Pasar Minyak Global Banjir Pasokan Akibat Kesepakatan AS dan Iran

Share

Pasar minyak fisik global di wilayah Eropa dan Asia dilaporkan mendadak dibanjiri oleh pasokan kargo yang melimpah. Lonjakan arus pengiriman ini terjadi setelah tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kondisi kelebihan pasokan sebenarnya sudah mulai terbentuk bahkan sebelum kesepakatan tersebut resmi disepakati.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, kombinasi dari pelepasan cadangan minyak strategis, penurunan permintaan dari China, serta aktivitas kapal tanker yang keluar secara diam-diam dari Teluk Persia menjadi pemicu utamanya. Dampak dari situasi ini langsung memukul harga komoditas di berbagai wilayah. Salah satu penurunan paling signifikan terjadi pada minyak mentah asal Angola yang biasanya menjadi andalan ekspor ke pasar China.

Jenis minyak tersebut kini terpaksa dijual dengan potongan harga terbesar dalam waktu lebih dari sepuluh tahun terakhir. Nilai perdagangannya bahkan sempat menyentuh angka hampir US$10 per barel di bawah harga patokan Dated Brent global.

Perubahan drastis ini menandai pembalikan kondisi pasar yang awalnya sangat ketat menjadi surplus dalam kurun waktu beberapa bulan saja. Sejak pertengahan bulan, minyak mentah Timur Tengah mulai diperdagangkan dalam struktur contango bearish yang mengonfirmasi kejenuhan pasar. Tekanan harga kian terasa setelah patokan Brent global merosot di bawah US$75 per barel pada Rabu (24/6/2026). Ini menjadi level terendah sejak konflik bersenjata di wilayah tersebut pertama kali pecah.

"Anda sebenarnya mendapatkan diskon untuk membeli satu barel sekarang dibandingkan dengan satu barel besok karena melemahnya permintaan Asia terhadap jenis minyak Timur Tengah," kata Daan Struyven, salah satu kepala komoditas global di Goldman Sachs Group Inc., dalam sebuah wawancara di Bloomberg TV. Daan Struyven juga menambahkan bahwa proses pembukaan kembali jalur perdagangan tersebut berjalan dengan sangat baik dan cepat. Padahal pada awal April lalu, harga Dated Brent sempat menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah di atas US$140 per barel akibat aksi beli panik.

Kini, indikator harga fisik tersebut telah merosot hampir separuhnya dan kembali ke level awal perang. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan memproyeksikan surplus pasokan ini masih akan mendominasi dan diperkirakan terus berlanjut hingga tahun 2027. Upaya normalisasi jalur Selat Hormuz ini sebagian besar menguras persediaan yang ada di kawasan Teluk.

Sebelum kesepakatan damai sementara ditekan, jutaan barel minyak dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait sudah mulai mengalir keluar dengan bantuan militer AS. IEA mencatat ekspor total minyak UEA telah mencapai hampir 85% dari level sebelum perang pada awal Juni. Dalam beberapa pekan terakhir, UEA juga melepas sekitar 60 juta barel minyak mentah Teluk Persia melalui mekanisme tender.

Kondisi ini memaksa jutaan barel minyak yang semula ditujukan untuk pasar Asia dialihkan menuju Eropa. Laporan pelacakan kapal menunjukkan setidaknya ada enam kapal tanker super yang mengangkut total 12 12 juta barel minyak dari UEA dan Oman menuju Eropa bulan depan.

Selain itu, Iran tercatat telah mengirimkan 30 juta barel minyak ke Asia tepat sebelum AS menerbitkan lisensi penjualan darurat selama 60 hari. Perusahaan besar seperti Bahri asal Arab Saudi juga mulai aktif mengeluarkan pasokan yang sempat tertahan.

Kerentanan Cadangan Minyak Global

Meskipun pasokan di pasar fisik melimpah, tingkat persediaan minyak di beberapa belahan dunia berada pada posisi yang sangat rawan. Cadangan minyak strategis milik Amerika Serikat saat ini menyentuh level terendah sejak tahun 1984.

Kondisi serupa terjadi di pusat penetapan harga Cushing yang mendekati batas minimum operasional, sehingga membuat harga minyak domestik AS menjadi lebih kuat. Di sisi lain, pasar Laut Utara justru terus menunjukkan tren pelemahan harga akibat banjir pasokan.

“Kilang-kilang Asia sudah memiliki pasokan yang cukup hingga Agustus, dan barel yang segera dilepaskan dari Selat Hormuz hanya mendorong keseimbangan ke titik kelebihan pasokan, tanpa China mengambil alih permintaan,” kata June Goh, analis pasar minyak senior di Sparta Commodities.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author