Pekerja di Negara Miskin Habiskan Waktu Kerja Lebih Lama
Masyarakat yang tinggal di negara berpenghasilan rendah menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja setiap tahunnya. Fenomena ini kontras dengan situasi di negara makmur, di mana warganya cenderung memiliki waktu kerja yang lebih singkat.
Perbedaan tingkat kesejahteraan ini berdampak langsung pada durasi kerja. Pekerja di negara miskin sering kali harus menghadapi hari kerja yang lebih panjang serta jatah libur yang lebih sedikit.
Seperti dilansir dari HaiBunda yang mengutip data Our World in Data, ketimpangan ekonomi global saat ini sangat mencolok. Penduduk Swiss, sebagai salah satu negara terkaya, memiliki pendapatan rata-rata yang lebih dari 15 kali lipat dibandingkan penduduk Kamboja.
Data menunjukkan bahwa negara dengan PDB per kapita terendah, seperti Kamboja dan Myanmar, justru mencatat jam kerja tertinggi. Di Kamboja, seorang karyawan rata-rata bekerja sekitar 2.500 jam per tahun.
Angka tersebut menunjukkan selisih yang besar jika dibandingkan dengan Swiss. Pekerja di Swiss menghabiskan waktu kurang dari 1.600 jam setahun, yang berarti ada perbedaan sekitar 900 jam di antara kedua negara.
Penurunan jam kerja secara drastis sebenarnya telah terjadi di berbagai belahan dunia dalam 150 tahun terakhir sejak revolusi industri. Seiring meningkatnya pendapatan, masyarakat memiliki kemampuan untuk membeli lebih banyak hal, termasuk waktu luang.
Tingginya produktivitas menjadi faktor utama yang memungkinkan pekerja di negara kaya bekerja lebih sedikit. Produktivitas berkaitan dengan kemampuan menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar dalam durasi yang sama.
Pemanfaatan teknologi modern mendukung efektivitas kerja, sehingga hasil yang diperoleh tetap maksimal meski waktu kerja tidak diperpanjang. Sebaliknya, pekerja di negara dengan produktivitas rendah harus bekerja lebih lama untuk mencapai hasil yang setara.
Kemajuan teknologi, penggunaan mesin, serta metode kerja yang efisien sangat memengaruhi hubungan antara pendapatan tinggi dan singkatnya jam kerja. Sektor pertanian menjadi salah satu contoh nyata pergeseran ini.
Proses produksi pangan kini menjadi jauh lebih efisien berkat bantuan mesin dan bibit unggul dibandingkan masa lalu yang mengandalkan banyak tenaga fisik. Di sisi lain, pembatasan jam kerja yang seimbang juga terbukti menjaga konsentrasi dan performa pekerja tetap optimal.