Militer Amerika Serikat Serang Lokasi Rudal Iran di Selat Hormuz
Militer Amerika Serikat melancarkan serangan baru di Iran selatan dengan menargetkan lokasi rudal serta kapal-kapal yang diduga hendak menempatkan ranjau, dilansir dari Detikcom.
Aksi ini menyasar wilayah dekat Bandar Abbas, sebuah kota pelabuhan sekaligus pangkalan angkatan laut Iran di Selat Hormuz. Serangan tersebut terjadi di tengah masa gencatan senjata yang telah dipatuhi kedua pihak sejak 8 April.
Komando Pusat Amerika Serikat menegaskan bahwa operasi militer tersebut dilakukan sebagai bentuk pembelaan diri. Langkah ini dirancang untuk melindungi pasukan Amerika Serikat dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan militer Iran.
Juru bicara Komando Pusat menyatakan pihak militer tetap menahan diri dalam menjaga pasukannya selama gencatan senjata berlangsung.
"terus mempertahankan pasukan kami dengan tetap menahan diri di tengah gencatan senjata yang tengah berlangsung" kata Kapten Tim Hawkins, Juru bicara Komando Pusat.
Hingga kini, pihak Iran belum memberikan tanggapan resmi mengenai serangan terbaru tersebut. Media pemerintah Iran hanya melaporkan bahwa pejabat setempat di Bandar Abbas sedang melakukan penyelidikan setelah terdengar suara ledakan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan adanya kemajuan dalam perundingan dengan Amerika Serikat, meskipun kesepakatan akhir belum akan tercapai dalam waktu dekat.
"Benar bahwa kami telah mencapai kesimpulan atas sebagian besar isu yang dibahas… tetapi untuk mengatakan bahwa ini berarti penandatanganan kesepakatan sudah dekat, tidak seorang pun bisa membuat klaim seperti itu." ujar Esmail Baqai, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat ikut menanggapi situasi tersebut dengan menyatakan bahwa kesepakatan antar-kedua negara masih mungkin untuk dicapai.
"Kita akan lihat apakah kita bisa mencapai kemajuan. Saya kira saat ini masih banyak proses bolak-balik terkait bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi ini akan memakan waktu beberapa hari," kata Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.
Marco Rubio menyampaikan hal tersebut kepada wartawan saat melakukan kunjungan resmi ke India. Dia juga menyinggung adanya pembicaraan antara juru runding utama Iran dengan perdana menteri Qatar pada hari Selasa.
"Dia akan menghasilkan kesepakatan yang baik atau tidak sama sekali," tambah Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut merujuk pada keinginan Presiden Donald Trump yang menginstruksikan para perunding agar tidak terburu-buru. Nota kesepahaman yang sedang dibahas mencakup perpanjangan gencatan senjata 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan kelanjutan perundingan program nuklir.
Negosiasi dilaporkan berjalan alot karena intelijen Amerika Serikat meyakini Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, sedang bersembunyi di lokasi rahasia akibat terluka dalam serangan Israel. Isu krusial seperti pelonggaran sanksi, pencairan dana, dan pembatasan ambisi nuklir dengan cadangan 440 kilogram uranium milik Iran juga masih menjadi perdebatan.
"segera" ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Donald Trump menegaskan opsi lain terhadap kepemilikan uranium yang telah diperkaya tersebut.
"lebih disukai, dengan kerja sama dan koordinasi dengan Republik Islam Iran, dimusnahkan di lokasi" tambah Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Konflik berskala luas ini berawal dari serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Iran membalas serangan tersebut dengan menyasar Israel serta sekutu Amerika Serikat di Teluk, yang sempat memicu lonjakan harga minyak dunia akibat penutupan Selat Hormuz.