Masalah Kesuburan Pria Sering Terabaikan Akibat Stigma Sosial

Share

Gangguan kesuburan atau infertilitas sering kali dianggap sebagai persoalan yang hanya dihadapi oleh pihak perempuan. Padahal, faktor laki-laki turut memegang peranan besar dalam menentukan keberhasilan kehamilan sebuah pasangan.

Seperti dilansir dari HaiBunda, topik kesehatan reproduksi pria ini masih menjadi hal yang relatif jarang dibahas secara terbuka di masyarakat luas.

Hasil survei terhadap lebih dari 2.000 warga Australia dari IVF Australia dan beberapa organisasi terkait mengungkap fenomena ini. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa cuma sekitar 20 persen pria yang merasa nyaman membicarakan masalah kesuburan bersama kerabat atau keluarga.

Masyarakat tercatat lebih terbuka untuk mendiskusikan masalah kebotakan, tekanan kerja, hingga persoalan hubungan ketimbang topik kesuburan. Sementara itu, terdapat sekitar 80 persen responden yang merasakan kecemasan akibat faktor usia reproduksi.

Kondisi enggan terbuka mengenai infertilitas ini berlangsung di tengah tren penurunan angka kelahiran global. Data terbaru mencatat tingkat kelahiran di Australia telah menyusut ke angka 1,4 anak per perempuan.

Anggota dewan Fertility Society of Australia and New Zealand, Dr Manuela Toledo, menilai bahwa keterlambatan penanganan kerap terjadi akibat anggapan keliru dari pihak pria.

"Sering kali pasangan pria tidak benar-benar berpikir bahwa ini tentang mereka," kata Dr Toledo.

Ia menuturkan bahwa gangguan kesuburan sering disalahartikan sebagai penurunan vitalitas atau kejantanan. Padahal, dua hal tersebut merupakan konsep medis yang sepenuhnya berbeda.

"Stigma tersebut mungkin disamakan dengan maskulinitas atau vitalitas, padahal tidak demikian," jelasnya.

Pandangan bahwa infertilitas mutlak urusan wanita dapat menghambat penanganan medis bagi pasangan suami istri. Spesialis fertilitas Dr Giselle Crawford memaparkan bahwa porsi penyebab keturunan cukup merata antara kedua belah pihak.

Secara statistik, sekitar sepertiga kasus ditimbulkan oleh faktor perempuan, sepertiga lainnya dipicu oleh faktor laki-laki, dan sisanya akibat gabungan keduanya atau belum diketahui pasti. Data American Society for Reproductive Medicine (ASRM) turut mengonfirmasi bahwa faktor pria berkontribusi sebesar 40 hingga 50 persen pada kasus ketidaksuburan pasangan.

Pemeriksaan medis awal untuk pria idealnya mencakup penelusuran riwayat kesehatan reproduksi, analisis sperma, serta evaluasi fisik secara berkala. Berdasarkan panduan American Urological Association (AUA) dan ASRM, langkah ini diperlukan guna menentukan metode perawatan yang tepat.

Hambatan utama pemeriksaan pria umumnya bersumber dari anggapan bahwa fungsi seksual yang normal berbanding lurus dengan kualitas kesuburan. Selain itu, rasa enggan juga muncul karena masih kuatnya stigmatisasi sosial.

Pentingnya Edukasi Reproduksi Sejak Dini

Upaya memicu kesadaran mengenai kesehatan reproduksi dinilai perlu dilakukan sebelum pasangan mengalami hambatan memiliki anak. Pemahaman yang ditanamkan sejak usia muda dapat membantu proses pengambilan keputusan medis yang lebih cepat.

"Jika kita membicarakan kesuburan sejak usia muda, dan pendidikan di sekolah, maka hal itu akan menjadi normal dan lebih mudah dibicarakan," kata Dr Toledo.

Edukasi dini di bangku sekolah diharapkan mampu mengikis pemikiran bahwa kesuburan adalah beban satu pihak saja, sehingga konsultasi medis dapat dilakukan lebih awal tanpa hambatan stigma.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author