Morgan Stanley Pangkas Perkiraan Harga Minyak Dunia Kuartal III-2026

Share

Morgan Stanley kembali memotong proyeksi harga minyak mentah Brent untuk kuartal ketiga dan keempat tahun 2026 akibat pemulihan arus lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Penurunan estimasi ini menjadi pemangkasan kedua yang dilakukan oleh lembaga keuangan tersebut dalam waktu sekitar dua minggu terakhir, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz pada Selasa (30/6/2026). Komoditas minyak Dated Brent yang menjadi acuan transaksi fisik kini diperkirakan berada di angka rata-rata US$75 per barel pada kuartal III dan IV-2026, mencerminkan penurunan masing-masing sebesar US$15 dan US$5.

Selain itu, bank investasi tersebut memotong prospek harga untuk sepanjang tahun depan dengan estimasi Dated Brent bakal menyentuh US$70 per barel pada akhir 2027 seiring melimpahnya pasokan dari Amerika Serikat (AS) dan melemahnya permintaan China.

"Selat Hormuz dibuka kembali lebih cepat dari yang diperkirakan, tetapi ‘dua faktor utama’ yaitu ekspor AS yang tinggi dan impor China yang rendah tetap ada," kata analis termasuk Martijn Rats dalam sebuah catatan. Tim analis Morgan Stanley menjelaskan bahwa kondisi pasar global saat ini telah kembali menghadapi risiko kelebihan pasokan minyak.

"Saat perhatian beralih ke 2027, pasar telah kembali ke titik awal – kembali ke surplus," kata mereka dalam catatan tersebut, yang mengikuti putaran pengurangan sebelumnya dalam laporan pertengahan Juni. Harga kontrak berjangka minyak Brent sendiri sudah merosot sekitar 30% pada kuartal ini setelah AS dan Iran menyepakati perdamaian sementara demi memulihkan jalur pelayaran niaga.

Meskipun ketegangan akhir pekan sempat menahan laju kapal pasca-insiden dua kapal tertabrak, perusahaan tanker dilaporkan tetap berkomitmen melewati Selat Hormuz untuk membuka pasokan jutaan barel. Morgan Stanley mendeteksi ada 35 tanker minyak dan gas yang berhasil keluar dari Teluk Persia lewat selat itu pada hari Kamis, menandakan kembalinya volume lalu lintas normal seperti sebelum konflik pecah di bulan Februari. Lembaga tersebut menambahkan bahwa normalisasi pasar pada 2027 hanya membutuhkan pemulihan arus Selat Hormuz sebesar 65% atau setara 11 hingga 12 juta barel per hari.

Adapun kontrak Brent bulan September bergerak di level US$73,63 pada Selasa (30/6/2026), jauh menurun dari puncaknya yang sempat melampaui US$126 per barel pada April lalu saat perang berkecamuk.

Indikasi pelemahan jangka pendek lainnya terlihat dari pola struktur harga contango bearish pada pasar berjangka, di mana kontrak terdekat dihargai lebih murah daripada kontrak bulan berikutnya. "Kesampingkan narasi sejenak dan perhatikan hanya harganya," kata para analis. Penurunan harga minyak fisik saat ini dianggap telah mengonfirmasi bahwa kondisi pasar komoditas energi tersebut sedang melemah di seluruh sektor.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author