Makanan yang dapat mengandung alkohol secara alami dan batas amannya

Share

Beberapa makanan yang dikonsumsi sehari-hari ternyata dapat mengandung alkohol secara alami. Ini biasanya terjadi karena proses fermentasi atau karena kandungan tertentu ditambahkan dalam jumlah kecil. Dalam makanan, alkohol yang muncul umumnya bukan bentuk murni, melainkan etanol dengan kadar rendah.

Karena itu, konsumsi makanan tersebut umumnya tidak menimbulkan mabuk asalkan masih dalam batas wajar. Dilansir dari starinsider.com, alkohol pada makanan dapat terbentuk secara alami melalui fermentasi. Pada kondisi tertentu, alkohol juga bisa hadir karena penambahan dalam jumlah kecil sebagai pelarut rasa, pengawet, atau penguat aroma.

Kadar yang terdeteksi bukan semata-mata menunjukkan efek mabuk. Etanol rendah sering tercampur air dan komponen bahan makanan lain, sehingga dampaknya berbeda dibanding minuman beralkohol.

Makanan yang berpotensi mengandung alkohol

Buah dan jus buah tertentu bisa mengandung alkohol dalam jumlah yang bervariasi. Untuk buah seperti jeruk, apel, dan anggur, dilaporkan mengandung antara 0,04-0,5% ABV. ABV berarti "alcohol by volume", yakni kadar atau persentase alkohol murni (etanol) di dalam suatu volume cairan. Pada buah, alkohol muncul karena gula mengalami fermentasi oleh ragi atau bakteri.

Buah yang sangat matang atau lewat masak juga dapat meningkatkan alkohol. Ragi dari udara dapat ikut memecah gula, sedangkan pada jus, proses fermentasi oleh mikroorganisme atau penggunaan bahan perasa bisa berperan. Selain itu, penyimpanan jus yang terlalu lama atau diletakkan di tempat panas dapat memperbesar risiko fermentasi. Jika kemasan tidak steril, ragi bisa memecah gula menjadi alkohol dan gas.

Sayuran fermentasi seperti sauerkraut dan kimchi dilaporkan mengandung alkohol dalam jumlah sedikit. Persentase kadarnya sulit diukur karena ada variasi penambahan bumbu serta pengolahan setelah fermentasi. Pada proses fermentasi, mikroorganisme seperti bakteri dan ragi mengubah gula alami menjadi alkohol, gas, dan asam.

Kandungan akhirnya bergantung pada kondisi fermentasi dan tahap pengolahan berikutnya. Pisang yang terlalu matang juga bisa mengandung alkohol. Dilansir dari starinsider.com, pisang terutama yang sudah terlalu matang mengandung alkohol sebesar 0,2-0,4% ABV.

Seiring bertambahnya usia simpan, pati dalam pisang berubah menjadi gula sederhana. Jamur atau ragi alami kemudian memakan gula tersebut, lalu peruraian tanpa oksigen menghasilkan gas dan senyawa etanol dalam kadar kecil.

Kue dan pie dapat mengandung alkohol bila menggunakan ekstrak vanili atau rum. Tambahan ini umumnya berfungsi sebagai penguat aroma, pelembap tekstur, atau pelarut ekstra rasa. Pada proses pemanggangan, suhu panas hanya menghilangkan sekitar 60% kandungan alkoholnya.

Karena ekstrak yang dipakai biasanya tidak signifikan, jumlah alkohol yang tersisa tetap rendah. Roti juga mengandung sedikit alkohol karena proses fermentasi. Roti umumnya dibuat dengan bahan seperti tepung terigu, air, ragi, garam, gula, lemak, susu bubuk, dan pengemulsi.

Selama pembuatan, ragi berperan dalam pengembangan adonan dan membentuk kondisi anaerob saat fermentasi. Ragi mengubah gula menjadi gas karbondioksidan yang ditahan adonan, sehingga adonan mengembang.

Di samping gas, fermentasi adonan roti menghasilkan alkohol dan asam-asam organik yang memengaruhi pH. Dalam roti disebutkan terdapat sekitar 1,18 – 1,28% ABV. Rangkaian contoh di atas menunjukkan bahwa alkohol bisa hadir pada makanan melalui fermentasi alami maupun komponen yang digunakan dalam pembuatan. Kadar yang disebutkan umumnya tergolong rendah dan bergantung pada proses pengolahan serta tingkat kematangan bahan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author