Mengenal Runner’s Trot Gangguan Pencernaan yang Mengintai Para Pelari

Share

Rasa mulas yang muncul mendadak di tengah lintasan balap menjadi salah satu kendala yang paling dihindari oleh para pelari. Kondisi ini sering kali memicu dilema besar antara berhenti demi mencari toilet atau tetap bertahan melanjutkan perlombaan.

Masalah saluran pencernaan yang terjadi ketika melakukan aktivitas lari jarak jauh ini populer dengan sebutan runner's trot, seperti dilansir dari Detik Health. Gejala yang muncul bisa bervariasi mulai dari kram perut, mulas, mual, sering buang angin, hingga diare mendadak.

Spesialis kedokteran olahraga, dr Antonius Andi Kurniawan, SpKO menjelaskan bahwa dalam istilah medis, fenomena tersebut dikategorikan sebagai exercise-induced gastrointestinal distress.

Munculnya rasa mulas secara tiba-tiba dipicu oleh kondisi splanchnic ischemia. Keadaan ini terjadi sewaktu seseorang berlari dengan intensitas tinggi, di mana tubuh secara otomatis mengutamakan aliran darah menuju otot rangka dan kulit guna melepaskan panas.

Dampaknya, pasokan darah yang mengalir ke arah usus dapat mengalami penurunan drastis hingga mencapai 80 persen. Kekurangan oksigen ini membuat usus menjadi jauh lebih sensitif, mengacaukan gerakan motilitas, serta meningkatkan permeabilitas organ tersebut.

"Ambang batas di mana splanchnic ischemia jadi signifikan ada di sekitar 60-70 persen VO2max ke atas," kata dr Andi.

Menurutnya, sebagian besar pelari memacu kecepatan di atas ambang batas tersebut saat hari perlombaan. Hal ini menjadi alasan mengapa gangguan pencernaan ini lebih sering melanda ketika race day dibandingkan sewaktu sesi latihan biasa.

Peningkatan intensitas lari yang dilakukan seseorang akan berbanding lurus dengan besarnya redistribusi aliran darah dari usus, sehingga memperbesar risiko timbulnya rasa mulas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author