Mengenal Superfetation Kondisi Langka Perempuan Hamil Lagi Saat Berbadan Dua
Kehamilan umumnya terjadi melalui satu proses pembuahan dalam satu siklus reproduksi. Namun, dilansir dari HaiBunda, terdapat fenomena medis langka di mana seorang perempuan bisa mengalami kehamilan lagi ketika dirinya sedang berbadan dua yang disebut superfetation.
Kondisi superfetation merupakan keadaan ketika kehamilan kedua terjadi secara bersamaan dengan kehamilan yang sudah ada sebelumnya. Fenomena ini sebenarnya lebih sering ditemukan pada beberapa spesies hewan seperti ikan, kelinci, dan luwak, sementara kasus pada manusia tergolong sangat jarang.
Pada manusia, sebagian besar kasus superfetation ditemukan pada perempuan yang tengah menjalani perawatan IVF atau bayi tabung. Proses terjadinya kondisi ini pada dasarnya melibatkan pembuahan sel telur oleh sperma yang kemudian menempel pada dinding rahim.
"Superfetation merupakan kejadian yang sangat langka. Kondisi ini terjadi ketika sel telur dibuahi, dan embrio yang dihasilkan menempel selama kehamilan yang sedang berlangsung," kata Sasha Andrews, MD, seorang spesialis kedokteran maternal-fetal bersertifikat di Pediatrix Medical Group di Denver.
Berdasarkan data dari laman The Bump, mayoritas kasus superfetation menunjukkan adanya perbedaan usia perkembangan embrio berkisar antara dua hingga empat minggu. Hal ini membedakan kondisi superfetation dengan kehamilan kembar biasa.
Pada kasus bayi kembar, kedua sel telur mengalami proses pembuahan dalam waktu yang bersamaan. Kondisi kembar tersebut dapat berasal dari satu sel telur dibuahi yang kemudian membelah menjadi kembar identik, atau dari dua sel telur berbeda yang dibuahi sekaligus menjadi kembar fraternal.
Hingga saat ini belum ditemukan indikasi atau gejala spesifik yang dirasakan oleh ibu hamil karena sifat kasusnya yang sangat jarang. Kecurigaan medis biasanya baru muncul saat dokter melakukan pemeriksaan rutin dan melihat adanya perbedaan kecepatan tumbuh janin.
Melalui pemeriksaan USG, tim medis dapat melihat bahwa kedua janin di dalam rahim memiliki ukuran yang berbeda secara signifikan. Kondisi perbedaan ukuran ini dikenal dalam dunia kedokteran dengan istilah diskordansi pertumbuhan.
Kendati demikian, perbedaan ukuran janin tidak serta-merta membuat dokter langsung mendiagnosis kasus superfetation. Terdapat beberapa faktor lain yang lebih umum memicu diskordansi pertumbuhan, salah satunya adalah masalah plasenta yang tidak mampu menopang kedua janin secara memadai atau insufisiensi plasenta.
Risiko Komplikasi dan Langkah Pencegahan
Kehamilan dengan kondisi superfetation membawa beberapa risiko komplikasi medis yang perlu diwaspadai, terutama karena kedua janin tumbuh pada tahapan usia yang berbeda. Masalah utama muncul ketika salah satu janin telah siap dilahirkan, namun janin kedua belum mencapai kematangan perkembangan.
Janin yang berusia lebih muda memiliki risiko tinggi mengalami kelahiran prematur. Kondisi lahir prematur ini berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan pada bayi, seperti kesulitan bernapas, berat badan lahir rendah, gangguan koordinasi gerakan, kesulitan menyusui, hingga risiko perdarahan otak.
Ibu yang mengandung lebih dari satu janin juga menghadapi peningkatan risiko gangguan kesehatan selama masa kehamilan. Beberapa risiko tersebut meliputi tekanan darah tinggi, temuan zat protein dalam urine, hingga serangan diabetes gestasional.
Proses persalinan untuk kasus ini sering kali membutuhkan tindakan operasi caesar. Keputusan metode persalinan tersebut nantinya akan sangat bergantung pada evaluasi dokter terhadap perbedaan tingkat perkembangan masing-masing bayi.
Secara teori, langkah pencegahan kondisi ini dapat dilakukan dengan tidak melakukan hubungan intim setelah terjadi kehamilan. Meski begitu, kemungkinan terjadinya kehamilan kedua saat sudah hamil akibat hubungan intim dinilai sangat kecil.
Berdasarkan laporan literatur medis, sebagian besar kasus potensial superfetation dialami oleh perempuan di bawah usia kehamilan tertentu. Bagi yang menjalani program IVF, diwajibkan menjalani tes untuk memastikan tidak ada kehamilan sebelum perawatan, serta mematuhi rekomendasi dokter mengenai periode pantang yang ditentukan.