Pemerintah Pastikan Harga BBM Subsidi Tetap di Tengah Tekanan Rupiah
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite dan Solar tidak akan naik hingga akhir tahun di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang hampir menyentuh Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan Jumat (29/5/2026).
Langkah ini diambil pemerintah seiring dengan jaminan bahwa cadangan operasional BBM nasional saat ini berada dalam kondisi aman pada rentang rata-rata 20 hingga 23 hari.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan fluktuasi harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang berada di kisaran rata-rata US$80-81 per barel sejak Januari hingga Mei 2026 masih terkendali.
"Kalau sampai sekarang itu ICP dunia itu kan naik turun, naik turun 117, turun 90, ada yang 80 lebih, ada yang 100. Rata-rata ICP kita sekarang itu kan kurang lebih sekitar US$ 80, 80-81 terhitung dari Januari sampai sekarang," ujar Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Pemerintah berkomitmen untuk mempertahankan nilai subsidi energi demi menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global.
"Jadi belum sampai US$ 100 lah, dan belum ada kenaikan, tidak akan naik Insyaallah ya doain ya, tidak akan kita naikkan subsidi BBM," sambung Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas kilang dan mendorong produksi minyak di dalam negeri menjadi strategi utama untuk menekan dampak gejolak kurs rupiah.
"Jadi untuk kenaikan harga BBM yang untuk subsidi, ini kan sudah disampaikan dan ini menurut perhitungan kita kan ada produksi dalam negeri yang kita dorong itu peningkatan. Kilang di dalam negeri pun itu juga kita juga sudah siapkan," ujar Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM.
Terkait sektor kelistrikan, pemerintah mengoptimalkan program energi terbarukan seperti pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.
"Berarti ini ada penguatan kelistrikan juga karena dari energi baru terbarukan itu juga tidak ada dampak terhadap ini kebutuhan BBM dan juga terkait dengan pengadaan gasnya. Justru ini lebih andal dan juga ini kita mengurangi penggunaan (energi fosil) dan juga ya walaupun ada fluktuasi Rupiah ini tidak akan terganggu ketersediaan energi listrik khususnya," ujar Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM.
Kementerian ESDM juga melaporkan bahwa stok komoditas Pertalite serta solar CN48 nasional saat ini berada jauh di atas ambang minimal yang dipersyaratkan.
"Kalau untuk ketersediaan BBM, ini kan kita ada indikator ketersediaan cadang operasional minimal. Ini cadangan minimal kita, cadangan yang ada saat ini jauh di atas cadangan minimal," ungkap Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM.
Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip detikfinance, mata uang rupiah tertekan hingga menyentuh level Rp17.902 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026) pukul 14.11 WIB setelah sempat dibuka pada posisi Rp17.820.
Di sisi lain, harga BBM nonsubsidi di sejumlah SPBU tercatat mengalami penyesuaian berkala sepanjang Mei 2026 akibat fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Dilansir dari Bisnis.com dan Kompas.com, berikut adalah daftar harga BBM yang berlaku per 31 Mei 2026 sebelum penyesuaian untuk bulan Juni:
| Jenis BBM | Pertamina | BP AKR | Vivo | Shell |
|---|---|---|---|---|
| Pertalite | 10.000 | – | – | – |
| Solar Subsidi | 6.800 | – | – | – |
| RON 92 | 12.300 – 12.900 | 12.390 | 12.390 | – |
| RON 95 | 12.900 | 12.930 | – | – |
| RON 98 | 19.900 | – | – | – |
| BBM Diesel | 26.000 – 27.900 | 29.890 | 30.890 | 30.890 |
Pertamina Patra Niaga mencatat perbedaan harga produk nonsubsidi seperti Pertamax dipengaruhi oleh faktor biaya logistik serta distribusi di masing-masing wilayah di Indonesia.