Kreator Konten Coba Diet Sarden Ekstrem Selama 48 Jam
Tren diet ekstrem baru bernama sardine fast atau puasa sarden kini tengah bermunculan di media sosial setelah viralnya metode karnivora dan puasa lain. Pelaku metode ini hanya diperbolehkan mengonsumsi ikan sarden selama beberapa hari untuk memperbaiki metabolisme sekaligus mempercepat pembakaran lemak tubuh.
Seperti dilansir dari Detik Food, seorang kreator konten bernama Pigmie mendokumentasikan pengalamannya yang nekat hanya makan sarden kalengan selama 48 jam. Ia membagikan sejumlah perubahan yang terjadi pada kondisi tubuhnya setelah tantangan tersebut selesai.
Pada awal eksperimen, Pigmie merasa tubuhnya menjadi lebih ramping dan ringan, namun rasa lapar yang kuat segera muncul. Demi menuntaskan tantangan secara penuh, ia bahkan meminum sisa minyak dan cairan dari dalam kaleng sarden tersebut.
Ketiadaan asupan karbohidrat dan gula sempat membuat tubuhnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang signifikan. Namun setelah melewati fase awal yang berat, Pigmie mengaku justru mengalami peningkatan fokus serta kejernihan berpikir yang mirip dengan kondisi tenang.
Pigmie mengklaim beberapa keluhan fisik yang dideritanya mulai membaik, termasuk berkurangnya nyeri sendi serta cedera bahu. Kreator konten ini juga merasa indra penglihatannya menjadi lebih baik dibandingkan sebelum ia menjalani diet tersebut.
Perubahan fisik yang terlihat itu diduga terjadi karena kondisi ketosis, yaitu saat tubuh membakar cadangan lemak sebagai sumber energi utama akibat kekurangan karbohidrat. Proses ini umum terjadi pada pola makan rendah karbohidrat dan memicu penurunan berat badan dalam waktu singkat.
Meskipun sarden kaya akan protein, omega-3, vitamin D, vitamin B12, kalsium, dan mineral penting, para ahli mengingatkan bahwa mengandalkan satu jenis makanan bukanlah pola makan ideal. Sarden tidak dapat mencukupi seluruh kebutuhan nutrisi tubuh dalam jangka panjang.
Dokter juga memberikan peringatan bahwa diet ketat sarden ini memicu sejumlah risiko kesehatan. Karakteristik sarden yang tidak mengandung serat berpotensi menyebabkan sembelit, sementara kandungan natrium yang tinggi dikhawatirkan dapat meningkatkan tekanan darah.