Pemerintah Pangkas Bea Masuk Impor LPG dan Plastik Jadi Nol Persen

Share

Kebijakan mengenai pemberian insentif tarif bea masuk impor gas petrolium cair atau liquified petroleum gas (LPG) akan segera diterbitkan oleh Kementerian Keuangan. Langkah strategis ini diambil pemerintah untuk meredam lonjakan harga komoditas yang melambung akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Dikutip dari Bloombergtechnoz, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengonfirmasi bahwa penghapusan tarif bea masuk tersebut direncanakan guna menekan harga jual di tingkat konsumen. Tidak hanya berfokus pada bahan bakar, kebijakan fiskal ini juga dirancang untuk melindungi industri hilir domestik dari tekanan harga bahan baku global.

"Semua komoditas yang berbasis minyak, harganya berubah. Salah satu kan plastik dibuat dari nafta. Salah satu dibolehkan untuk impor LPG dengan bea masuk 0%. Nah ini sedang dalam proses di Kementerian Keuangan," kata Airlangga kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (22/5/2026).

Kenaikan harga nafta yang merupakan produk olahan minyak bumi berimbas langsung pada melonjaknya biaya produksi plastik di dalam negeri. Oleh karena itu, insentif pembebasan bea masuk ini diproyeksikan berlaku selama enam bulan ke depan untuk menjaga stabilitas harga produk plastik di pasar domestik.

Melalui implementasi regulasi baru ini, komoditas impor LPG yang semula dikenakan tarif sebesar 5% akan dibebaskan sepenuhnya mulai Mei 2026. Pemerintah juga memperluas cakupan fasilitas bebas tarif ini ke sejumlah material penting industri plastik, seperti polipropilena (PP), polietilena (PE), Linear Low-Density Polyethylene (LLDPE), dan High-Density Polyethylene (HDPE).

"Seluruhnya diberikan bea masuk 0%, namun ini diberi periode dalam enam bulan. Nanti kita lihat situasi sesudah enam bulan seperti apa,” ujar Airlangga, belum lama ini.

Tingginya volume impor gas di Indonesia menjadi latar belakang utama dikeluarkannya stimulus fiskal ini. Kapasitas produksi dalam negeri saat ini dinilai belum mampu mengimbangi laju permintaan pasar domestic yang terus tumbuh sejak program konversi energi massal beberapa tahun lalu.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sempat mengungkapkan konsumsi LPG Indonesia mencapai 8,6 juta ton per tahun, dari besaran tersebut produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6–1,7 juta ton. Oleh sebab itu, sekitar 7 ton sisanya harus dipasok dari impor.

“Selebihnya kita impor kurang lebih sekitar 7 juta. Dan ini terjadi sejak konversi daripada minyak tanah ke LPG,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (27/4/2026).

“Saya juga melaporkan bahwa untuk LPG ini kita putar otak terus. Hampir tiap malam tidak kita istirahat, kita mengkaji sumber-sumber LPG-nya," lanjut dia.

Statistik Pasokan dan Negara Asal Impor

Ketergantungan pada pasokan luar negeri terlihat kian dominan berdasarkan laporan berkala otoritas energi. Mayoritas kebutuhan bahan bakar gas rumah tangga maupun industri di Indonesia dipenuhi oleh mitra dagang dari berbagai kawasan global.

Dalam data Ditjen Minerba, dijelaskan bahwa kebutuhan LPG sepanjang Januari—Februari 2026 mencapai 26.000 metrik ton per hari. Secara keseluruhan, sepanjang periode tersebut kebutuhan LPG mencapai 1,56 juta metrik ton. Dari besaran itu, sekitar 1,31 juta ton atau 83,97% pasokan LPG didapatkan dari impor dan produksi dalam negeri hanya sebesar 130.000 metrik ton.

Berdasarkan wilayah asal negara pengirim, porsi pasokan terbesar hingga awal kuartal kedua dikuasai oleh Amerika Serikat, disusul oleh sejumlah negara Timur Tengah dan Australia yang mengisi sisa kebutuhan nasional.

Berdasarkan negaranya, impor LPG yang dilakukan Indonesia sampai 1 April 2026 mayoritas didatangkan dari Amerika Serikat (AS), dengan porsi sebesar 68,91% dari total impor. Posisi kedua, ditempati oleh Uni Emirat Arab (UEA) dengan porsi impor sebesar 11,83% dari total impor. Berikutnya, merupakan Arab Saudi dengan total impor sebesar 7,36% dari total impor. Keempat, Qatar dengan porsi impor 5,21% dari total impor. Lalu, Australia dengan porsi impor 3,81% dari total impor. Selanjutnya, 2,61% impor LPG didatangkan dari Kuwait.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author