Kualitas Air Minum Kemasan Bergantung pada Kelestarian Kawasan Resapan
Keberlanjutan sumber air alami untuk Air Minum dalam Kemasan (AMDK) sangat dipengaruhi oleh ekosistem di kawasan resapan. Kelestarian lingkungan di sekitar wilayah ini menjaga cadangan air tanah tetap tersedia dan terhindar dari risiko penurunan kualitas.
Air yang digunakan sebagai bahan baku AMDK memerlukan waktu puluhan tahun untuk terbentuk melalui proses alami. Dilansir dari Detik Health, air hujan yang turun tidak langsung mengalir ke permukaan, melainkan meresap melalui kawasan resapan dan tersimpan di dalam akuifer.
Ahli Hidrologi Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Rer Nat Ir Heru Hendrayana, IPU, menjelaskan bahwa batuan vulkanik muda di lereng Gunung Merapi memiliki kemampuan tinggi dalam mengelola air.
"Batuan gunung api muda mampu menyimpan dan mengalirkan air dalam jumlah besar. Air hujan yang meresap kemudian tersimpan di dalam akuifer sebelum akhirnya muncul sebagai mata air," kata Prof Heru.
Proses interaksi antara air dan batuan vulkanik ini juga memberikan karakter alami serta kandungan mineral pada air pegunungan.
Perjalanan air dari permukaan hingga menjadi mata air membutuhkan waktu yang panjang. Public Affairs & Sustainability Senior Director Danone Indonesia, Karyanto Wibowo, memaparkan data terkait durasi proses alami tersebut berdasarkan riset ilmiah.
"Berdasarkan penelitian bersama Bremen University, perjalanan air hujan sejak meresap hingga muncul di sumber air membutuhkan waktu sekitar 27 tahun," ujar Karyanto Wibowo.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasokan air yang dimanfaatkan saat ini bergantung pada kondisi lingkungan dari beberapa dekade lalu.
Sumber air untuk AMDK memiliki karakteristik yang berbeda dengan air sumur yang digunakan oleh masyarakat. Air sumur rumah tangga umumnya diambil dari lapisan dangkal sehingga lebih rentan terpapar aktivitas di permukaan.
"Kalau sumur yang digunakan masyarakat masih rentan terhadap kontaminasi atau polusi dari permukaan. Sedangkan yang kita ambil untuk air minum (AMDK) berasal dari mata air yang sangat besar dengan kualitas dan kuantitas yang baik di kedalaman. Jadi air yang diambil tidak sama," ucap Prof Heru.
Bahan baku AMDK diambil dari akuifer tertekan yang letaknya berada di lapisan dalam. Lapisan pembawa air ini diapit oleh batuan kedap air yang bertindak sebagai pelindung alami dari kontaminasi zat luar.
Perlindungan alami tersebut tetap memerlukan dukungan berupa zonasi konservasi agar terbebas dari polutan dalam jangka panjang.
"Untuk kualitas, kita mengatur supaya di daerah resapan tidak ada sumber-sumber kontaminasi, misalnya peternakan ayam, peternakan sapi maupun aktivitas lain yang berpotensi menghasilkan polutan. Tujuannya supaya kontaminan itu tidak masuk ke sumber air," kata Prof Heru.
Strategi Konservasi dan Pengelolaan Lingkungan
Kondisi tutupan vegetasi dan hutan di kawasan resapan memengaruhi volume air yang dapat diserap ke dalam tanah. Alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman berisiko meningkatkan limpasan permukaan yang memicu penurunan debit mata air.
"Nah tentunya kita mengurangi aliran limpasan permukaan atau runoff dengan penanaman tanaman yang ramah air sehingga air hujan bisa meresap ke dalam tanah." tutur Prof Heru.
Upaya pelestarian kawasan ini tidak terbatas pada penanaman pohon semata, melainkan melibatkan aspek sosial dan ekonomi warga sekitar.
"Semua inisiatif yang kami lakukan berbasis penelitian. Yang pertama adalah riset hidrogeologi untuk memahami sistem airnya, kemudian riset sosial ekonomi untuk mengetahui kondisi masyarakat. Karena perubahan akan sulit berhasil apabila tidak memberikan manfaat terhadap mata pencaharian masyarakat," ujar Karyanto Wibowo.
Penerapan sistem agroforestri seperti penanaman kopi bersama tanaman berkayu di lereng Merapi menjadi salah satu solusi penyerapan air. Selain itu, pembuatan sumur resapan, embung, rorak, biopori, serta pemanfaatan limbah peternakan menjadi biogas turut diterapkan untuk menjaga ekosistem aliran sungai.