Pemasaran Digital Produk Pengganti ASI Ancam Praktik Menyusui

Share

Iklan yang dipersonalisasi dan rekomendasi influencer di media sosial kian memengaruhi keputusan para ibu dalam memberikan air susu ibu (ASI). Dikutip dari HaiBunda, algoritma platform digital membuat promosi produk pengganti ASI makin sering muncul di hadapan ibu hamil dan ibu baru.

Situasi ini memicu kecemasan para ahli kesehatan. Informasi seputar pemberian ASI kini sering bercampur dengan promosi komersial yang belum teruji secara ilmiah, padahal ASI memegang peranan krusial bagi tumbuh kembang anak.

Menjelang Pekan Menyusui Sedunia pada 1-7 Agustus, Pan American Health Organization (PAHO) meminta negara-negara di kawasan Amerika memperketat perlindungan keluarga dari gempuran promosi digital produk pengganti ASI.

Penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) mempermudah produsen menampilkan iklan yang disesuaikan dengan profil pengguna. Kepala Unit Faktor Risiko PAHO, Vanessa Garcia Larsen, menegaskan bahwa menyusui merupakan langkah paling efektif untuk memulai kehidupan anak yang sehat.

"Melindungi praktik menyusui di era digital juga berarti melindungi keluarga dari pengaruh pemasaran komersial yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan," kata Vanessa Garcia Larsen.

Data PAHO mencatat cakupan ASI eksklusif selama enam bulan pertama di Amerika Latin dan Karibia baru mencapai 43 persen. Capaian tersebut masih jauh dari target global sebesar 60 persen pada tahun 2030, dengan maraknya pemasaran digital disinyalir sebagai salah satu pemicunya.

Strategi Pemasaran Berpindah ke Media Sosial

Peneliti dari Institute of Nutrition of Central America and Panama (INCAP), Mónica Mazariegos, menyebutkan lebih dari 80 persen promosi produk susu formula kini telah beralih ke ranah digital.

Paparan iklan yang masif dan dipersonalisasi tersebut berkolerasi dengan peningkatan pembelian produk pengganti ASI oleh orang tua. Riset di Amerika Tengah bahkan menunjukkan paparan iklan digital berkaitan dengan penurunan hampir 50 persen keberlanjutan pemberian ASI setelah bayi berusia di atas 12 bulan.

Menanggapi temuan ini, para pakar mendesak pembaruan regulasi agar pengawasan mencakup media sosial, kreator konten, hingga influencer. Selain pembatasan iklan digital dan transparansi data, PAHO menekankan pentingnya penguatan layanan konseling laktasi serta edukasi keluarga secara obyektif.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author