Laba Industri China Melambat Akibat Lemahnya Permintaan Domestik

Share

Pertumbuhan keuntungan sektor industri di China mengalami penurunan kecepatan untuk pertama kalinya sejak November lalu. Fenomena ini mengindikasikan bahwa ketangguhan ekspor dan peningkatan harga belum mampu mengatasi tekanan akibat rendahnya daya beli di dalam negeri. Dikutip dari Bloombergtechnoz, keuntungan industri mengalami kenaikan sebesar 21,1% pada bulan lalu jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka kenaikan tersebut menunjukkan penurunan dari pencapaian bulan April yang sempat menyentuh posisi 24,7%. Data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) menunjukkan akumulasi keuntungan perusahaan sepanjang lima bulan pertama tahun ini tumbuh sebesar 18,8%. Realisasi tersebut berada sedikit di bawah proyeksi yang dikeluarkan oleh Bloomberg Economics sebesar 19%.

Kondisi perlambatan ini terhitung mengejutkan lantaran sektor manufaktur China baru saja keluar dari zona deflasi pada Maret setelah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Harga di tingkat produsen bahkan sempat merangkak naik dengan kecepatan tertinggi sejak 2022 pada bulan lalu.

Maraknya investasi pada sektor kecerdasan buatan (AI) secara global ikut mengatrol permintaan terhadap produk manufaktur tingkat tinggi asal Negeri Tirai Bambu tersebut. Di sisi lain, ketegangan politik di Timur Tengah berimbas pada lonjakan biaya komoditas akibat terganggunya pasar energi. Sektor manufaktur bahan baku memberikan andil sebesar 10,2 poin persentase terhadap total pertumbuhan keuntungan industri sepanjang lima bulan pertama. Sektor teknologi tinggi menyumbang 8 poin persentase, sedangkan manufaktur peralatan berkontribusi sebesar 5,2 poin persentase.

NBS menyatakan bahwa demam AI di pasar global menjadi penyokong utama peningkatan keuntungan pada industri elektronik serta sektor logam non-besi, termasuk tembaga dan aluminium. Namun, kontribusi antarsektor ini tidak sepenuhnya akumulatif karena adanya area yang saling tumpang tindih. Kembalinya tren pelemahan memperlihatkan bahwa kemerosotan investasi domestik dan rendahnya belanja rumah tangga masih menjadi beban berat bagi korporasi. Faktor-faktor negatif di dalam negeri tersebut pada akhirnya mengeliminasi dampak positif dari perdagangan luar negeri.

Tingginya angka pertumbuhan utama pada tahun ini juga dipengaruhi oleh rendahnya basis perbandingan pada tahun lalu, sehingga penilaian terhadap kekuatan riil industri memerlukan kehati-hatian. Pada Mei tahun lalu, laba sektor industri tercatat merosot tajam hingga 9,1%. Sepanjang lima bulan pertama tahun 2026, akumulasi nilai keuntungan industri tercatat mencapai 3,14 triliun yuan atau setara dengan US$462 miliar.

Total perolehan ini masih berada di bawah pencapaian yang diraih oleh perusahaan-perusahaan pada periode yang sama pada tahun 2022. "Masalah kelebihan pasokan dan lemahnya permintaan di dalam negeri masih belum terselesaikan, dan perusahaan-perusahaan di beberapa sektor masih menghadapi kesulitan," kata Yu Weining, analis dari NBS, dalam pernyataan terpisah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author