Naegohyang FC Juarai Liga Champions Wanita Asia Setelah Kalahkan Tokyo Verdy

Share

Klub sepak bola wanita asal Korea Utara, Naegohyang FC, berhasil meraih gelar juara Liga Champions Wanita Asia setelah menaklukkan wakil Jepang, Tokyo Verdy Beleza, dengan skor 1-0 pada laga final di Kota Suwon, Korea Selatan, hari Sabtu.

Kemenangan bersejarah dalam kunjungan pertama tim olahraga Korea Utara ke Korea Selatan dalam delapan tahun terakhir ini dipastikan oleh gol kapten Kim Kyong-yong menjelang babak pertama usai. Keberhasilan ini sekaligus membawa Naegohyang FC mengamankan tiket untuk berlaga di Piala Champions Wanita FIFA mendatang.

Pertandingan final di Kompleks Olahraga Suwon tersebut berlangsung ketat dengan permainan fisik yang adil, di mana para pemain saling berpelukan setelah peluit panjang berbunyi. Dilansir dari theguardian.com, sekitar 3.000 penonton dari kelompok masyarakat sipil yang didukung Kementerian Unifikasi Seoul hadir memberikan dukungan dengan menabuh drum tradisional Korea.

Sebelum pertandingan dimulai, nuansa emosional menyelimuti para pendukung yang hadir di stadion.

"Sangat melelahkan secara emosional bagi banyak dari kami," kata Cheong Wook-sik, Direktur LSM Korea Selatan Peace Network.

Pria tersebut menambahkan harapannya agar ajang olahraga ini dapat membawa perubahan hubungan antar-negara meskipun terdengar terlalu idealis.

"Kita sudah lama menjadi tetangga terdekat, namun juga paling bermusuhan satu sama lain. Saya berharap acara sepak bola ini dapat membantu mengubah hal itu, meskipun kedengarannya terlalu idealis," ujar Cheong Wook-sik, Direktur LSM Korea Selatan Peace Network.

Dukungan juga datang dari seorang warga senior yang memiliki ikatan historis dengan wilayah utara semenanjung tersebut.

"Saya mendengar mereka bermain melawan Jepang hari ini, jadi saya datang untuk mendukung mereka," kata Choi Hyo-kwan, warga asal Korea Utara yang menonton di usia 94 tahun.

Choi berharap seluruh pemain tetap menjaga kondisi fisik mereka sepanjang pertandingan hingga meraih kemenangan.

"Di atas segalanya, saya hanya berharap semua orang tetap sehat, menghindari cedera, dan melangkah seutuhnya menuju kemenangan," ujar Choi Hyo-kwan, warga asal Korea Utara yang menonton di usia 94 tahun.

Sistem pembinaan bakat olahraga di Korea Utara dinilai menjadi kunci utama di balik ketangguhan performa tim sepak bola wanita mereka.

"Korea Utara sangat fokus dalam menemukan dan melatih talenta sepak bola muda," kata Kim Yong-hyun, seorang profesor Studi Korea Utara di Universitas Dongguk di Seoul, dilansir dari bbc.com.

Mantan atlet yang pernah menjalani pelatihan di negara tersebut juga membenarkan keberadaan sistem pembinaan usia dini yang sangat terstruktur.

"Bahkan pada tahun 1990-an, ketika saya sedang berlatih di Korea Utara, sudah ada sistem yang mapan di sekolah-sekolah untuk membina bakat atletik muda," kata Kim Sang-yoon, mantan petinju nasional Korea Utara yang membelot pada tahun 2000-an.

Kim Sang-yoon menjelaskan bahwa proses seleksi siswa berbakat tersebut sudah dimulai sejak tingkat sekolah dasar atau sekolah menengah.

"Di sekolah olahraga elite, siswa berbakat biasanya dipilih dan dilatih sejak sekolah dasar atau sekolah menengah," ujar Kim Sang-yoon, mantan petinju nasional Korea Utara yang membelot pada tahun 2000-an.

Mantan atlet lainnya menyatakan bahwa ketangguhan para pemain wanita juga dipengaruhi oleh realitas kehidupan sehari-hari yang membentuk karakter mereka.

"Sangat tangguh dan ulet," kata Han Seol-song, pembelot Korea Utara dan mantan atlet.

Seorang sutradara film yang pernah mendokumentasikan tim nasional negara tersebut menambahkan analisis mengenai fokus kebijakan otoritas pusat dalam bidang olahraga.

"Mungkin seseorang datang ke Kim Jong-il dan berkata kepadanya bahwa kita bisa memanfaatkan ini," kata Brigitte Weich, seorang pembuat film kepada BBC Sport pada tahun 2024.

Weich berpendapat bahwa keterbatasan di sektor lain membuat negara tersebut memilih memusatkan seluruh sumber daya pada pelatihan cabang olahraga tertentu.

"Korea Utara bukanlah yang terbaik dalam hal ekonomi, sains, hak asasi manusia, dan sejenisnya, namun di negara-negara seperti ini mereka bisa unggul dalam beberapa olahraga karena, dari atas ke bawah, mereka bisa fokus pada pelatihan dan tidak ada hal lain," ujar Brigitte Weich, seorang pembuat film kepada BBC Sport pada tahun 2024.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author