Pasar Obligasi Pemerintah Alami Aksi Beli Kembali Imbas Rupiah Melemah

Share

Aksi beli kembali berlanjut di pasar obligasi pemerintah Indonesia pada perdagangan Rabu (17/6/2026) siang dipicu oleh meredanya tekanan domestik serta pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat terjadi selama lima hari terakhir.

Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir dari Bloombergtechnoz pada pukul 12:04 WIB, pergerakan imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) terpantau mengalami penurunan di berbagai tenor. Penurunan paling signifikan melanda tenor acuan 10 tahun yang merosot sebesar 53 basis poin (bps) hingga kembali menyentuh level 6,88%.

Tren penurunan yield juga terjadi pada obligasi tenor 4 tahun sebesar 39,4 bps ke level 6,92%, tenor 3 tahun yang turun 39,4 bps ke posisi 6,92%, serta tenor 5 tahun yang melemah 8,4 bps menjadi 6,87%. Pergerakan yield tenor jangka pendek turut menyusut, dengan tenor 1 tahun turun 6,6 bps ke level 7,15% dan tenor 2 tahun turun 3,5 bps ke angka 7,03%.

Derasnya arus modal masuk ke pasar obligasi domestik diindikasikan oleh penurunan imbal hasil yang meluas pada tenor pendek hingga menengah ini. Situasi tersebut terjadi setelah pemerintah menempuh berbagai upaya untuk meredam kekhawatiran pelaku pasar terkait masalah fiskal, termasuk menyusun rencana penyesuaian anggaran program prioritas serta menerapkan kebijakan kenaikan suku bunga yang agresif.

Faktor eksternal seperti meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran juga ikut memicu penurunan harga energi dunia, yang pada gilirannya memulihkan selera risiko atau risk appetite investor global terhadap aset-aset di negara berkembang.

Meskipun demikian, pergerakan imbal hasil yang belum turun secara merata menunjukkan bahwa para pelaku pasar masih berada dalam fase kehati-hatian. Beberapa seri obligasi tercatat masih bertahan di level 7% akibat mengalami kenaikan yield.

Kenaikan tersebut menimpa tenor 8 tahun sebesar 2,6 bps menjadi 7,01%, tenor 12 tahun naik 0,6 bps ke level 7,54%, tenor 13 tahun meningkat 6,1 bps ke posisi 7,48%, dan tenor 15 tahun menguat 1,5 bps ke angka 7,44%. Peningkatan yield pada tenor menengah-panjang ini memperlihatkan bahwa investor cenderung meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk memegang obligasi jangka panjang.

Sikap menunggu dan melihat atau wait and see dari pelaku pasar dipengaruhi oleh penantian terhadap arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, keputusan Federal Reserve, perkembangan inflasi domestik setelah kenaikan harga BBM non-subsidi, hingga kepastian keberlanjutan arus modal asing ke depan.

Di sisi lain, pasar obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS atau INDON juga diwarnai aksi beli dengan penurunan yield yang terbatas, di mana tenor 2 tahun turun 0,3 bps ke 4,13%, tenor 5 tahun turun 1,1 bps ke 4,77%, dan tenor 10 tahun turun 0,1 bps ke 5,4%. Sementara itu, US Treasury tenor 10 tahun mencatat penurunan yield sebesar 1 bps ke level 4,43%, sehingga spread yield dengan obligasi pemerintah Indonesia masih bertahan pada jarak yang wajar di level 97 bps.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author