Pantai Lakban Minahasa Tenggara Tawarkan Wisata Alam dan Sejarah
Pantai Lakban di Desa Ratatotok Timur, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara, menjadi salah satu objek wisata pantai yang menarik perhatian di Sulawesi Utara. Destinasi ini dikenal memiliki area yang cukup landai dan datar jika dibandingkan dengan kawasan pesisir pada umumnya.
Kondisi wilayah landai yang lebar di tempat ini dimanfaatkan oleh para pengunjung untuk melakukan aktivitas olahraga, seperti bermain voli. Dilansir dari Detik Travel, tempat wisata laut ini dinilai sangat aman karena memiliki ombak yang tenang serta arus laut yang tidak kuat.
Selain menyuguhkan hamparan pasir putih di sepanjang tepiannya dan air laut yang jernih, destinasi ini juga menyimpan nilai sejarah. Wisatawan dapat melihat langsung sisa peninggalan sejarah berupa mesin penghancur bijih peninggalan masa kolonial Belanda.
Fasilitas bersejarah tersebut awalnya berada di area pertambangan, kemudian dipindahkan ke kawasan pantai oleh PT Newmont Minahasa Raya (NMR). Berdasarkan catatan sejarah, Belanda mendatangkan 20 unit mesin penumbuk bijih buatan Inggris pada tahun 1900.
Alat-alat tersebut diangkut dari wilayah pesisir menuju lokasi tambang dengan menggunakan lori atau alat angkut rel. Jumlah alat penumbuk bijih tersebut kemudian ditambah menjadi 60 unit pada tahun 1910.
Kawasan tambang emas ini dahulu kerap disebut sebagai Maskapai Belanda. Total produksi emas yang berhasil ditambang di lokasi ini mencapai 5.060 kg dalam kurun waktu antara tahun 1900 hingga 1921.
Keberadaan perusahaan Maskapai Belanda mengubah sistem kerja masyarakat setempat, yang awalnya mengelola tambang mandiri di sekitar gunung dan sungai menjadi pekerja. Setelah aktivitas pertambangan berakhir, warga berbondong-bondong pindah dari kawasan pegunungan menuju daerah pesisir yang lebih rendah.
Perpindahan penduduk ini memicu terbentuknya pemukiman baru yang dinamakan Ratatotok. Nama tersebut berasal dari kata Rata yang berarti datar atau landai, serta Totok yang merujuk pada daerah sekitar tempat mereka melakukan kegiatan menambang.
Wisatawan yang ingin berkunjung ke lokasi ini dapat menempuh perjalanan menggunakan mobil dengan waktu sekitar 4 hingga 5 jam dari Kota Manado. Kawasan wisata ini sudah dilengkapi sarana pendukung seperti area parkir, warung makan, toilet, dan gazebo.
Biaya tiket masuk ke area ini ditetapkan sebesar Rp 3.000 per orang atau per sepeda motor. Sementara itu, untuk pengunjung yang datang menggunakan mobil dikenakan tarif masuk sebesar Rp 5.000.