Mengenal Vagitus Uterinus Fenomena Janin Menangis dalam Kandungan

Share

Tangisan pertama bayi umumnya baru terdengar setelah proses kelahiran ke dunia luar.

Namun, dalam kondisi yang sangat langka, janin dapat menunjukkan respons menyerupai tangisan saat masih berada di dalam rahim.

Fenomena unik ini dikenal medis sebagai vagitus uterinus, seperti dilansir dari HaiBunda.

Melansir dari majalah Aeon.co, kondisi ini selalu terjadi pada trimester terakhir kehamilan ketika ada robekan pada selaput rahim.

Robekan tersebut memicu udara masuk ke dalam rongga rahim, sehingga memungkinkan janin untuk mengeluarkan suara.

Vagitus uterinus memberikan wawasan awal bagi ilmuwan mengenai alat vokal janin.

Fenomena ini membuktikan bahwa bagian tubuh dan sistem saraf yang terlibat dalam proses menangis dapat berfungsi penuh sebelum bayi lahir.

Perkembangan perilaku vokal ini sebenarnya dimulai sejak awal kehamilan.

Janin mulai bergerak pada minggu ketujuh kehamilan, bersamaan dengan pembentukan organ jantung, paru-paru, otak, dan sumsum tulang belakang.

Pada waktu yang sama, janin mulai merasakan sentuhan dari gerakan, yang menjadi indra pertama yang berfungsi dalam tahap perkembangannya.

Melalui siklus aktivitas sensorimotor tersebut, janin mulai menemukan tubuh serta dunianya.

Sebuah studi tahun 2019 yang diterbitkan di Scientific Reports mengungkapkan hal senada.

Janin yang lahir prematur di usia kehamilan 32 minggu sudah melakukan aktivitas lebih dari sekadar menangis.

Mereka menghasilkan protofon, yaitu suara bayi yang pada akhirnya berkembang menjadi ucapan.

Artinya, janin pada trimester terakhir kehamilan dapat menghasilkan semua suara yang bisa dikeluarkan oleh bayi baru lahir.

Dikutip dari laman Time, seorang dokter pernah menggambarkan kejadian nyata dari fenomena vagitus uterinus ini.

Salah satu dari tiga dokter yang bertugas di Victoria Cottage Hospital di Sidmouth, Inggris, membantu seorang ibu muda yang mengalami persalinan sulit.

Dokter tersebut memasukkan tangannya ke dalam rahim untuk menurunkan kaki bayi.

Selama manuver dilakukan, ketiga dokter mendengar suara tangisan yang jelas dan jauh, sangat mirip dengan tangisan bayi setelah lahir.

Janin tersebut kembali terdengar menangis dengan sangat keras.

Kondisi itu membuat dokter menempelkan telinga mereka ke perut ibu untuk memastikan bahwa tangisan berasal dari dalam rahim.

Menurut laporan medis, bayi tersebut akhirnya lahir dengan selamat.

Seorang ahli kebidanan dan ginekologi terkemuka asal Inggris, Dr. Patrick Morries Gordon (PMG), memberikan catatan terkait fenomena ini.

Menurutnya, ada bahaya janin menangis akan tenggelam ke dalam cairan ketuban.

Namun, risiko ini jauh lebih kecil daripada bahaya trauma kelahiran yang mungkin disebabkan oleh upaya untuk mempercepat persalinan.

Penelitian Ilmiah Mengenai Tangisan Janin

Para peneliti Selandia Baru melakukan salah satu studi paling berpengaruh tentang bayi yang menangis di dalam rahim pada tahun 2005.

Para peneliti menyediakan video USG dari apa yang mereka tafsirkan sebagai janin menangis.

Mereka memecah tangisan menjadi beberapa langkah, termasuk serangkaian gerakan tubuh dan pernapasan, untuk memastikan bahwa bayi tersebut benar-benar menangis.

Studi mengungkap bahwa janin berusia 20 minggu sudah dapat melakukan semua tindakan yang diperlukan untuk menangis.

Tindakan tersebut meliputi menjulurkan lidah, mengkoordinasikan upaya pernapasan yang lebih kompleks, membuka rahang, menggerakkan mulut, menggetarkan dagu, dan menelan.

"Bayi yang diamati menangis di dalam rahim berusia 24 minggu atau lebih," ungkap dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Carolyn Kay, M.D, melansir dari Healthline.

Studi yang sama melaporkan bahwa satu-satunya tangisan yang terdengar oleh dunia luar terjadi selama fenomena vagitus uterinus yang sangat langka.

"Hal ini melibatkan bayi yang menangis di dalam rahim selama operasi di mana udara diizinkan masuk ke dalam rahim, menunjukkan bahwa tangisan pertama yang terdengar hanya terjadi selama transisi ke dunia luar," ungkap Kay.

Penelitian ini juga menggunakan suara untuk mengejutkan janin agar menghasilkan respons menangis.

Langkah tersebut digunakan sebagai cara menghindari apa pun yang dapat menyebabkan rasa sakit.

Bahkan setelah dikejutkan, janin tercatat menangis kurang dari 15 hingga 20 detik.

Para ilmuwan umumnya sepakat bahwa janin dapat merasakan sakit pada trimester ketiga, meskipun ada perdebatan tentang waktu pastinya dimulai.

Studi tentang menangis ini menunjukkan bahwa bayi dapat memproses sesuatu sebagai stimulus negatif dan bereaksi terhadapnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author