Pakar UNAIR Jelaskan Gejala Hipoglikemia dan Cara Mencegah Gula Darah Rendah
Penurunan kadar gula darah di bawah batas normal atau hipoglikemia merupakan kondisi medis darurat yang memerlukan penanganan cepat karena berpotensi mengancam nyawa. Dilansir dari Detik Health, gangguan metabolisme ini tidak hanya mengintai penderita diabetes, khususnya tipe 1, tetapi juga dapat dialami oleh individu tanpa riwayat penyakit gula.
Tubuh manusia, khususnya otak, sangat bergantung pada suplai glukosa yang stabil untuk berfungsi secara optimal. Mengutip panduan dari Cleveland Clinic, glukosa yang bersumber dari konsumsi karbohidrat akan didistribusikan melalui aliran darah ke seluruh sel sebagai bahan bakar utama energi harian.
Diagnosis hipoglikemia pada penderita diabetes umumnya ditegakkan saat kadar gula darah merosot di bawah 70 mg/dL (3,9 mmol/L). Sementara bagi kelompok non-diabetes, batasan kondisi ini ditetapkan ketika angka glukosa menyentuh level di bawah 55 mg/dL (3,1 mmol/L). Pertolongan medis pertama yang wajib dilakukan adalah mengonsumsi asupan karbohidrat, sedangkan kasus ekstrem mungkin membutuhkan suntikan obat glukagon.
Spesialis Penyakit Dalam Endokrin-Metabolik-Diabetes Universitas Airlangga (UNAIR), dr Hermina Novida SpPD KEMD FINASIM, menegaskan bahwa faktor pencetus penurunan gula darah sangat beragam dan tidak selalu terikat pada satu penyakit utama.
"Hipoglikemia tidak hanya dialami oleh pengidap diabetes. Namun, juga bisa terjadi akibat aktivitas fisik berlebihan, kurangnya asupan kalori, atau gangguan pada metabolisme insulin," jelas dr Hermina.
Terdapat berbagai faktor medis yang mampu memicu lonjakan sensitivitas insulin, seperti durasi puasa yang terlalu ekstrem serta rutinitas olahraga yang terlampau berat. Penurunan drastis cadangan glikogen akibat penyakit liver kronis maupun berat badan yang kurang juga turut memperbesar risiko tersebut.
"Terdapat pula faktor lain, seperti tumor tertentu yang mempengaruhi kerja insulin, pengaruh obat-obatan, serta kondisi infeksi akut atau kritis yang mengganggu asupan kalori. Selain itu, kadar insulin yang terlalu tinggi akibat insulinoma atau penyakit ginjal kronik juga bisa menjadi penyebab," tutur dr Hermina.
Dari kacamata non-medis, gaya hidup yang berantakan seperti stres berlebihan, kurang istirahat, dan diet tidak seimbang kerap menekan nafsu makan secara drastis. Hal ini berdampak langsung pada minimnya pasokan kalori harian yang masuk ke dalam tubuh.
"Ketika asupan kalori terganggu akibat pola makan yang tidak teratur. Tubuh tidak memiliki cadangan energi yang cukup, sehingga risiko hipoglikemia semakin meningkat," ungkap dr Hermina.
Gejala dan Tanda Peringatan Tubuh
Fisik manusia secara otomatis akan memancarkan sinyal peringatan ketika glukosa darah anjlok, meskipun setiap penderita bisa merasakan keluhan yang bervariasi. Kesadaran terhadap deteksi dini sangat krusial sebelum kadar gula semakin kritis.
Beberapa tanda awal hipoglikemia ringan hingga sedang meliputi:
- Gemetar, lemas, dan tubuh berkeringat dingin secara tiba-tiba.
- Jantung berdebar lebih cepat disertai rasa lapar yang ekstrem.
- Pusing, merasa kebingungan, hingga sulit memusatkan konsentrasi.
- Kulit memucat, timbul rasa cemas, dan area wajah seperti bibir terasa kesemutan.
Apabila diabaikan, fase berat dari kondisi medis ini dapat merusak fungsi saraf pusat yang memicu disorientasi, penglihatan ganda, gangguan koordinasi gerak tubuh, kesulitan bicara, hingga kejang. Risiko koma hingga kematian bisa terjadi pada kasus langka yang terlambat mendapat pertolongan.
Ancaman Hipoglikemia Saat Tidur
Penurunan glukosa darah juga kerap menyerang saat penderita terlelap pada malam hari, sebuah fenomena yang dikenal sebagai hipoglikemia nokturnal. Pasien sering kali menunjukkan tanda-tanda seperti mengigau keras, tidur tidak nyenyak, mengalami mimpi buruk, hingga terbangun dengan kondisi ranjang basah oleh keringat serta pikiran yang disorientasi.
Bahaya Kondisi Hipoglikemia Unawareness
Pada beberapa skenario klinis, penderita diabetes yang terlalu sering menghadapi episode gula darah rendah lambat laun akan kehilangan respons alamiah tubuh untuk mendeteksi gejala awal. Fenomena ini secara medis diistilahkan sebagai hypoglycemia unawareness atau ketidaksadaran terhadap hipoglikemia.
Hilangnya kepekaan tubuh terhadap level glukosa rendah membuat pasien sangat rentan mendadak jatuh dalam fase kritis yang membahayakan nyawa. Intervensi teknologi seperti pemasangan continuous glucose monitoring (CGM) yang memiliki alarm peringatan, maupun pendampingan anjing pendeteksi diabetes yang terlatih, sangat disarankan guna memantau fluktuasi secara riil.
Langkah Pencegahan yang Tepat
Kunci esensial untuk membentengi diri dari hipoglikemia terletak pada konsistensi menjaga pola makan bergizi seimbang serta kehati-hatian saat berolahraga. Penderita diabetes juga dituntut untuk melakukan pengecekan kadar gula darah secara berkala dan terukur.
"Olahraga secara rutin sangat baik, tetapi hindari aktivitas yang terlalu berat. Pastikan tubuh dalam kondisi fit sebelum berolahraga. Selain itu, sebaiknya konsumsi camilan sebelum olahraga untuk mencegah turunnya kadar gula darah secara drastis," tambah dr Hermina.
Mengakhiri penjelasannya, ia juga menyoroti urgensi edukasi kesehatan yang masif bagi masyarakat luas dalam memahami pertolongan dini.
"Peningkatan edukasi melalui media sosial mengenai gejala awal, pertolongan pertama, serta pencegahan hipoglikemia juga sangat kita perlukan agar masyarakat dapat lebih waspada," ujar dr Hermina.