Ledakan Gudang Peledak Tambang di Myanmar Tewaskan Puluhan Orang

Share

Sebuah bangunan yang menjadi tempat penyimpanan bahan peledak untuk kegiatan pertambangan meledak hebat di wilayah timur laut Myanmar. Insiden mematikan tersebut dilaporkan merenggut puluhan nyawa warga setempat.

Peristiwa ini terjadi di desa Kaungtup, Kecamatan Namhkam, yang berjarak sekitar tiga kilometer dari wilayah perbatasan China. Kawasan tersebut berada di bawah kendali Ta'ang National Liberation Army (TNLA), sebuah kelompok bersenjata berbasis etnis yang aktif di wilayah konflik tersebut.

Dilansir dari Detikcom, kepastian mengenai jumlah korban jiwa dalam insiden ini masih simpang siur. Tim penyelamat menyatakan bahwa korban meninggal dunia mencapai 40 orang, sementara sekitar 70 orang lainnya mengalami luka-luka.

Di sisi lain, data dari Associated Press menyebutkan jumlah korban tewas berkisar antara 40 hingga 46 orang termasuk anak-anak. Laporan dari AFP menunjukkan angka korban yang lebih tinggi, yaitu antara 46 hingga 59 orang.

Sementara itu, media lokal Myanmar seperti Shwe Phee Myay di Negara Bagian Shan mengabarkan korban meninggal berada di angka 50 sampai 55 orang. Dampak ledakan ini juga menghancurkan banyak rumah di sekitar lokasi dan memicu kekurangan pasokan darah di Rumah Sakit Namhkam.

Stasiun televisi pemerintah China, CCTV, turut melaporkan bahwa ledakan hebat ini memicu kerusakan parah pada bangunan sekitarnya. Penyelidikan awal stasiun televisi tersebut mengonfirmasi titik ledakan bersumber dari tempat penyimpanan bahan peledak pertambangan.

Pihak TNLA melalui pernyataan resmi di saluran Telegram membenarkan bahwa departemen ekonomi mereka menyimpan gelignite di lokasi tersebut. Bahan peledak kuat itu disimpan untuk keperluan aktivitas pertambangan dan peledakan batu.

Manajemen penyimpanan yang kurang tepat dalam jangka waktu lama diketahui dapat membuat senyawa kimia gelignite menjadi tidak stabil. TNLA menyampaikan rasa duka mendalam kepada keluarga korban dan berjanji akan melakukan penyelidikan menyeluruh atas insiden ini.

Kawasan Namhkam sendiri telah dikuasai oleh TNLA sejak serangan besar terhadap militer Myanmar pada akhir tahun 2023. Kelompok ini merupakan bagian dari Three Brotherhood Alliance yang menuntut hak otonomi lebih besar bagi kelompok etnis.

Meskipun TNLA sempat menandatangani kesepakatan gencatan senjata dengan militer Myanmar pada Oktober lalu melalui mediasi China, ketegangan di wilayah tersebut masih terus berlanjut. Myanmar sendiri masih terjebak dalam perang saudara sejak kudeta militer pada tahun 2021 lalu.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author