Banyak Negara Ajukan Pinjaman ke Bank Dunia Imbas Krisis Energi
Sebanyak 27 negara mulai mengantre untuk mengakses dana pinjaman darurat dari Bank Dunia guna mengatasi krisis ekonomi global akibat konflik Timur Tengah yang pecah sejak 28 Februari 2026 silam, seperti dilansir dari Detik Finance berdasarkan dokumen internal yang beredar.
Perang tersebut mengganggu rantai pasok global dan memukul pasar energi, sehingga menyulitkan banyak negara berkembang terutama di kawasan Afrika. Tiga negara dilaporkan telah menyetujui instrumen krisis baru, sementara pejabat di Kenya dan Irak mengonfirmasi sedang mencari dukungan finansial cepat untuk mengatasi lonjakan harga bahan bakar serta penurunan ekspor minyak.
Presiden Bank Dunia Ajay Banga menyatakan bahwa pihaknya menyediakan perangkat krisis dengan potensi pembiayaan awal sekitar US$ 20-25 miliar. Bank Dunia juga dapat mengorientasikan ulang portofolionya demi menaikkan dana bantuan menjadi US$ 60 miliar dalam enam bulan, serta memiliki peluang jangka panjang untuk meningkatkannya hingga mencapai US$ 100 miliar.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia mengambil langkah sebaliknya dengan menolak tawaran utang senilai US$ 25-30 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia yang diajukan saat kunjungan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke Washington DC pada 13-17 April 2026 lalu.
Penolakan resmi tersebut disampaikan langsung oleh pihak pemerintah Indonesia demi mengamankan kondisi fiskal nasional secara mandiri di tengah ketidakpastian geopolitik global.
"US$ 25-30 miliar kalau kamu mau pakai boleh, itu dipakai untuk beberapa negara yang butuhkan nanti, katanya. Saya bilang sama ke dia, sekarang saya belum butuh karena saya sendiri punya persediaan hampir US$ 25 bios untuk negara kita sendiri, jadi aman," kata Purbaya, Menteri Keuangan.
Keputusan tersebut sempat memicu respons kurang menyenangkan dari pimpinan lembaga keuangan internasional tersebut karena kehilangan potensi pendapatan dari bunga pinjaman.
"Wah mukanya asem karena dia nggak bisa minjemin duit, nggak bisa dapat bunga tuh mereka tuh," ucap Purbaya, Menteri Keuangan.