Studi Ungkap Operasi Caesar Naikkan Risiko Gangguan Jiwa Pasca Melahirkan
Riset terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Obstetrics & Gynecology menunjukkan adanya kaitan antara metode persalinan caesar dengan risiko gangguan kejiwaan pada perempuan setelah melahirkan.
Seperti dilansir dari HaiBunda, operasi caesar, baik yang telah direncanakan sebelumnya maupun tindakan darurat, memicu kenaikan risiko kondisi kejiwaan pasca melahirkan hingga lebih dari 15 persen jika dibandingkan dengan persalinan pervaginam spontan.
Sebaliknya, metode persalinan pervaginam operatif (OVD) yang menggunakan alat bantu medis khusus dan berhasil dilakukan tidak memperlihatkan adanya peningkatan risiko serupa.
Namun, jika tindakan OVD mengalami kegagalan dan persalinan harus dialihkan ke operasi caesar, risiko gangguan kejiwaan justru melonjak hingga 26 persen lebih tinggi.
Para peneliti melaksanakan studi kohort observasional ini di Amerika Serikat terhadap 934.524 perempuan yang melahirkan bayi tunggal hidup dengan usia kehamilan minimal 37 minggu sepanjang tahun 2008 sampai 2022.
Data riset tersebut bersumber dari Merative MarketScan Commercial Database.
Dalam pengujian ini, subjek dibagi menjadi lima kategori metode persalinan, termasuk persalinan pervaginam spontan, persalinan pervaginam berhasil, caesar terencana, caesar tidak terencana tanpa upaya pervaginam, serta caesar tidak terencana setelah kegagalan OVD.
Indikator kondisi kejiwaan yang dipantau meliputi diagnosis baru untuk depresi, kecemasan, gangguan stres pasca trauma (PTSD), masalah kejiwaan serius lain, hingga peresepan antidepresan baru dalam jangka waktu enam bulan setelah melahirkan.
Melalui pemodelan khusus, para ilmuwan mengukur korelasi metode persalinan dengan kondisi kejiwaan setelah mengontrol variabel usia ibu, wilayah tinggal, tahun persalinan, obesitas kelas III, dan penggunaan zat selama masa kehamilan.
Faktor lain seperti usia kehamilan saat melahirkan, hipertensi kronis, diabetes melitus pra-kehamilan, serta komplikasi berat yang tidak terduga pada bayi baru lahir juga turut disesuaikan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa ibu yang menempuh operasi caesar terencana menghadapi angka insiden kondisi kejiwaan pasca melahirkan sebesar 11,4 persen.
Sementara itu, ibu yang menjalani operasi caesar tidak terencana tanpa didahului upaya persalinan pervaginam mencatatkan angka insiden sebesar 10,8 persen.
Bagi kelompok ibu yang harus dioperasi caesar setelah proses persalinan pervaginamnya gagal, angka insiden kejiwaan berada di angka 10,9 persen.
Seluruh diagnosis kejiwaan individu, termasuk depresi, kecemasan, dan PTSD, ditemukan lebih tinggi pada kelompok caesar terencana maupun tidak terencana tanpa upaya pervaginam, berbanding terbalik dengan kelompok persalinan normal spontan.
Mayoritas diagnosis depresi, kecemasan, dan gangguan jiwa berat lainnya terdeteksi muncul dalam rentang waktu 0 sampai 90 hari pasca persalinan.
Di sisi lain, gejala stres pasca trauma (PTSD) muncul dengan tingkat kemunculan yang setara pada periode 0 hingga 90 hari maupun 91 hingga 180 hari setelah melahirkan.
"Kondisi kejiwaan pasca persalinan meningkat setelah persalinan caesar, baik yang direncanakan maupun tidak direncanakan, tetapi tidak setelah persalinan pervaginam yang berhasil," kata tim penulis, dilansir laman Medscape.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa persalinan caesar mungkin terkait dengan peningkatan risiko kondisi kejiwaan dan memerlukan pengawasan lebih ketat pasca melahirkan."
Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hasilnya belum tentu dapat digeneralisasikan pada perempuan yang sudah memiliki riwayat kondisi kejiwaan sebelumnya, mengingat kelompok tersebut dieksklusi dari analisis data.