Novak Djokovic Catat Rekor Penampilan Grand Slam di Prancis Terbuka
Petenis tunggal putra Novak Djokovic berhasil memecahkan rekor dunia sebagai pria dengan penampilan turnamen Grand Slam terbanyak sepanjang sejarah setelah turun bertanding dalam babak pertama Prancis Terbuka di Paris pada Minggu, 24 Mei 2026.
Petenis berusia 39 tahun tersebut mencatatkan penampilan Grand Slam ke-82 sepanjang kariernya, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Roger Federer dan Feliciano Lopez, tepat dua hari setelah hari ulang tahunnya yang ke-39.
Selain memecahkan rekor penampilan Grand Slam, Djokovic juga menyamai catatan milik petenis Prancis Richard Gasquet dan Antoine Gentian dengan mengemas 22 penampilan di turnamen Roland Garros.
Dalam laga pembuka di Court Philippe-Chatrier yang dipenuhi pendukung tuan rumah yang tidak ramah kepadanya, unggulan ketiga tersebut dipaksa berjuang keras selama 2 jam 51 menit sebelum akhirnya menang dengan skor 5-7, 7-5, 6-1, dan 6-4 atas petenis berusia 22 tahun, Giovanni Mpetshi Perricard.
Kemenangan tersebut diraih lewat perjuangan berat karena Djokovic sempat kehilangan set pertama akibat servis agresif dari lawan setinggi 2,01 meter itu, sebelum akhirnya ia mampu mematahkan servis Mpetshi Perricard pada menit ke-45 di set kedua demi menyamakan kedudukan.
Pertandingan ini merupakan penampilan kedua Djokovic di lapangan tanah liat musim ini setelah sebelumnya sempat absen selama dua bulan akibat cedera bahu kanan, di mana pada laga kompetitif pertamanya ia kalah dari petenis kualifikasi asal Kroasia, Dino Prizmic, di Italia Terbuka.
Dilansir dari Associated Press, pemilik 24 gelar Grand Slam tersebut mengakui atmosfer tekanan yang sangat tinggi saat menghadapi petenis tuan rumah di lapangan utama.
"Obviously playing a French player, center court at Roland Garros is never so easy. The crowd gets into it and then you feel the pressure even more," ujar Novak Djokovic, petenis tunggal putra.
Mantan petenis nomor satu dunia itu menambahkan bahwa durasi pertandingan yang cukup panjang ini justru menjadi hal positif bagi kondisi fisiknya setelah pulih dari cedera.
"But all in all it was a good match to be part of: Three hours, just what the doctor ordered at age 39," kata Novak Djokovic, petenis tunggal putra.
Pertemuan perdana melawan Mpetshi Perricard, yang berada di peringkat 80 dunia, memberikan impresi mendalam bagi Djokovic terutama terkait kualitas servis sang lawan yang sempat meluncurkan servis berkecepatan 223 kilometer per jam.
"one of the most tremendous serves in terms of precision and speed that I have ever faced in my career." ujar Novak Djokovic, petenis tunggal putra.
Melalui hasil positif ini, Djokovic yang telah memenangkan trofi Prancis Terbuka pada 2016, 2021, dan 2023, menjaga peluangnya di paruh bawah undian dan baru bisa bertemu petenis nomor satu dunia Jannik Sinner di babak final, mengingat juara bertahan Carlos Alcaraz absen akibat cedera pergelangan tangan.
Selain laga Djokovic, sejumlah petenis senior lain juga mencatatkan kemenangan di Paris, termasuk petenis berusia 36 tahun asal Argentina, Marco Trungelliti, yang menundukkan Kyrian Jacquet dengan skor 6-4, 6-2, dan 6-2.
Trungelliti, yang baru-baru ini menjadi pria tertua di era profesional sejak 1969 yang berhasil menembus peringkat 100 besar dunia, mengungkapkan bahwa dirinya baru mencapai performa terbaik di usia senja.
"I'm reaching my peak (at) 36," ujar Marco Trungelliti, petenis tunggal putra.
Petenis yang kini menetap di Andorra tersebut merefleksikan perjalanannya yang sempat terhambat akibat dikucilkan dari tur tenis dunia setelah dirinya menjadi pelapor pelanggaran (whistleblower) terkait kasus pengaturan skor beberapa tahun silam.
"Really hurt me back then," kata Marco Trungelliti, petenis tunggal putra.
Trungelliti menyatakan kekecewaannya terhadap otoritas tenis yang tidak memberikan perlindungan kepadanya saat membongkar kasus tersebut, sebuah pengalaman pahit yang terus ia rasakan hingga saat ini.
"I was very innocent in the sense that I was expecting that the system would help me out a little bit, and it was completely the opposite." ujar Marco Trungelliti, petenis tunggal putra.
Rasa kecewa tersebut masih membekas mendalam karena institusi tenis internasional dinilai mengabaikan nasibnya setelah memberikan laporan penting.
"The whole package of institutions were never there, and they are still not there," kata Marco Trungelliti, petenis tunggal putra.
Hingga saat ini, perasaan tidak nyaman dan terasing masih terus menghantui Trungelliti bahkan ketika ia harus pulang ke negara asalnya.
"I have a spine in my heart, and it's going to be there forever." ujar Marco Trungelliti, petenis tunggal putra.
Pada pertandingan lain di sektor putri, petenis berusia 36 tahun Sorana Cirstea sukses mengalahkan petenis berusia 17 tahun Ksenia Efremova dengan skor 6-3 dan 6-1, sementara petenis veteran berusia 41 tahun Stan Wawrinka dijadwalkan bertanding melawan Jesper De Jong pada hari Senin.