Operasi Caesar Makin Diminati, WHO Prediksi Lonjakan Global
Metode persalinan operasi caesar kini semakin sering dijadikan opsi yang direncanakan. Pasangan suami istri bahkan dapat memilih prosedur ini atas permintaan sendiri.
Studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021 menunjukkan tingkat operasi caesar terus bertambah secara global hingga melewati 21 persen dari total persalinan. Angka ini diproyeksikan terus melonjak, dengan estimasi hampir sepertiga atau 29 persen melahirkan via operasi caesar pada 2030.
"Jika tren ini berlanjut, pada tahun 2030 tingkat tertinggi kemungkinan akan berada di Asia Timur (63 persen), Amerika Latin dan Karibia (54 persen), Asia Barat (50 persen), Afrika Utara (48 persen), Eropa Selatan (47 persen), dan Australia dan Selandia Baru (45 persen)," demikian isi penelitian.
Kenaikan angka persalinan caesar juga tampak di Inggris selama beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data NHS Inggris periode 2024 hingga 2025, sebanyak 45 persen kelahiran menggunakan operasi caesar, melampaui persalinan spontan atau pervaginam yang tercatat sebesar 44 persen, sedangkan 11 persen sisanya memerlukan intervensi tambahan seperti forsep.
Terdapat banyak faktor yang mendorong peningkatan tren operasi caesar di berbagai negara. Seperti dilansir dari HaiBunda yang mengutip BBC, NHS Inggris menyatakan salah satu pemicunya adalah peningkatan kondisi kesehatan bawaan pada ibu, termasuk diabetes dan obesitas. Trauma dari persalinan terdahulu juga turut memengaruhi keputusan tersebut.
"Kita tahu bahwa usia ibu semakin meningkat, kita tahu bahwa angka penyakit juga meningkat. Saya juga berpikir pengalaman sebelumnya akan berperan," kata Dr. Donna Ockenden dari Shrewsbury and Telford Hospitals.
"Trauma saat melahirkan dan menjalani operasi caesar pada kelahiran pertama dapat memengaruhi keputusan mereka untuk menjalani operasi caesar pada kelahiran kedua," sambungnya.
Berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat (CDC AS), tren lonjakan ini terjadi di seluruh ras, etnis, dan usia kehamilan. Lown Institute juga mensinyalir peningkatan ini berkaitan dengan kekhawatiran selama pandemi COVID-19, serta aspek finansial dan hukum bagi penyedia layanan kesehatan.
Sementara di Turki, riwayat operasi rahim sebelumnya seperti caesar atau miomektomi, serta kondisi gawat janin menjadi indikasi paling umum. Studi dalam BMC Pregnancy Childbirth tahun 2025 yang berbasis data 68.944 persalinan mencatat tingkat operasi caesar keseluruhan mencapai 55,0 persen.
Poin Pertimbangan Sebelum Prosedur
Meskipun diminati, beberapa risiko seputar operasi caesar dinilai masih kurang dipahami oleh sebagian masyarakat. Persalinan caesar merupakan tindakan operasi besar yang membawa risiko komplikasi dan infeksi.
Beberapa penelitian mengaitkan operasi caesar dengan risiko pembekuan darah dan infeksi yang lebih tinggi. Kondisi ini berpotensi memicu angka kematian serta morbiditas ibu, sekaligus menjadi faktor dalam krisis kematian ibu yang tengah terjadi.
Waktu pemulihan operasi caesar juga lebih lama ketimbang persalinan pervaginam. Ibu yang memilih tindakan ini cenderung harus menjalani operasi caesar berulang pada kehamilan berikutnya, yang meningkatkan risiko di setiap prosedur.
Berbagai faktor risiko tersebut membuat American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menyatakan keprihatinan atas penggunaan operasi caesar yang dinilai berlebihan.
"Persalinan caesar dapat menyelamatkan nyawa janin, ibu, atau keduanya dalam kasus-kasus tertentu. Namun, peningkatan pesat angka persalinan caesar dari tahun 1996 hingga 2011 tanpa bukti jelas adanya penurunan angka kesakitan atau kematian ibu atau bayi baru lahir menimbulkan kekhawatiran signifikan bahwa persalinan caesar terlalu sering digunakan," kata ACOG.
Di sisi lain, para ahli berpendapat bahwa perempuan berhak menentukan cara dan waktu melahirkan selama situasi dinilai aman. NHS menyatakan setiap ibu memiliki hak memilih operasi caesar terencana jika aman bagi diri dan janinnya.
"Operasi caesar adalah operasi besar yang disertai risiko, jadi biasanya dilakukan saat ini menjadi pilihan paling aman bagi perempuan dan bayinya. Namun, beberapa orang memilih untuk melakukan operasi caesar karena alasan non-medis," ujar seorang juru bicara NHS.