Mengenal Condet Wilayah Unik Jakarta yang Dijuluki Kampung Parfum

Share

Kawasan Condet di Jakarta Timur dikenal luas karena keunikan budaya Betawi yang masih kental. Selain sisi religiusnya, wilayah ini juga sohor dengan julukan Kampung Parfum di tengah masyarakat.

Sejarah julukan tersebut melekat erat dengan kedatangan masyarakat keturunan Arab yang menetap di sana. Industri wewangian ini mulai berkembang sejak era 1970-an, seperti dilansir dari Detik Travel.

Awalnya, para pedagang menjajakan minyak wangi secara sederhana menggunakan meja di pinggir jalan. Seiring berjalannya waktu, usaha ini berkembang pesat tanpa dibatasi oleh etnis tertentu.

Seorang karyawan toko parfum di Condet, Aldi, menceritakan bahwa pada tahun 1997 pedagang masih berjualan di pinggiran jalan raya.

"Dari dulu, tahun 97-an dulu tuh di pinggiran bukan toko-toko kayak gini, di pinggir-pinggir jalan gitu jualannya kayak (parfum) roll-on yang oles-oles. Dari situ mulai 1, 2, 3 toko jadi semua rata," kata Aldi.

Keberadaan Masjid Al-Hawi yang sering menggelar acara keagamaan besar ikut memicu pertumbuhan usaha ini. Banyak pelaku usaha melihat potensi pasar yang menjanjikan di kawasan tersebut.

"Jadi dari waktu ke waktu apalagi ada Masjid Al-Hawi sering ada acara-acara maulid gitu, jadi orang (berfikir) pasar parfum kayaknya bagus di Condet. Jadi lama-lama orang buka toko-toko jadi lebih banyak gitu," kata dia.

Toko-toko di kawasan ini menyediakan beragam pilihan wewangian, termasuk duplikat dari merek-merek ternama dunia seperti Dior, Bulgari, Aigner, Chanel, hingga Hugo Boss.

"Banyak dupe (duplikat) yang dijual di sini, dari brand terkenal kayak Dior, Bulgari, Aigner, Channel, Hugo Boss, banyak lagi itu," ungkap Aldi.

Harga yang ditawarkan bervariasi antara Rp5 ribu sampai Rp10 ribu per mililiter tergantung kualitasnya. Konsumen umumnya membeli dalam ukuran botol 30 hingga 50 mililiter.

Pasar sentra wewangian ini kini telah menjangkau luar kota hingga mancanegara, termasuk pembeli dari Malaysia, Oman, dan Kuwait.

"Ada dari Malaysia, terus kemarin ada dari Timur Tengah, Oman. Terus terakhir saya ngelayani dia dari Timur Tengah juga sih, Kuwait kalau nggak salah," kata dia.

Selain bisnis wewangian, Condet menjadi lokasi pelestarian buah khas Jakarta, yakni salak dan duku. Area perkebunan seluas 3,7 hektar di Kecamatan Kramat Jati ini kini berstatus sebagai Cagar Buah Condet.

Lahan yang berada di tengah pemukiman padat tersebut awalnya milik warga asli, yang kemudian diserahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta demi menjaga kelestariannya.

Wilayah ini juga menjadi pusat kuliner tradisional Betawi. Masyarakat dapat dengan mudah menemukan makanan khas seperti dodol betawi, tape uli, dan emping condet berukuran besar.

Upaya pelestarian lingkungan serta kesenian setempat juga didukung oleh keberadaan Padepokan Ciliwung Condet yang aktif bergerak di kawasan tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author