyiapkan terobosan layanan kesehatan berupa penyiapan ambulans udara berbasis helikopter hingga program dokter terbang guna menjangkau masyarakat di wilayah terpencil. Rencana kebijakan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (14/8/2026) dan dijelaskan lebih rinci oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (15/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Pengadaan ambulans udara dan penerbangan medis ini dirancang untuk mempercepat evakuasi darurat serta memangkas hambatan geografis bagi warga yang membutuhkan pertolongan medis. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kehadiran fasilitas ini bertujuan untuk memastikan setiap warga negara mendapatkan akses pengobatan tanpa terkendala infrastruktur darat.
"Negara harus hadir sedekat mungkin dengan rakyat, untuk itu kita akan buat ambulans udara dengan heli dan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan-lapangan rumput, pasir, sungai, supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa tidak dievakuasi ketika dia sakit," kata Prabowo, Presiden Republik Indonesia.
Keputusan tersebut diambil setelah pemerintah menerima laporan adanya kasus pasien meninggal dunia akibat menempuh perjalanan berjam-jam menuju fasilitas kesehatan. Jalur udara dinilai menjadi solusi paling efektif untuk menembus wilayah dengan kondisi medan yang sulit.
"Untuk itu kita harus cari terobosan, salah satu jalan ada ambulans udara, bahkan nanti juga tim dokter terbang," kata Prabowo, Presiden Republik Indonesia.
Sementara itu, Mensesneg Prasetyo Hadi membeberkan bahwa masalah mendasar layanan kesehatan nasional dipicu oleh ketimpangan distribusi serta minimnya jumlah tenaga medis, khususnya dokter spesialis dan dokter gigi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 60 persen atau 6.000 dari total 10.000 Puskesmas di Indonesia saat ini belum memiliki dokter gigi.
"Jadi hasil cek kesehatan gratis, salah satu datanya yang tertinggi penyakit atau masalah kesehatan yang dihadapi rakyat kita adalah salah satunya dokter gigi. Nah, problemnya adalah profesi dokter, apalagi kalau bicaranya dokter spesialis atau dokter gigi, itu bukanlah profesi yang mudah untuk dicapai atau diraih karena membutuhkan individu-individu yang betul-betul memiliki kemampuan di atas rata-rata. Nah, itu kalau kita bicara dari sisi jumlah kekurangan," kata Pras, Menteri Sekretaris Negara.
Guna menutup celah kekurangan tersebut, pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas lembaga pendidikan kedokteran sembari merancang armada layanan medis bergerak.
"Nah, kemudian kalau kita bicara lantas bagaimana cara mengatasinya kan? Maka kan ada beberapa hal, satu sumber daya calon dokternya, yang kedua lembaga pendidikan untuk mendidik dokternya. Karena menjadi dokter itu tidak mudah ya, sampai bisa praktik itu rata-rata dibutuhkan enam sampai tujuh tahun," kata Pras, Menteri Sekretaris Negara.
Masa pendidikan dokter yang membutuhkan waktu lama membuat pemerintah mengambil langkah paralel untuk mengatasi permasalahan darurat di lapangan.
"Nah, itu yang menjadi pekerjaan rumah kita, maka kemudian kita berusaha keras untuk mencari terobosan-terobosan atau cara-cara bagaimana bisa mengatasi kesulitan rakyat sambil secara paralel proses-proses kita melahirkan dokter-dokter baru sesuai dengan yang kita butuhkan dapat terpenuhi gitu. Dari 10.000 Puskesmas yang kita miliki, Menteri Kesehatan melaporkan, contoh saja, ini dokter gigi, itu hanya tersedia di kurang lebih 40 persennya. Jadi 60 persen atau kurang lebih 6.000 Puskesmas kita itu tidak atau belum memiliki dokter gigi," kata Pras, Menteri Sekretaris Negara.
Prasetyo memaparkan bahwa skema dokter terbang dirancang selayaknya konsep dokter keliling untuk menjangkau pulau-pulau serta wilayah terluar yang belum memiliki fasilitas kesehatan memadai.
"Kira-kira konsepnya sebenarnya mirip dengan yang dokter keliling atau mobile dentist car tadi. Nah, kenapa kemudian muncul juga ide mengenai dokter terbang, istilah terbang itu karena dalam beberapa kali kesempatan kita berkeliling ke seluruh wilayah di Indonesia memang negara kita sangat luas ya, jangkauan fasilitasnya belum merata, maka kemudian kan kemarin juga disampaikan target pemerintah secepat-cepatnya ini untuk bisa memperbaiki seluruh Puskesmas kita, memperbaiki RSUD-RSUD kita dengan harapan memperpendek baik jarak maupun waktu terhadap pelayanan kesehatan kepada rakyat kita yang di tempat yang paling jauh," kata Pras, Menteri Sekretaris Negara.
Selain menyiagakan dokter terbang, skema ambulans udara berkecepatan tinggi juga disiapkan sebagai unit respons cepat penanganan pasien kritis.
"Nah, dari situlah sebenarnya muncul gagasan atau ide, dan di banyak negara memang juga tidak kemudian sudah menyeluruh ya, di beberapa negara, di beberapa wilayah itu juga menerapkan hal yang sama untuk unit reaksi cepat kesehatan itu juga ada yang berbasis helikopter. Itu untuk melakukan penanganan dengan jauh lebih cepat khusus di daerah-daerah yang terpencil. Tidak juga kemudian seluruh desa atau seluruh kelurahannya kemudian ada moda transportasi udaranya kan tidak selalu seperti itu," kata Pras, Menteri Sekretaris Negara.
Pemerintah memastikan pembenahan sektor kesehatan serta percepatan penerimaan mahasiswa kedokteran baru di berbagai perguruan tinggi sedang berjalan secara simultan.
"Jadi mohon izin juga untuk apa namanya tidak memperbanding-bandingkan kenapa menangani ini dulu atau ini dulu. Semuanya kita coba kerjakan sesuai dengan tentu saja ya sesuai memang dengan kemampuan kita sesuaikan. Manakala kita mampu sesungguhnya kita menghendaki semuanya bisa kita selesaikan dalam waktu yang secepat-cepatnya," kata Pras, Menteri Sekretaris Negara.
Pelaksanaan program terobosan ini akan direalisasikan bertahap seiring penambahan kuota pendidikan calon dokter dan kesiapan armada transportasi udara.
"Jadi kalau pertanyaannya kapan dilakukan, semua sedang dikerjakan ya. Termasuk tadi yang saya cerita mengenai proses pendidikan untuk mencetak dokter-dokter itu kan juga sudah dilakukan beberapa tempat di beberapa fakultas kedokteran sudah mulai mempercepat proses itu, termasuk menambah jumlah apa namanya mahasiswa atau kuota penerimaan untuk calon-calon dokter," kata Pras, Menteri Sekretaris Negara.