Kurva Inversi Landa Surat Utang Negara Saat Rupiah Tertekan
Tekanan di pasar surat utang domestik terpantau masih belum terjeda di tengah gerak mata uang rupiah yang belum mampu bangkit dari kisaran dekat Rp17.900 per dolar AS.
Dikutip dari Bloombergtechnoz, pergerakan tingkat imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) menunjukkan anomali lebih lanjut pada perdagangan pertama, Selasa (2/6/2026), setelah libur panjang Idul Adha.
Kondisi mendatar atau flat tidak hanya terjadi pada yield obligasi negara tenor panjang dan pendek, tetapi kini telah membentuk kurva inversi atau inverted curve.
Berdasarkan data realtime Bloomberg menjelang tengah hari, fenomena kurva terbalik ini terlihat dari SUN tenor pendek 1 tahun yang posisinya telah mencapai level 7,0995%.
Pada waktu yang sama, SUN untuk tenor 10 tahun justru masih berada di kisaran 6,6991%, sedangkan tenor 40 tahun berada di kisaran 6,926%.
Imbal hasil SUN tenor 1 tahun tersebut menjadi yang tertinggi dan berhasil melewati tingkat pengembalian untuk tenor yang berjangka waktu jauh lebih panjang.
Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menjelaskan bahwa situasi saat tingkat imbal hasil tenor pendek melampaui tenor panjang merupakan kondisi kurva imbal hasil terbalik.
"Kurva [imbal hasil] rusak karena Kementerian Keuangan mau jaga cost of fund [biaya dana]. Seharusnya [yield] sudah dibiarkan naik," kata Fakhrul.
Menurut Fakhrul, pergerakan kurva imbal hasil SUN yang membentuk inversi ini memberikan pembacaan sinyal yang semakin negatif bagi pelaku pasar.
Dampaknya, nilai tukar mata uang rupiah dinilai berpotensi mengalami pelemahan yang lebih dalam lagi ke depannya.
"Bank Indonesia dan Kemenkeu tidak menguatkan rupiah, justru memperlemah karena masih mempertimbangkan cost of fund. Seharusnya dibuat harga aset [rupiah] lebih menarik. Atau, memang kalau begini, ujungnya pasar akan beranggapan rupiah sengaja dilemahkan lebih jauh oleh otoritas demi menjaga cost of fund," jelas Fakhrul.
Langkah otoritas tersebut diduga sengaja membiarkan situasi ini terjadi agar beban biaya bunga utang pemerintah dapat ditekan seminimal mungkin.
Meskipun kondisi rupiah yang lemah memiliki potensi dampak positif bagi sektor ekspor, kebijakan ini dinilai tetap membawa risiko tersendiri.
"Berisiko pada pelemahan confidence ekonomi secara keseluruhan yang menurut saya tidak sepadan karena ujungnya untuk menjalankan perekonomian harus ada dukungan dari swasta," katanya.
Sepanjang perdagangan dari pagi hingga menjelang siang, nilai tukar rupiah bergerak pada rata-rata kisaran Rp17.882 per dolar AS dengan titik terlemah menyentuh Rp17.894 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks harga saham gabungan justru bergerak menguat sebesar 0,78% sejak awal perdagangan dan berada di kisaran level 6.177.
Para pelaku pasar saat ini tengah menunggu rilis data resmi mengenai inflasi serta kinerja neraca perdagangan yang akan dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik.