Pakar Desak WHO Deklarasikan Krisis Iklim Sebagai Darurat Kesehatan Global

Share

Sejumlah pakar internasional terkemuka menilai bahwa krisis iklim harus segera ditetapkan sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Jika langkah ini tidak diambil, jutaan orang diprediksi akan meninggal secara sia-sia.

Komisi independen pan-Eropa tentang iklim dan kesehatan yang dibentuk oleh WHO menyimpulkan, ancaman kesehatan dari krisis iklim sudah sedemikian besar. Oleh karena itu, WHO didesak menyatakan status "keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional" (PHEIC), dilansir dari Bloombergtechnoz.

Penyebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor secara internasional, seperti demam berdarah dan chikungunya, membuat PHEIC menjadi hal yang mendesak. Hal ini ditambah dengan dampak buruk dari cuaca ekstrem, pemanasan global, kerawanan pangan, dan polusi udara.

Laporan komisi tersebut telah dipresentasikan kepada para menteri Eropa sebelum sidang Majelis Kesehatan Dunia WHO pada bulan lalu, dikutip dari The Guardian pada Selasa (2/6/2026). PHEIC sendiri merupakan tingkat peringatan kesehatan tertinggi yang sebelumnya pernah dideklarasikan untuk Covid dan Mpox.

Deklarasi tersebut tidak akan secara otomatis membalikkan perubahan iklim. Meski demikian, status darurat ini bakal memicu respons internasional terkoordinasi yang sangat dibutuhkan oleh skala krisis kesehatan saat ini.

Komisi independen yang beranggotakan 11 orang, termasuk mantan menteri kesehatan dan iklim, menegaskan bahwa perubahan iklim bukanlah berita palsu. Fenomena ini menimbulkan ancaman langsung serta jangka panjang bagi kesehatan, ekonomi, pangan, air, lingkungan, hingga keamanan nasional.

Mantan Perdana Menteri Islandia yang memimpin komisi tersebut, Katrín Jakobsdóttir, memberikan peringatannya dalam sebuah wawancara.

"Krisis iklim mungkin bukan pandemi, tetapi tetap keadaan darurat kesehatan masyarakat yang mengancam kesehatan dan kelangsungan hidup umat manusia. Dan jika kita tidak bertindak lebih cepat dan komprehensif, jutaan orang lagi bisa meninggal atau menghadapi penyakit yang mengubah hidup mereka." kata Katrín Jakobsdóttir.

Penasihat ilmiah utama komisi sekaligus profesor perubahan lingkungan dan kesehatan masyarakat di London School of Hygiene & Tropical Medicine, Sir Andrew Haines, menyatakan bahwa WHO sebenarnya telah mengakui bahaya ini.

"WHO telah mengakui bahwa perubahan iklim merupakan ancaman besar bagi kesehatan global. Yang kami minta adalah langkah lebih lanjut." kata Sir Andrew Haines.

Ia juga memaparkan risiko fatal jika tingkat emisi global tidak segera ditekan.

"Jika kita terus mengeluarkan emisi dengan tingkat saat ini, hal itu akan mempercepat risiko kesehatan bagi generasi saat ini dan masa depan, termasuk: lebih banyak orang yang menderita dan meninggal akibat panas berlebih, banjir, dan penyakit menular, polusi udara akibat kebakaran hutan, lebih banyak kelahiran prematur, dan lebih banyak kerawanan pangan." ujar Sir Andrew Haines.

Sorotan terhadap Subsidi Bahan Bakar Fosil

Pemerintah di berbagai negara juga didesak untuk menghentikan subsidi bahan bakar fosil. Kebijakan menyubsidi minyak dan gas dinilai bertanggung jawab langsung atas 600.000 kematian dini per tahun di kawasan Eropa.

Laporan tersebut mencatat, wilayah Eropa menghabiskan dana sekitar €444 miliar per tahun demi menyokong produksi minyak dan gas. Di 12 negara Eropa, subsidi ini bahkan melebihi 10% dari pengeluaran kesehatan nasional pada 2023, bahkan melampaui keseluruhan anggaran kesehatan di empat negara.

Katrín Jakobsdóttir menilai alokasi anggaran tersebut sebagai sebuah bentuk kegagalan sistemik.

"Ini bukanlah kebijakan energi yang berkelanjutan. Ini lebih merupakan kegagalan kesehatan masyarakat," kata Katrín Jakobsdóttir.

Ia juga menambahkan dampak buruk yang bisa terjadi di masa depan.

"And ini bisa menjadi jauh lebih buruk. Subsidi baru untuk bahan bakar fosil serta negara-negara yang mempertimbangkan pengeboran ulang di tengah krisis Iran akan menjadi bencana bagi kesehatan." ujar Katrín Jakobsdóttir.

Menurutnya, para pemimpin di sektor kesehatan harus mulai terlibat aktif dalam debat mengenai iklim.

"Pemerintah Eropa menyubsidi industri-industri yang justru bertanggung jawab atas kematian dini warga mereka sendiri. Kita membutuhkan para pemimpin kesehatan untuk benar-benar terlibat dalam debat iklim dan tidak hanya menjadi pihak yang menerima dampaknya." tutur Katrín Jakobsdóttir.

Langkah Taktis Melawan Disinformasi dan Memperkuat Sistem Kesehatan

Laporan ini menyerukan penanganan serius terhadap disinformasi iklim, perluasan penilaian dampak kesehatan, serta pengakuan bahwa perubahan iklim memicu krisis kesehatan mental.

Katrín Jakobsdóttir menyebutkan cara terbaik untuk melawan skeptisisme iklim adalah dengan menjadikannya sebagai masalah personal yang dekat dengan masyarakat.

"Cara untuk melawan skeptisisme dan disinformasi iklim itu sederhana: jadikan itu masalah pribadi. Perubahan iklim tidak terjadi di tempat lain, pada orang lain, atau di masa depan. Perubahan iklim memperpendek usia harapan hidup di kota-kota Eropa saat ini. Perubahan iklim membuat rumah sakit penuh. Perubahan iklim memicu kecemasan, stres, serta masalah kesehatan mental lainnya. Dan kebijakan yang akan memperbaikinya-–udara bersih, transportasi aktif, rumah berinsulasi, makanan berkelanjutan–-adalah kebijakan yang tepat untuk membuat orang lebih sehat dan bahagia saat ini." tutur Katrín Jakobsdóttir.

Ia meyakini penyatuan argumen kesehatan dan lingkungan akan menjadi fondasi yang kuat.

"Ketika argumen kesehatan dan argumen iklim menjadi satu argumen yang sama, akan sangat sulit untuk menentangnya." kata Katrín Jakobsdóttir.

Di sisi lain, ketahanan sistem kesehatan domestik juga wajib ditingkatkan agar mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang masif.

Sir Andrew Haines mengingatkan pentingnya pemetaan lokasi fasilitas medis terhadap ancaman bencana seperti banjir dan gelombang panas.

"Setiap negara perlu menyadari di mana fasilitas kesehatannya berada, seberapa besar kemungkinan tergenang banjir, dan bagaimana mereka akan menangani gelombang panas ekstrem dan berkepanjangan," kata Sir Andrew Haines.

Ia juga memberikan contoh kasus konkret yang terjadi di Inggris.

"Bahkan di Inggris, yang merupakan negara beriklim sedang, kita tahu bahwa banyak rumah sakit mengalami kesulitan saat menghadapi panas ekstrem," tutur Sir Andrew Haines.

Ia menambahkan kondisi bangunan medis saat ini.

"Banyak bangunan dirancang sebelum perubahan iklim." ujar Sir Andrew Haines.

Komisi menyimpulkan bahwa sektor kesehatan dunia yang menyumbang 5% dari emisi global harus menempatkan adaptasi ketahanan sebagai prioritas utama.

Direktur Regional WHO untuk Eropa, Dr Hans Kluge, memberikan tanggapan mengenai rekomendasi ini dengan mengaitkannya pada konflik geopolitik.

"Konflik di Ukraina dan Timur Tengah telah dengan jelas menunjukkan apa arti sebenarnya dari ketergantungan pada bahan bakar fosil–-bukan hanya tagihan yang lebih tinggi, tetapi juga sistem kesehatan yang tertekan atau runtuh, pasokan pangan dan bahan bakar yang terganggu, serta masyarakat yang di bawah tekanan." ujar Dr Hans Kluge.

Ia menekankan bahwa alasan penanganan perubahan iklim kini mencakup berbagai aspek krusial.

"Alasan untuk bertindak terhadap perubahan iklim saat ini bukan hanya soal lingkungan. Ini adalah argumen keamanan, argumen kesehatan, dan argumen ekonomi, semuanya sekaligus. Dan ini adalah kewajiban moral." kata Dr Hans Kluge.

Dr Hans Kluge juga menegaskan komitmennya untuk masa depan generasi selanjutnya.

"Keputusan yang diambil oleh pemerintah hari ini akan menentukan beban penyakit yang ditanggung oleh orang-orang yang saat ini berada di sekolah dasar. Kini, tugas kita semua adalah bertindak berdasarkan rekomendasi mereka dan melindungi generasi mendatang. Saya berkomitmen untuk memastikan perubahan iklim diperlakukan sebagai keadaan darurat kesehatan di seluruh 53 negara anggota kawasan Eropa WHO." pungkas Dr Hans Kluge.

Dukungan terhadap laporan ini juga datang dari Johan Rockström selaku Direktur Institut Penelitian Dampak Iklim Potsdam.

"Kondisi planet saat ini, di mana kita telah melanggar berbagai batas planet, dan yang memanifestasikan dirinya sebagai ancaman kesehatan masyarakat yang berdampak pada jutaan orang di seluruh dunia, memberikan bukti ilmiah yang cukup bahwa perubahan iklim harus dinyatakan sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional." kata Johan Rockström.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author