Mengenal Runner’s Trot Fenomena Pelari Mengalami Buang Air Besar Saat Lomba

Share

Rasa mulas dan sakit perut menjelang perlombaan sering kali melanda para pelari yang memulai aktivitas mereka pada pagi hari. Dilansir dari Detik Health, beberapa kasus bahkan menunjukkan adanya pelari yang tidak mampu menahan buang air besar (BAB) saat perlombaan berlangsung.

Kondisi mendadak ini dikenal dalam dunia olahraga dengan istilah runner's trot. Berdasarkan informasi dari WebMD, runner's trot menggambarkan situasi ketika seseorang merasakan dorongan kuat untuk buang air besar selama atau sesaat setelah berlari.

Dorongan yang tidak tertahankan ini terkadang memicu terjadinya runners diarrhea. Terlebih lagi, kompetisi lari biasanya dimulai pada pagi hari yang menjadi waktu biologis rutin bagi masyarakat Indonesia untuk buang air besar.

Gangguan pencernaan ini lebih sering dijumpai pada atlet lari jarak jauh. Pola kecenderungannya juga memperlihatkan bahwa wanita serta pelari berusia muda lebih rentan mengalami kondisi tersebut dibandingkan pria atau pelari senior.

Atlet yang menempuh jarak jauh dapat merasakan sejumlah indikasi gangguan pencernaan sepanjang sesi latihan maupun kompetisi resmi. Tingkat keparahan gejala umumnya akan meningkat seiring dengan semakin jauhnya jarak tempuh pelari.

Beberapa tanda fisik yang dapat diidentifikasi meliputi perut kembung, kram perut, diare, hingga inkontinensia feses atau ketidakmampuan mengontrol keluarnya kotoran. Selain itu, pelari juga bisa merasakan maag, mual, muntah, nyeri dada, desakan kuat untuk buang air besar, hingga feses berdarah.

Faktor Penyebab dan Cara Mengurangi Risiko

Penyebab utama dari kondisi ini berkaitan dengan penurunan aliran darah ke area pencernaan. Saat seseorang melakukan aktivitas lari, tubuh memprioritaskan suplai darah menuju otot-otot yang sedang bekerja aktif.

Penurunan aliran darah ke organ seperti usus besar berakibat pada berkurangnya pasokan oksigen serta nutrisi. Ketika intensitas olahraga meningkat tinggi, kombinasi antara minimnya aliran darah dan dehidrasi berpotensi memicu kolitis iskemik serta diare mendesak.

Langkah pencegahan dapat dilakukan melalui beberapa cara, termasuk mengonsumsi obat-obatan spesifik seperti bismuth subsalicylate dan loperamide setelah berkonsultasi dengan tenaga medis. Pengaturan pola makan sebelum berlari juga memegang peranan penting.

Dikutip dari Healthline, survei pada tahun 2020 menunjukkan sebagian pelari memilih untuk menghindari konsumsi daging, produk susu, unggas, ikan atau seafood, serta makanan dengan kandungan serat tinggi sebelum race. Menghindari pakaian yang terlalu ketat juga disarankan agar tidak menyumbat sirkulasi darah ke saluran pencernaan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author