Pakar Tegaskan Usia Galon Guna Ulang Tidak Tentukan Kualitas Air
Usia galon guna ulang tidak menentukan kualitas air minum di dalamnya, kata sejumlah pakar yang menekankan peran kondisi galon, proses sanitasi, dan pengawasan produsen dalam menjaga keamanan air minum.
Prof. Nugraha Edhi Suyatma, Guru Besar Bidang Rekayasa Pengemasan Pangan IPB, menyatakan hingga kini tidak ada standar yang membatasi usia penggunaan galon guna ulang. Produsen air minum dalam kemasan (AMDK) memiliki sistem pengendalian mutu untuk memastikan keamanan pangan galon yang beredar.
"Mereka sudah punya standar internal terkait mutu fisik, kimia dan keamanan pangannya. Jadi, insyaallah aman," ujar Nugraha dalam keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).
Nugraha menambahkan ketahanan galon lebih dipengaruhi cara pemakaian daripada usia kemasan. Perlakuan konsumen seperti pencucian dan penggunaan yang berpotensi menggores permukaan dalam galon lebih berdampak pada kualitas kemasan.
"Jadi, perlakuan para konsumen lebih mempengaruhi usia atau ketahanan daripada galon itu menjadi cepat rusak atau tidak," kata Nugraha.
Sejalan dengan itu, Prof. Suprihatin dari Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB menyebut tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan galon guna ulang menimbulkan gangguan kesehatan karena lama pemakaian.
"Selama ini tidak ada laporan ilmiah yang menunjukkan galon guna ulang menimbulkan dampak kesehatan hanya karena faktor usia pemakaian," paparnya.
Suprihatin menegaskan perhatian harus pada kebersihan fisik galon serta pengawasan sanitasi dan mikrobiologis. Selama galon memenuhi standar kebersihan dan diproses sesuai prosedur, kualitas air tetap terjaga.
Dia menambahkan perusahaan AMDK bereputasi biasanya menerapkan standar ketat sebelum menggunakan galon kembali, meliputi pemeriksaan kondisi fisik, umur pakai, serta kebersihan kimia dan mikrobiologis.
"Perusahaan AMDK yang sudah punya nama umumnya memperhatikan hal tersebut dan jarang menggunakan galon yang lanjut usia," ujarnya.
Pakar Teknik Kimia Steven Soen menolak anggapan galon lama otomatis berbahaya. Ia menilai faktor penyimpanan dan penggunaan selama pemakaian lebih menentukan keamanan galon.
"Cara penyimpanan dan penggunaan galon jauh lebih berpengaruh (memicu migrasi) dibanding sekadar lamanya usia pakai," tegas Steven.
Steven juga membantah produsen AMDK menggunakan galon tanpa batas waktu. Menurutnya, produsen memiliki standar internal terkait jumlah penggunaan dan umur pakai galon, sehingga kemasan yang sudah tidak memenuhi syarat akan ditarik dari peredaran.
"Apakah memang semua orang galon pemberian kakek ini terus dipakai? Enggak juga. Pabrik juga pasti punya kebijakan.
Dia juga cuci-cuci pasti ada batasnya, nggak mungkin dari zaman ratusan tahun itu terus dipakai. Pasti dia bikin lagi. Jadi enggak mungkin galon itu dipakai bertahun-tahun terus tanpa ada penggantian.
Pasti pada akhirnya kembali di-recycle dan pabrik mengeluarkan yang baru," pungkasnya.
Semua pernyataan tersebut dilansir dari Detikcom.