Naeka Kembangkan Bisnis Modest Fashion Muslim ke Pasar Global
Eka Budi Utami selaku pemilik usaha modest fashion muslim bernama Naeka berhasil mengembangkan bisnisnya hingga menjangkau pasar internasional setelah mendapatkan pendampingan intensif dari Rumah BUMN BRI Jakarta. Melalui program pemberdayaan tersebut, pelaku usaha asal Jakarta Selatan ini rutin memperoleh berbagai pelatihan manajemen bisnis serta akses pameran berskala luas.
Perjalanan usaha Naeka dimulai di tengah situasi pandemi COVID-19 setelah Eka sempat mengalami kegagalan saat merintis bisnis pakaian bayi. Dilansir dari Detik Finance, usaha jilbab dan mukena yang ia rintis bersama adik iparnya justru mendapat respons positif dari pasar daring hingga mampu meraup omzet puluhan juta rupiah.
"Karena waktu itu aku mikir, aku abis lahiran, terus kayak butuh baju bayi buat kulit sensitif gitu. Tapi ternyata, aku kayak nggak berjodoh, kok nggak cocok nih, nggak jalan-jalan gitu," ujar Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Setelah kegagalan tersebut, Eka dan rekan bisnisnya memutuskan untuk beralih menjual jilbab secara daring dengan memanfaatkan modal yang tersisa.
"Akhirnya kita mikir, apa ya? Yaudah deh, karena kita pake jilbab sehari-harinya, udah deh kita jualan jilbab dulu," terang Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Langkah peralihan ini rupanya menjadi titik balik yang menguntungkan bagi kelangsungan bisnis mereka.
"Dia billing, 'kamu cari DNA-nya dulu nih. Karena yang jualan kayak produk kamu tuh banyak. Nanti kalau udah DNA-nya dapet, kamu harus fokus di situ'," kenang Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Saran dari pemilik toko kain tersebut membuat Naeka fokus pada produk mukena berbahan katun silk dengan motif cetak floral pastel.
"Dan Naeka, siapa sih yang kenal? Itu cuma perkara aku punya satu admin pada saat itu. Jadi cuma upload ke (lalu dapat) Rp45 juta. Aku kayak, 'eh uang dari mana nih?," ujar Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Berawal dari penjualan daring tersebut, bisnis Naeka terus berkembang pesat hingga Eka mampu mendirikan konveksi mandiri bernama Taka Konveksi pada tahun 2021.
"Kenapa kita punya konveksi? Karena kita pikir untuk memudahkan dari hulu ke hilirnya kita harus punya sendiri," jelas Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Keputusan membangun konveksi sendiri dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas produk dan efisiensi rantai produksi usaha mereka.
"Misalkan hari ini bahas keuangan, yang datang tim finance aku, kayak bikin neraca tuh gimana. Jadi kita bagi-bagi nih, misalnya hari ini ngomongin tentang branding, aku yang berangkat," ujar Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Pola pelatihan harian yang fleksibel tersebut membuat struktur tim Naeka menjadi semakin matang dalam mempersiapkan ekspansi bisnis.
"Kalau yang lain kan masih kayak kemasannya masih (sederhana), pada era itu aku udah pakai box. Sudah pakai packaging, udah mikirin ke situ," jelas Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Kesiapan produk yang matang membuat Naeka langsung dilibatkan dalam berbagai pameran strategis yang difasilitasi oleh pihak perbankan.
"Tentu kalau misalkan ada bazar-bazar yang mengenalkan market baru, itu bikin influence ke pendapatan kita, ke revenue. Jadi bantu secara nggak langsung," tutur Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Melalui pameran di area bandara, produk mukena Naeka mulai dikenal dan dibeli oleh konsumen mancanegara seperti Singapura dan Malaysia.
"Kenapa? Karena kita ketemu kayak market baru. (Pameran) di mal sama kementerian itu beda banget. Beda banget. Jadi, kalau diajak pameran gitu, aku pasti akan datang. Karena aku pengen ketemu customer langsung," jelas Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Selain itu, Naeka berhasil menarik minat pembeli dari Senegal, Afrika, dalam acara temu bisnis internasional.
"Jadi perwakilan kedutaan, buyer, brand owner, dan satu translator duduk bersama. Kebetulan latar belakang pendidikan S1 saya adalah Sastra Prancis, jadi saat buyer tertarik, obrolan kami langsung menyambung," ungkap Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Ketertarikan pembeli dari Afrika tersebut mengharuskan pihak Naeka melakukan penyesuaian produk agar sesuai dengan kondisi iklim setempat.
"Di sana kan udaranya sangat panas. Kalau kami berikan bahan silk seperti di Indonesia, kainnya akan terasa sangat lengket di kulit. Mereka bilang suka dengan desain kami, tapi meminta materialnya diganti menggunakan katun rayon. Akhirnya kami membuat produk custom khusus untuk pasar Afrika," jelas Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Ekspansi pasar Naeka juga terus meluas secara organik melalui media sosial ke wilayah Amerika Utara.
"Dia DM, beli lima pcs, totalnya sekitar Rp 2,5 juta. Tapi fun fact-nya, ongkos kirim ke Kanada itu mencapai Rp 2 juta sendiri, hampir sama mahal dengan harga produknya. Meskipun begitu, dia tetap memutuskan untuk membeli," kenang Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Penjualan rutin dalam jumlah besar juga berhasil dicatatkan dari konsumen tetap di wilayah Asia Tenggara.
"Singapura tuh ada satu orang, aku nggak ngerti. Tapi kayaknya dia jual lagi. Karena dia kalau beli, nggak mungkin dikit. Kayak 15 pcs sampai 20 pcs," ungkap Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Selain menyasar sektor ritel, Naeka turut mengambil peluang musiman dengan memproduksi pesanan dari berbagai agen travel haji dan umrah.
"Jadi kalau musim haji, jujur kita lebih banyak dapat orderan kayak WHI (Wisata Halal Indonesia), jadi kayak travel-travel umrah haji. Kita ngerjain dari belakang," ungkap Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Kerja sama dengan pemesanan volume besar dari agen travel tersebut sudah berjalan secara konsisten selama dua tahun terakhir.
"Dia udah 2 tahun sama kita. Macem-macem, (pesanannya) ada yang 60, 100, 80, ada yang 70. Kalau sajadah, itu WHI sampai 1.100, khimar itu 500," urai Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Melalui kemitraan ini, sistem produksi Naeka juga melayani pembuatan produk khusus di luar katalog reguler toko.
"Tapi memang Naeka-nya enggak jual khimar. Tapi kita produksiin, jadi buat mereka. Jadi custom," jelas Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Eka menambahkan bahwa seluruh aktivitas usahanya didasari oleh prinsip spiritual untuk memberi manfaat sosial yang luas.
"Jadi dari awal Naeka ini aku dirikan, emang niatku satu sih, bikin bisnis yang berkah buat bekal aku ke akhirat. Itu misi-misi aku," ungkap Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Sebagai wujud dari prinsip tersebut, Naeka rutin menyelenggarakan program tukar tambah mukena kelayakan pakai setiap momen menjelang Idulfitri.
"Jadi si customer itu boleh bawa mukena apa aja, bebas, nggak mesti Naeka, bebas, brand apa aja, pokoknya masih layak pakai, nanti kalian bisa Trade-In, jadi kita hargai Rp150.000. Jadi misalnya mukena Naeka yang baru Rp550.000, mereka bawa nih, mukena brand lain, nanti kita lihat, oh ini masih bagus, masih layak, kita hargai R p150.000, jadi kalau dia mau yang Rp550.000, tinggal dipotong Rp150.000, udah dapet mukena baru Naeka," tutur Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Seluruh pakaian ibadah yang terkumpul kemudian disalurkan kembali kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan.
"Mukena yang si trade-in, yang mereka itu terus kita sumbangin, kita ada kerja sama sama yayasan di Cikarang. Nah itu kita sumbangin untuk mereka," jelas Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Hasil keuntungan dari penjualan produk juga dialokasikan untuk pembangunan sarana ibadah di daerah yang belum memiliki fasilitas memadai.
"Alhamdulillahnya, dari hasil Naeka kita udah bisa bikin musala, walaupun kecil-kecilan di sana, karena ternyata di sana itu, banyak masyarakat nggak mampu, dan waktu itu belum ada rumah ibadah apapun, maksudnya belum ada masjid gitu, itu kita ikut di situ bikin kontribusi," jelas Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Selain pembangunan fisik, komitmen sosial tahunan juga terus dijalankan melalui penyaluran hewan kurban bagi warga.
"Jadi kan berapa persen dari penjualan, kita selalu udah komit. Pokoknya, kurban nih tiap tahun, kita kirim ke mereka, jadi biar ngerasain lah, emang itu udah komitmen kita sih sebenarnya," pungkas Eka Budi Utami, Pemilik Naeka.
Pihak pengelola Rumah BUMN menyatakan komitmennya untuk terus memfasilitasi kebutuhan legalitas hingga strategi digitalisasi pelaku usaha lokal.
"Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelas Jajang Rohmana, Koordinator Rumah BUMN BRI.
Setiap anggota baru akan diarahkan melewati proses pemetaan digital untuk mengukur kelemahan dan kelebihan manajemen bisnis mereka.
"Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya," terangnya Jajang Rohmana, Koordinator Rumah BUMN BRI.
Hingga tahun 2026, tercatat ribuan pelaku usaha lokal telah bergabung dan aktif mengikuti tahapan pembinaan untuk mempersiapkan komoditas mereka menuju pasar ekspor.
"Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," jelas Jajang Rohmana, Koordinator Rumah BUMN BRI.