Pemerintah Pacu Strategi Ekonomi Demi Pertumbuhan 8 Persen
Pemerintah Indonesia mengambil langkah agresif untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak pasar global. Langkah ini dibarengi percepatan pelaksanaan berbagai kebijakan prioritas kepemimpinan Presiden, sebagaimana dikutip dari Detik Finance.
Upaya memperkokoh sektor strategis tersebut mencakup peningkatan nilai tambah sumber daya alam dan penguatan arus investasi. Selain itu, transformasi kelembagaan BUMN serta pembentukan sektor pertumbuhan baru turut didorong secara masif.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan bahwa serangkaian strategi ini dirancang demi menjaga ritme ekspansi ekonomi tetap positif bagi masyarakat.
"Pemerintah terus memastikan momentum pertumbuhan ekonomi nasional tetap menjaga melalui penguatan fundamental ekonomi dan percepatan kebijakan prioritas. Berbagai langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat investasi, serta menciptakan sumber pertumbuhan baru," ungkap Haryo pada keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).
Arah kebijakan tersebut dinilai vital mengingat lanskap ekonomi dunia masih dibayangi konflik geopolitik, krisis energi, restriksi perdagangan, dan tantangan pembiayaan. Di tengah eskalasi risiko global, fondasi ekonomi domestik Indonesia justru membukukan performa solid.
Laju pertumbuhan ekonomi nasional berhasil menyentuh angka 5,45 persen pada Semester I-2026. Tingkat inflasi domestik juga terkendali pada level 2,88 persen, sementara realisasi investasi mencetak rekor lonjakan 7,2 persen secara tahunan hingga menembus Rp1.010,6 triliun.
Akselerasi program hilirisasi dan integrasi rantai pasok dalam negeri menjadi motor utama penggerak. Sampai 2026, pemerintah telah meresmikan groundbreaking untuk 26 proyek strategis. Proyek tersebut meliputi pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME), hilirisasi tembaga, emas, alumina menjadi aluminium, garam industri, hingga konversi sampah menjadi energi.
Tata kelola komoditas bernilai tinggi juga diperkuat melalui kehadiran Bank Emas serta pengoptimalan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Fasilitas Bank Emas yang dikelola oleh Pegadaian bersama Bank Syariah Indonesia (BSI) tercatat mengimpun 153 ton emas dengan estimasi nilai kelolaan mencakup Rp360 triliun atau setara USD 20 miliar.
Di sisi lain, PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sukses mengelola DHE sebesar USD 14 miliar dari tiga komoditas utama hanya dalam kurun waktu 2 bulan 13 hari operasional. Perusahaan ini juga memantau lebih dari 6.500 transaksi ekspor guna mencegah penyimpangan seperti under invoicing dan transfer pricing.
Langkah pembenahan juga menyasar efisiensi kelembagaan BUMN. Pemerintah memangkas 290 entitas dari total 1.074 perusahaan pelat merah beserta anak cucunya, dengan target akhir menyusutkan jumlah entitas menjadi 300 perusahaan saja.
Restrukturisasi massal ini berdampak positif pada profitabilitas BUMN, di mana perolehan laba bersih melonjak tajam 75,3 persen dari Rp186 triliun pada 2024 menjadi Rp326 triliun pada 2025.
Menjelang tahun 2027, sepuluh transformasi dorongan besar disiapkan demi meningkatkan daya saing nasional. Agenda perbaikan infrastruktur publik ini mencakup renovasi 10.000 Puskesmas, revitalisasi 441 RSUD, perbaikan sekolah, pendirian Bursa Komoditas Indonesia, serta optimalisasi aset-aset BUMN.
Pemerintah juga merancang proyek energi dan keuangan, meliputi pengembangan 100 gigawatt (GW) energi surya, Pusat Finansial Internasional di Bali, Danantara Development Management Fund, percepatan elektrifikasi mobilitas, hingga penyusunan kebijakan dwi-kewarganegaraan.
Seluruh agenda terstruktur ini difokuskan untuk mengakselerasi tingkat pertumbuhan ekonomi nasional agar mampu menembus target 8 persen.
"Berbagai agenda transformasi yang disiapkan untuk 2027 merupakan bagian dari upaya Pemerintah membangun sumber pertumbuhan baru yang lebih produktif dan berkelanjutan. Melalui penguatan sektor strategis dan peningkatan daya saing, Pemerintah ingin memastikan pertumbuhan ekonomi semakin tinggi sekaligus semakin inklusif," pungkas Haryo.