BPS Melaporkan Neraca Perdagangan Indonesia Defisit US$1,61 Miliar
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026, yang menjadi penurunan pertama setelah mengalami surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Kinerja perdagangan luar negeri ini menjadi yang terburuk sejak 2019, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz pada Rabu (1/7/2026). Kemerosotan ini dipicu oleh nilai ekspor yang merosot 5,73 persen menjadi US$23,20 miliar, sementara angka impor melonjak tajam hingga 22,16 persen mencapai US$24,81 miliar pada Mei 2026.
Tiongkok tercatat sebagai negara yang memicu defisit paling mendalam bagi perdagangan barang Indonesia, sedangkan Amerika Serikat masih konsisten menjadi negara penyumbang surplus terbesar pada sektor migas maupun nonmigas.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan rincian mengenai negara-negara mitra dagang utama yang memengaruhi kondisi neraca perdagangan tersebut. “Sedangkan tiga negara penyumbang defisit terdalam baik migas maupun nonmigas, yang pertama Tiongkok defisit atau minus US$10,17 miliar US. Australia defisit atau minus US$3,99 miliar dan juga Singapura defisit US$3,83 miliar,” kata Ateng dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (1/7/2026).
Secara keseluruhan, akumulasi surplus terbesar ditopang oleh Amerika Serikat senilai US$7,03 miliar, disusul India sebesar US$5,29 miliar, dan Filipina sebesar US$3,59 miliar. Khusus sektor nonmigas, Amerika Serikat menyumbang surplus US$8,47 miliar, India US$5,34 miliar, dan Filipina US$3,42 miliar, meskipun total neraca nonmigas surplus US$2,15 miliar didorong komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, serta besi dan baja.
Sebaliknya, neraca perdagangan migas mengalami defisit sebesar US$3,76 miliar akibat dampak impor hasil minyak dan minyak mentah. Secara kumulatif dari Januari hingga Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia masih membukukan surplus sebesar US$4,03 miliar yang disokong komoditas nonmigas sebesar US$16,31 miliar, meskipun sektor migas mengalami defisit US$12,28 miliar.