Pelajaran Pengambilan Keputusan Efisien dari Perilaku Serangga
Kemampuan berpikir kompleks manusia tidak selalu menjamin lahirnya pilihan yang tepat. Dalam berbagai situasi, manusia sering kali mengalami kekeliruan saat menentukan keputusan terbaik.
Dikutip dari Detikcom, pelajaran mengenai tata cara mengambil keputusan yang efisien justru dapat dipelajari dari serangga seperti semut, lebah madu, dan kecoak. Meski berotak kecil, mereka mampu menyelesaikan persoalan kelompok secara kolektif.
Perilaku kolektif ini bahkan telah menginspirasi lahirnya berbagai algoritma di bidang transportasi hingga telekomunikasi.
Saat dihadapkan pada terlalu banyak pilihan, manusia kerap mengalami situasi yang dikenal sebagai choice overload. Masalah serupa juga dihadapi koloni semut ketika menentukan lokasi sumber makanan baru.
Untuk mengatasinya, kelompok semut mula-mula mengutus beberapa individu menjelajah secara acak. Langkah ini dilakukan guna menjaga seluruh jalur pencarian tetap terbuka. Sambil berjalan, semut-semut tersebut akan meninggalkan jejak feromon di tanah.
Semut yang menemukan makanan di lokasi terdekat akan kembali ke sarang lebih cepat. Aktivitas bolak-balik yang semakin padat membuat jejak feromon pada jalur tersebut menjadi jauh lebih kuat.
Seiring berjalannya waktu, jejak feromon di jalur yang tidak efisien akan menguap dan memudar. Koloni pun akhirnya berhasil menemukan rute paling efisien tanpa ada satu individu yang mengontrol keputusan tersebut secara terpusat.
Co-director laboratorium kecerdasan buatan di Université Libre de Bruxelles Belgia, Marco Dorigo, menjelaskan bahwa interaksi sederhana antar-individu dengan informasi terbatas ini mampu menyelesaikan masalah koordinasi yang sangat rumit.
Mekanisme ilmiah ini kemudian menginspirasi pembentukan ant colony optimisation. Algoritma ini dimanfaatkan manusia untuk mengatur sistem logistik, transportasi, hingga perencanaan jaringan kereta api dan pengoptimalan jaringan komunikasi melalui AntNET.
Komunikasi Lebah Madu Melalui Tarian
Lebah madu menerapkan strategi yang hampir mirip dengan semut ketika harus memilih lokasi sarang baru. Utusan lebah pencari dikirim untuk mengeksplorasi berbagai tempat potensial.
Perbedaannya terletak pada cara penyampaian informasi. Lebah pencari yang kembali ke sarang akan melakukan gerakan khusus berupa tarian goyang atau waggle dance.
Melalui gerakan tubuh yang ritmis, lebah menyampaikan detail informasi terkait jarak, ukuran, posisi, hingga tingkat keamanan lokasi. Semakin bagus kualitas tempat tersebut, semakin kuat dan lama tarian yang dibawakan.
Lebah lain kemudian dikirim untuk mengecek lokasi yang direkomendasikan. Ketika dukungan lebah mencapai jumlah kuorum tertentu, seluruh koloni akan bergerak bersama menuju lokasi baru tersebut. Proses ini menyerupai sistem pengambilan keputusan berbasis dukungan mayoritas.
Keberagaman Karakter Kecoak Mempercepat Keputusan
Prosedur pengambilan keputusan pada kelompok manusia kerap kali terhambat oleh keberadaan individu berkarakter dominan. Namun, penelitian pada kecoak justru menunjukkan hasil yang berbeda.
Asisten profesor di Tokyo Metropolitan University Jepang, Isaac Planas-Sitjà, melakukan simulasi komputer untuk mengamati kecoak saat memilih tempat berlindung di area gelap.
Penelitian tersebut membandingkan kelompok kecoak dengan karakter yang seragam serta kelompok dengan tingkat keberagaman perilaku yang tinggi.
Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok dengan variasi karakter yang tinggi justru mampu menetapkan keputusan kolektif secara lebih cepat akibat tingginya interaksi sosial.
Planas-Sitjà mengungkapkan kekagetannya atas pola jelas yang muncul dari penelitian tersebut, dilansir dari Detikcom. Kelompok yang seluruh individunya terlalu berani akan terus bergerak sehingga sulit menetapkan lokasi.
Sebaliknya, kelompok yang didominasi individu pemalu berisiko memilih tempat berlindung yang kualitasnya kurang baik. Keseimbangan antara keberagaman perilaku dan kerja sama menjadi faktor kunci lahirnya keputusan kelompok yang berkualitas.