Memahami Refleks Bayi Baru Lahir dan Cara Menstimulasinya
Refleks pada bayi baru lahir atau refleks perkembangan merupakan naluri bertahan hidup yang berasal dari sistem saraf pusat. Respons otot tak sadar ini muncul secara otomatis saat bayi menerima rangsangan tertentu seperti suara keras, gerakan mendadak, atau sentuhan fisik.
Tenaga kesehatan memantau kekuatan refleks ini untuk mengevaluasi kesehatan serta fungsi sistem saraf. Pengetahuan mengenai gerakan instingtif ini juga membantu orang tua memahami setiap tahapan perkembangan buah hati mereka, seperti dilansir dari HaiBunda.
Sebagian refleks instingtif ini dapat bertahan hingga hitungan bulan, sedangkan beberapa jenis lainnya meredup dalam hitungan minggu. Bayi baru lahir memiliki kendali tubuh yang terbatas, namun dibekali keterampilan alami yang bersumber dari batang otak untuk bertahan hidup semenjak sebelum dilahirkan.
Beberapa jenis refleks normal muncul dan bekerja pada periode perkembangan yang spesifik sebelum digantikan oleh gerakan sukarela.
1. Rooting Reflex (Refleks Mencari Puting)
Ketika sudut mulut bayi menerima sentuhan, mereka secara otomatis akan memutar kepala dan membuka mulut ke arah rangsangan tersebut. Gerakan ini berfungsi mempermudah bayi menemukan puting payudara saat menyusu dan umumnya bertahan hingga usia empat bulan.
2. Sucking Reflex (Refleks Mengisap)
Bayi akan langsung mengisap secara otomatis begitu puting susu menyentuh bagian langit-langit mulutnya. Fungsi refleks ini adalah menyelaraskan ritme mengisap, bernapas, sekaligus menelan makanan.
Kemampuan mengisap ini sudah mulai terbentuk sejak minggu ke-32 kehamilan dan mencapai kesempurnaan pada minggu ke-36. Seiring waktu, aktivitas ini berkembang menjadi kebiasaan personal untuk mencari kenyamanan, seperti mengisap jempol.
3. Moro Reflex (Refleks Kaget)
Moro reflex atau refleks kaget biasanya terpicu oleh suara yang bising atau pergerakan tiba-tiba. Respons yang muncul meliputi mendongakkan kepala, merentangkan lengan serta kaki, menangis, lalu melipat kembali anggota badannya. Refleks ini biasanya bertahan sampai bayi menginjak usia dua bulan.
4. Tonic Neck Reflex
Refleks ini terbagi menjadi dua variasi, yaitu Asymmetrical Tonic Neck Reflex (ATNR) dan Symmetrical Tonic Neck Reflex (STNR). ATNR terjadi ketika kepala bayi menoleh ke satu sisi saat telentang, yang memicu tangan dan kaki di sisi tersebut melurus sementara sisi berlawanan menekuk.
Sementara itu, STNR memicu lengan melipat dan kaki melurus saat posisi kepala menunduk. Refleks leher ini muncul sejak lahir, terlihat kembali pada usia 6 hingga 9 bulan, dan berakhir di usia 11 bulan.
5. Grasping Reflex (Refleks Menggenggam)
Gerakan mencengkeram otomatis ini aktif sewaktu telapak tangan bayi mendapatkan sentuhan lembut atau ketika jari diletakkan di genggaman mereka. Jari-jari bayi akan langsung menutup erat dan bertahan hingga usia sekitar enam bulan.
6. Refleks Babinski
Goresan lembut pada bagian telapak kaki akan membuat jari-jari kaki bayi merekah lebar. Kehadiran refleks Babinski menjadi indikator bahwa jaringan saraf bayi berfungsi dengan normal, dan respons ini akan berhenti saat anak berusia 12 hingga 24 bulan.
7. Step Reflex (Refleks Melangkah)
Saat tubuh bayi diposisikan tegak dengan kaki menyentuh permukaan lantai, mereka secara naluriah akan menggerakkan kaki seperti melangkah. Orang tua harus tetap menopang tubuh bayi karena mereka belum mampu menyangga berat badan sendiri. Refleks melangkah menghilang setelah dua bulan awal dan muncul lagi ketika anak belajar berjalan pada tahun pertama.
Langkah Antisipasi Jika Refleks Tidak Muncul
Pengamatan terhadap refleks ini sangat penting guna mendeteksi perkembangan sistem saraf anak. Orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter apabila bayi tidak menunjukkan salah satu refleks tersebut, kekuatannya tidak seimbang antara tubuh kiri dan kanan, atau refleks menetap melampaui usia yang seharusnya.
Kondisi tersebut berpotensi menjadi indikasi adanya gangguan pada fungsi otak atau sistem saraf pusat. Kendati demikian, orang tua diimbau tidak langsung cemas jika kesulitan memicu gerakan refleks tersebut secara mandiri di rumah.
"Jangan panik jika Bunda tidak dapat memicu refleks bayi baru lahir di rumah," kata Liz Donner, M.D., seorang dokter spesialis anak dan anggota Dewan Penasihat Medis Baby Center.
"Bahkan penyedia layanan kesehatan yang terampil pun mungkin kesulitan untuk memunculkan setiap refleks. Sampaikan saja hal ini pada pemeriksaan selanjutnya agar dokter anak dapat melakukan pemeriksaan menyeluruh dan mengajukan pertanyaan yang relevan sebelum memberikan kepastian atau memutuskan untuk melakukan pengujian lebih lanjut," ujar Liz Donner, M.D.
Waktu Memudar dan Refleks yang Menetap
Mayoritas refleks primitif ini meredup dalam rentang waktu empat hingga enam bulan pertama. Sejalan dengan kematangan otak, sistem saraf pusat akan menggantikan gerakan spontan tidak disengaja tersebut dengan pergerakan yang sepenuhnya disadari.
Refleks Moro serta refleks melangkah akan memudar di usia dua bulan, sedangkan refleks menggenggam dan leher membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Seluruh gerakan refleks primitif ini akan hilang sepenuhnya saat anak mencapai usia satu tahun.
Meski begitu, terdapat beberapa jenis refleks bawaan yang akan terus bertahan hingga manusia menginjak usia dewasa:
- Refleks berkedip: menutup mata saat terpapar cahaya terang mendadak.
- Refleks bersin: membersihkan saluran hidung ketika terjadi iritasi.
- Refleks menguap: menarik oksigen tambahan saat tubuh membutuhkan.
- Refleks batuk: membersihkan saluran napas bagian belakang dari stimulasi benda asing.
- Refleks muntah: proteksi ketika area tenggorokan atau pangkal mulut terstimulasi.
Metode Stimulasi untuk Melatih Refleks
Menstimulasi gerakan refleks secara berkala berorientasi positif bagi tumbuh kembang anak sekaligus mempererat ikatan emosional dengan orang tua. Stimulasi ringan dapat dilakukan lewat sentuhan halus pada pipi untuk memicu bayi menoleh.
Melatih daya isap dapat dilakukan dengan memberikan dot atau jari yang bersih guna mengasah kemampuan makan mereka. Mengusap area wajah atau kepala sewaktu bayi menyusu juga efektif menguatkan koordinasi otot mereka.
Aktivitas lain seperti membunyikan mainan kerincingan di depan bayi bisa memicu respons refleks Moro guna melatih pergerakan mata serta koordinasi tubuh. Sentuhan lembut pada telapak kaki juga dapat menstimulasi refleks menggenggam plantar agar jari-jari kaki melengkung.
Pengetahuan tentang pergerakan tubuh ini memberikan ketenangan bagi orang tua baru dalam menghadapi fase-fase awal mengasuh anak. Memahami pola perkembangan otak lewat gerakan meregang dan menendang ini membuat orang tua bisa mendeteksi perilaku ganjil lebih awal guna mendapatkan penanganan medis yang tepat.