Orang Tua Sibuk Bisa Terapkan Micromoments untuk Bekerja Dekat Anak

Share

Kesibukan kerja kerap kali membuat para orang tua merasa kesulitan menyisihkan waktu berkualitas bersama buah hati. Rasa bersalah dan cemas pun sering muncul akibat minimnya interaksi harian.

Dilansir dari HaiBunda, pakar pengasuhan anak Ericka Souter menjelaskan bahwa keterbatasan waktu tidak menjadi penghalang untuk membangun ikatan erat. Langkah ini dapat diwujudkan melalui metode yang disebut micromoments.

Souter mengungkapkan bahwa micromoments merupakan bentuk interaksi singkat yang dilakukan secara sengaja oleh orang tua bersama anak. Durasi kegiatan ini sangat singkat, yakni berkisar antara 10 hingga 30 detik saja.

"Ini adalah momen singkat dan disengaja di mana orang tua dapat terhubung dengan anak-anaknya selama 10 hingga 30 detik," kata Souter, dilansir laman Good Morning America (GMA).

Banyak pengasuh beranggapan bahwa hubungan emosional hanya bisa terbentuk lewat liburan atau acara besar. Padahal, konsistensi dan frekuensi harian justru memegang peranan paling krusial dalam tumbuh kembang anak.

"Banyak orang tua merasa tertekan untuk menjalin ikatan dengan anak-anak mereka dalam momen-momen atau perjalanan besar. Tetapi penelitian menunjukkan bahwa yang terpenting adalah frekuensi dan konsistensi, jadi orang tua dapat menjalin ikatan dengan anak-anaknya dalam momen-momen kecil dan sederhana selama bagian rutin harian orang tuanya," lanjutnya.

Bentuk Interaksi Sederhana Sehari-hari

Penerapan metode ini sangat fleksibel dan dapat disisipkan di sela-sela rutinitas harian. Momen pagi hari menjadi waktu yang ideal untuk memulai dialog sederhana.

Souter menyarankan agar orang tua mengajukan pertanyaan pemantik seperti hal yang paling dinantikan atau diantisipasi anak pada hari tersebut.

"Cara itu membantu (anak-anak) membangun kosakata emosional mereka dan memberi tahu bahwa perasaan campur aduk itu wajar," ujar Souter.

Pertanyaan terarah tersebut efektif membantu anak mengelola kecemasan serta mengenali emosinya secara dini. Selain itu, ekspresi anak bisa disalurkan melalui isyarat sederhana seperti simbol jempol ke atas, samping, atau bawah.

"Pilihannya hanya jempol ke atas, jempol ke samping, atau jempol ke bawah," kata Souter.

"Hal ini memberi mereka cara untuk mengekspresikan perasaan mereka tanpa banyak tekanan dan yang kita ketahui adalah ketika anak-anak mampu memberi label pada emosi sejak dini, mereka lebih baik dalam mengatur emosi," sambungnya.

Sebelum tidur, meluangkan waktu 30 detik untuk mendengarkan cerita anak mengenai harinya juga menjadi langkah efektif menjaga kedekatan.

Pentingnya Momen Mikro Nonverbal

Pendekatan emosional tidak melulu harus disampaikan melalui kata-kata. Kontak mata intens serta kalimat penyemangat selama 10 detik di meja makan memiliki dampak besar, terutama untuk anak usia muda.

"Saat sarapan, (orang tua) dapat melihat anak mereka dan berkata, 'Kamu pasti bisa. Semoga hari kamu menyenangkan. Kamu akan tampil hebat dalam pertandingan kamu'," ujar Souter.

Alternatif lain adalah memberikan pesan singkat tertulis di dalam tas sekolah anak. Catatan tersebut menjadi penguat moral saat mereka menghadapi hari yang menguras emosi.

"Saya juga menyukai ide menaruh catatan di dalam ransel. Jika mereka mengalami hari yang penuh tekanan, mereka dapat merujuk atau melihat catatan itu sepanjang hari jika mereka mengalami pasang surut," lanjutnya.

Dukungan nyata dari pengasuh terbukti secara ilmiah meningkatkan kepercayaan diri serta ketahanan emosional anak dalam menghadapi tantangan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author