Kurang Tidur saat Hamil Picu Gangguan Kecemasan Pasca Persalinan
Depresi pasca persalinan menjadi salah satu masalah kesehatan mental yang kerap membayangi perempuan setelah melahirkan. Kondisi ini sering kali ditandai dengan munculnya gangguan kecemasan yang sulit diredam oleh sang ibu.
Seperti dilansir dari HaiBunda, data dari News Medical menunjukkan bahwa sekitar 15 persen perempuan menghadapi gangguan kecemasan selama masa kehamilan hingga beberapa minggu setelah proses persalinan.
Guna mendalami pemicunya, para peneliti di Washington University di St. Louis melakukan riset yang mengaitkan gangguan tersebut dengan kualitas tidur ibu selama masa kehamilan. Hasil riset ini telah dipublikasikan dalam jurnal Sleep pada April 2026.
Studi tersebut melibatkan survei terhadap 230 perempuan yang dipantau sejak awal dan akhir kehamilan, hingga periode awal dan akhir pasca persalinan. Peneliti mengamati korelasi gangguan tidur dengan gejala kecemasan serta Gangguan Obsesif Kompulsif (OCD).
Masa perinatal atau rentang waktu kehamilan rentan memicu masalah tidur akibat fluktuasi hormon, perubahan fisik, serta stres. Penelitian ini menemukan gangguan tidur mulai meningkat tajam pada trimester ketiga dan berlanjut pada fase awal pasca melahirkan sebelum akhirnya stabil.
Para peserta riset diminta mengisi kuesioner mengenai pola tidur dan tingkat kecemasan mereka. Pertanyaan yang diajukan mencakup kekhawatiran berlebih terhadap keselamatan bayi hingga indikasi ciri OCD, seperti pikiran bahwa bahaya akan mengintai jika mereka tidak sangat berhati-hati.
Hasil analisis menunjukkan bahwa durasi tidur yang lebih pendek berkorelasi langsung dengan peningkatan kecemasan perinatal dan munculnya keyakinan obsesif dari waktu ke waktu. Dampak ini ditemukan lebih buruk pada ibu yang memiliki tingkat kemampuan mengatasi masalah yang rendah.
"Mendapatkan tidur nyenyak sepanjang malam bisa menjadi sulit selama periode tersebut," kata utama studi dan psikolog Rebecca Cox, PhD.
"Temuan utama menunjukkan bahwa durasi tidur yang lebih pendek merupakan prediktor longitudinal yang lebih kuat untuk kecemasan perinatal. Gangguan tidur mungkin bisa menjadi target yang baik untuk intervensi kesehatan mental di masa perinatal," kata para penulis studi.
Rekomendasi Waktu Tidur yang Ideal bagi Ibu Hamil
Memenuhi kebutuhan istirahat sangat krusial bagi ibu hamil demi memulihkan energi dan menangani rasa lelah yang ekstrem. Durasi tidur yang optimal juga berperan penting dalam mencegah ketidaknyamanan fisik selama masa mengandung.
Kathryn Lee, seorang profesor keperawatan di University of California San Francisco, merekomendasikan agar ibu hamil mengalokasikan waktu tidur setidaknya 8 jam pada malam hari guna memenuhi kebutuhan tidur bersih selama 7 jam.
"Seorang perempuan perlu tidur lebih awal saat dia hamil. Saat hamil, perempuan membutuhkan istirahat ekstra dan tidak bisa lagi mengikuti jadwal tidur seperti sebelum hamil," kata Lee.
Pembagian waktu istirahat dapat disiasati dengan melakukan tidur siang singkat selama 30 hingga 60 menit, kemudian sisa kebutuhan tidur dioptimalkan pada malam hari. Jika ibu hamil sulit memejamkan mata dalam 10 hingga 15 menit, disarankan untuk berpindah ruangan dan melakukan aktivitas ringan yang memicu rasa kantuk seperti membaca atau mendengarkan musik lembut.