PDIP Tanggapi Kritik PSI Terkait Komentar Terhadap Joko Widodo
Pengurus DPP PDI Perjuangan (PDIP) memberikan tanggapan keras terhadap kritik Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengenai intensitas komentar PDIP terhadap mantan Presiden Joko Widodo, seperti dilansir dari Detikcom pada Minggu (5/7/2026).
Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus menilai PSI lebih sering melontarkan pernyataan sensasional demi kepentingan elektoral daripada menyuarakan isu-isu rakyat.
"Perasaan nggak pernah kedengaran tuh suara PSI (kritisi isu rakyat), sibuk nyeret-nyeret PDI Perjuangan saja. Rakyat sudah bosan dengan gimmick PSI," kata Deddy Sitorus, Ketua DPP PDIP.
Deddy menyatakan pihaknya masih menunggu sikap kritis dari partai tersebut mengenai berbagai persoalan publik yang sedang terjadi.
"Sudahlah rakyat juga tahu mereka cuma bikin sensasi buat pansos elektoral," ujar Deddy Sitorus, Ketua DPP PDIP.
Dia menambahkan bahwa ada banyak persoalan krusial lain yang semestinya menjadi perhatian partai tersebut.
"Ditunggu suaranya soal tuntutan mahasiswa, kasus suap Bupati Kuansing dan soal-soal lain yang terkait dengan rakyat," sambung Deddy Sitorus, Ketua DPP PDIP.
Di sisi lain, Politikus PDIP Guntur Romli menyoroti pernyataan PSI mengenai target politik di Jawa Tengah dan meminta partai tersebut tidak bersikap jemawa karena hasil Pemilu 2024 belum menunjukkan kekuatan signifikan.
"PSI jangan terlalu sombong, Jokowi memaksakan keliling artinya PSI sangat lemah, kalau PSI kuat Jokowi pastinya cuma istirahat dan santai-santai saja. Safari politik itu juga pengalihan isu dari Sekjen PSI yang mengaku menerima duit dari Bupati Kuansing yang baru dikembalikan 10 hari kemudian," kata Guntur Romli, Politikus PDIP.
Guntur juga menuntut penegakan hukum yang transparan dan adil dari Komisi Pemberantasan Korupsi terkait kasus hukum yang menyeret petinggi partai tersebut.
"KPK harus jangan tebang pilih masa butuh 10 hari baru dikembalikan, itu tidak menggugurkan peristiwa pidana, juga terhadap Ketua Harian PSI Ahmad Ali yang rumahnya sudah digeledah, duit miliaran disita tapi sampai saat ini aman-aman saja," imbuh Guntur Romli, Politikus PDIP.
Menurutnya, ambisi politik PSI untuk menguasai basis suara PDIP di Jawa Tengah dinilai kurang realistis mengingat performa pemilu sebelumnya.
"Itu bentuk kesombongan saja, bukan pernyataan yang perlu ditanggapi, apalagi dikhawatirkan, kalau PSI itu parpol nomor dua di 2024, terus bilang mau rebut kandang Banteng, itu lebih masuk akal," kata Guntur Romli, Politikus PDIP.
Guntur mengingatkan kegagalan partai tersebut menembus parlemen meskipun telah mendapatkan dukungan penuh dari kekuasaan saat itu.
"PSI 2024 aja gagal masuk parlemen, meski didukung penuh oleh Jokowi yang waktu itu masih presiden, dengan tagline PSI Partai Jokowi, pasang foto Jokowi di semua baliho, jadi presiden saja Jokowi gagal meloloskan PSI, apalagi tidak jadi presiden. PSI jangan sombong," imbuh Guntur Romli, Politikus PDIP.
Saling silang komentar ini bermula dari keheranan Ketua DPP PSI Bestari Barus terhadap anggota DPR RI dari fraksi PDIP yang dianggapnya lebih fokus mengomentari aktivitas Joko Widodo daripada menjalankan fungsi kedewanan.
"Iya, harap maklum saja. Saya juga heran gitu. Kenapa para anggota DPR RI PDIP ini lebih senang mengomentari PSI dan Pak Jokowi ketimbang bekerja untuk rakyat, gitu.
Dan berapa anggota dewan tuh Hugua, Deddy Sitorus. Apa di PDIP tuh enggak ada kerjaan lain apa ya?" kata Bestari Barus, Ketua DPP PSI pada Sabtu (4/7).
Bestari menilai tindakan PDIP tersebut bertolak belakang dengan status keanggotaan Joko Widodo yang disebut telah dikeluarkan dari partai.
"Selain menanggap-nanggapi yang katanya mereka sudah keluarkan dari PDIP, sudah enggak peduli tapi bohong, gitu. Dan masyarakat umum melihatnya sebagai ya, lawak-lawak saja ini partai PDI Perjuangan ini," ujar Bestari Barus, Ketua DPP PSI.
Dia menyayangkan narasi yang berkembang dan menganggap pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh kubu lawan politiknya cenderung tidak wajar.
"Makin ke sini makin jadi tukang lawak, gitu. Ya, seperti itu ya dimaklumi sajalah buat meramai-ramaikan mereka supaya kelihatan ada omongan kan, gitu. Kita sih udah enggak berharap mereka mengomentari.
Iya toh? Ya yang disampaikan juga aneh," lanjut Bestari Barus, Ketua DPP PSI.