Memahami Tahapan Psikomotorik Anak dan Cara Tepat Mengembangkannya
Psikomotorik merupakan aspek tumbuh kembang anak yang tidak boleh disepelekan karena penting untuk mengoordinasikan fungsi otak dan gerakan tubuh. Perkembangan anak tidak hanya dilihat dari kemampuan berbicara atau berpikir, tetapi juga dari kemampuannya menggerakkan tubuh dalam aktivitas sehari-hari.
Kemampuan yang melibatkan pengaturan koordinasi antara fungsi otak dan gerakan fisik disebut sebagai psikomotorik. Seperti dilansir dari HaiBunda, perkembangan psikomotorik mengacu pada perubahan kemampuan motorik, kognitif, emosional, dan sosial yang terjadi sejak masa bayi hingga remaja berdasarkan penelitian dalam Handbook of Clinical Neurology.
Proses ini berperan dalam proses adaptasi, eksplorasi, serta membantu anak belajar mandiri. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami tentang psikomotorik dan bagaimana cara mengembangkannya sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.
Psikomotorik adalah kemampuan seseorang melakukan berbagai aktivitas yang membutuhkan koordinasi otak, saraf, otot, dan indra secara bersamaan. Cakupannya termasuk kemampuan anak untuk mengontrol gerakan tubuh, menjaga keseimbangan, mengoordinasikan mata dan tangan, serta melakukan aktivitas yang semakin kompleks seiring usia bertambah.
Pada masa bayi, kemampuan psikomotorik terlihat melalui gerakan sederhana seperti mengangkat kepala, berguling, meraih benda, dan merangkak. Nantinya kemampuan tersebut berkembang menjadi berjalan, berlari, melompat, menulis, menggambar, hingga melakukan aktivitas yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Dikutip dari Cortex Academy, semakin matang sistem saraf anak, semakin baik pula kemampuan gerak dan koordinasinya. Stimulasi perkembangan motorik yang tepat akan membantu pembentukan koneksi antarsel saraf di otak yang penting untuk proses belajar, komunikasi, dan perkembangan emosi.
Perbedaan Psikomotorik dengan Kognitif dan Afektif
Dikutip dari laman University of Illinois Chicago, terdapat tiga aspek utama dalam dunia pendidikan dan perkembangan anak, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kognitif berkaitan dengan pengetahuan, pemahaman, dan proses berpikir, seperti kemampuan anak mengenal warna, berhitung, atau memahami instruksi.
Aspek afektif berhubungan dengan emosi, sikap, nilai, empati, dan kemampuan bersosialisasi yang penting untuk anak belajar mengelola perasaan serta bekerja sama. Sementara itu, psikomotorik berkaitan dengan kemampuan anak melakukan gerakan fisik yang terarah seperti menulis, menggunting, berlari, melompat, menangkap bola, dan mengancingkan baju.
Ketiga aspek ini sama-sama penting dan saling berhubungan. Misalnya, ketika anak sedang belajar menulis, ia menggunakan kemampuan kognitif untuk mengenali huruf, afektif untuk menjaga motivasi belajar, dan psikomotorik untuk menggerakkan tangan serta jari.
Jenis-Jenis Kemampuan Psikomotorik
Secara umum, kemampuan psikomotorik dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu motorik kasar dan motorik halus. Dikutip dari laman Brown Health University, motorik kasar melibatkan penggunaan otot-otot besar pada tubuh seperti otot kaki, tangan, dan tubuh bagian inti untuk melakukan gerakan besar seperti berlari, melompat, menendang bola, bersepeda, hingga berguling.
Sebaliknya, motorik halus melibatkan keterampilan menggunakan otot-otot kecil, terutama tangan dan jari. Contohnya seperti menggenggam pensil, menumpuk balok, mengancingkan baju, menggambar, menulis, dan menggunting kertas.
Perkembangan motorik biasanya berlangsung seiring dengan kematangan otot, saraf, dan koordinasi. Semua ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk stimulasi dari lingkungan sekitar dan asupan nutrisi.
Tahapan Perkembangan Psikomotorik Anak
Setiap anak memiliki waktu berkembang dengan kecepatan yang berbeda-beda, sehingga tidak selalu bisa disamaratakan. Namun, terdapat tonggak perkembangan atau milestone dasar yang bisa digunakan sebagai panduan sesuai usia.
Usia 0–2 bulan
Mengangkat kepala saat tengkurap
Menggenggam benda
Menggerakkan tangan ke mulut
Usia 3–5 bulan
Mengangkat kepala lebih tinggi saat tengkurap
Mulai tertarik meraih mainan dengan tangannya
Berguling dari tengkurap ke telentang
Usia 6–8 bulan
Berlatih duduk tanpa bantuan
Merangkak
Memindahkan mainan dari satu tangan ke tangan lainnya
Usia 9–12 bulan
Mencoba berdiri dengan bantuan
Berjalan sambil berpegangan dengan benda di sekitar
Mengambil benda kecil menggunakan ibu jari dan telunjuk (pincer grasp)
Usia 1–2 tahun
Berlatih berjalan sendiri
Naik tangga dengan bantuan orang dewasa
Menumpuk balok
Mulai menggunakan sendok
Usia 2–3 tahun
Berlari dan melompat
Menggambar garis dan lingkaran sederhana
Menggunakan sendok dengan lebih baik
Mampu menumpuk mainan balok lebih banyak
Usia 3–5 tahun
Melompat dengan satu kaki
Menangkap dan menendang bola
Menggunakan gunting yang aman untuk anak-anak
Menggambar bentuk sederhana dengan lebih rapi
Cara Mengembangkan Kemampuan Psikomotorik Anak
Perkembangan psikomotorik dapat dioptimalkan dengan stimulasi yang tepat. Orang tua dapat memberikan kesempatan anak untuk aktif bergerak dengan memastikan anak memiliki cukup waktu untuk bermain di luar rumah seperti berlari, melompat, memanjat, atau bermain bola.
Optimalkan juga motorik halus melalui aktivitas menggambar, mewarnai, bermain play dough, menyusun balok, meronce manik-manik, serta menggunting dan menempel. Aktivitas tersebut melatih tangan, keterampilan jari, serta meningkatkan koordinasi mata Si Kecil.
Langkah lain adalah memberikan mainan sesuai usia yang dapat merangsang kemampuan motoriknya, seperti puzzle, susun balok, sepeda roda tiga, atau permainan konstruksi. Latih anak untuk mandiri secara bertahap seperti belajar memakai pakaian, makan, atau membereskan mainannya sendiri.
Terakhir, batasi screentime karena terlalu banyak bermain gadget dapat mengurangi kesempatan anak untuk bergerak aktif. Pembatasan aktivitas gawai ini penting karena aktivitas fisik jauh lebih efektif dalam merangsang perkembangan motorik anak.