Pakar Gizi Sebut Kimpul Berpotensi Jadi Karbohidrat Alternatif di Indonesia

Share

Kimpul, tanaman umbi lokal yang viral di media sosial, berpotensi menjadi sumber karbohidrat alternatif selain beras dan singkong, kata pakar gizi Universitas Airlangga (UNAIR) Lailatul Muniroh, Jumat (14/8/2026).

Menurut Lailatul, kimpul kaya serat dan memiliki karakteristik pati yang baik. Namun, masyarakat Indonesia yang terbiasa menganggap nasi sebagai makanan utama menjadikan kimpul lebih tepat sebagai pangan diversifikasi dan substitusi parsial, bukan pengganti nasi.

Kimpul dapat dikonsumsi dengan cara sederhana seperti dikukus atau direbus, tetapi potensi terbesar ada pada pengolahannya menjadi tepung yang bisa menggantikan terigu untuk berbagai olahan seperti cookies, biskuit, brownies, cake, bolu, hingga pancake.

Tepung kimpul juga dapat dibuat keripik dan stik, atau dikombinasikan dengan protein untuk produk seperti bubur, makanan pendamping ASI (MPASI), dan biskuit fortifikasi.

Lailatul mengatakan viralnya kimpul di media sosial bisa menjadi momentum mengenalkan pangan lokal, tetapi tren ini rawan hilang jika kimpul hanya dianggap unik tanpa alasan konsumsi berkelanjutan.

"Terlebih jika kimpul diposisikan sebagai sesuatu yang unik tanpa ada alasan untuk mengonsumsinya kembali. Tetapi saat kimpul sedang tren, hal ini menjadi alarm baik karena dapat menjadi sorotan masyarakat untuk ikut penasaran dan mencoba," ujar Lailatul.

Kimpul relatif mudah didapat dan diolah. Bila masyarakat mulai suka, konsumsi kimpul bisa menjadi kebiasaan yang mendorong diversifikasi pangan.

"Menurut saya, tantangan diversifikasi pangan kimpul bukan pada ketersediaannya, tetapi cara mengubah kebiasaan preferensi konsumsi masyarakat yang sudah terbiasa makan nasi," kata Lailatul.

Pengolahan kimpul juga harus memperhatikan pengurangan sensasi gatal yang bisa muncul saat mengonsumsinya. Strategi juga diperlukan agar produk berbahan kimpul diterima berbagai kelompok usia, dari milenial hingga Gen Alpha.

Lailatul menegaskan pentingnya memanfaatkan momentum viral kimpul agar tidak berhenti hanya sebagai konten media sosial.

"Kuncinya dengan mengubah viralitas menjadi kebiasaan," tutupnya.

Informasi ini dilansir dari Detik Health.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author