Mengenal Fimosis pada Anak Laki-Laki dan Cara Mengatasinya
Fimosis pada anak laki-laki sering menjadi perhatian bagi orang tua, terutama jika anak belum menjalani proses sirkumsisi. Kondisi ini sebenarnya normal terjadi, tetapi memerlukan penanganan medis segera jika mengganggu aktivitas harian anak. Orang tua harus waspada jika timbul keluhan penyerta, seperti demam, rasa nyeri, hingga kesulitan buang air kecil.
Dilansir dari HaiBunda, gangguan ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu fimosis fisiologis yang terjadi secara alami dan fimosis patologis yang dipicu faktor lain.
Fimosis merupakan sebuah kondisi ketika kulit kulup tidak dapat ditarik ke belakang dari kepala penis. Web MD menjelaskan bahwa kulup adalah jaringan kulit yang berfungsi menutupi kepala penis pada laki-laki yang belum disunat.
Bayi laki-laki umumnya terlahir dengan kondisi kulit kulup yang masih menempel rapat pada kepala penis. Kulit ini akan melonggar seiring pertumbuhan usia anak secara bertahap.
Saat mencapai usia 6 tahun, kulit kulup biasanya sudah bisa ditarik sepenuhnya untuk membersihkan area kelamin atau saat buang air kecil. Meski begitu, ada sebagian kasus langka ketika kulup tetap melekat rapat hingga anak memasuki masa remaja.
Perbedaan Fimosis dan Parafimosis
Fimosis yang tidak ditangani berisiko memicu kondisi berbahaya lain yang dikenal sebagai parafimosis.
Parafimosis terjadi ketika kulup tersangkut di belakang kepala penis dan tidak bisa kembali ke posisi semula. Kondisi darurat ini biasanya terjadi akibat pemaksaan saat menarik kulup yang masih ketat. Jika dibiarkan tanpa penanganan medis segera, parafimosis dapat menyumbat aliran darah menuju penis.
Penyebab Fimosis pada Anak
Fimosis fisiologis adalah kondisi bawaan lahir yang dapat membaik dengan sendirinya seiring tumbuh kembang anak.
Di sisi lain, jenis patologis muncul karena adanya beberapa faktor pemicu berikut ini.
1. Jaringan Parut
Infeksi bakteri atau jamur memicu terbentuknya jaringan parut pada area kulup penis anak.
Jaringan parut yang mengeras ini mengurangi elastisitas kulit, sehingga kulup sulit ditarik ke belakang.
2. Cedera Akibat Paksaan
Tindakan menarik atau meregangkan kulit kulup secara paksa sangat tidak dianjurkan.
Hal tersebut dapat memicu robekan kecil serta peradangan yang berujung pada kondisi fimosis.
Selain faktor di atas, terdapat beberapa penyakit kulit yang meningkatkan risiko gangguan ini, seperti eksim, psoriasis, lichen planus, dan lichen sclerosus.
Gejala Fimosis yang Perlu Diwaspadai
Children's Health menyebutkan gejala utama kondisi ini adalah tampilan fisik kulit kulup yang tidak bisa ditarik dari kepala penis.
Gejala penyerta lainnya meliputi rasa nyeri saat buang air kecil dan pembengkakan di sekitar kulup. Anak juga bisa mengalami perdarahan, infeksi di area kelamin, hingga munculnya reaksi tubuh seperti demam.
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada penis anak serta menanyakan riwayat kesehatan untuk menegakkan diagnosis.
Metode Pengobatan Fimosis
Langkah penanganan medis akan disesuaikan dengan usia anak, tingkat keparahan gejala, serta kondisi kesehatan umum. Kasus fisiologis umumnya tidak membutuhkan terapi khusus karena kulit akan terlepas sendiri seiring bertambahnya usia. Sedangkan untuk kasus patologis, dokter dapat memberikan resep krim steroid topikal untuk dioleskan pada kulup.
Penggunaan steroid ini efektif namun bersifat sementara, sehingga kondisi serupa bisa berulang setelah beberapa bulan.
Jika terapi krim tidak berhasil, sirkumsisi atau tindakan sunat menjadi pilihan utama untuk mengangkat bagian kulit yang menyempit.
Tips Merawat dan Membersihkan Kulup
Pencegahan jenis patologis dapat dilakukan melalui perawatan kebersihan area penis secara tepat.
Sebelum kulup bisa bergerak alami, cukup bersihkan penis anak memakai air hangat dan sabun saat mandi, lalu keringkan. Jika kulit kulup sudah bisa ditarik secara alami, bersihkan bagian bawahnya dengan lembut tanpa paksaan.
Pastikan untuk mengembalikan posisi kulup hingga menutupi kembali kepala penis setelah dibersihkan.