Koreksi CPO Global Pangkas Harga TBS Plasma di Tiga Provinsi Sumatra

Share

Penurunan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar global memicu kemerosotan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kemitraan plasma di Provinsi Riau, Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan pada akhir Mei 2026.

Dinas Perkebunan Provinsi Riau menetapkan harga pembelian TBS petani mitra plasma periode 20 hingga 26 Mei 2026 menyusut Rp33,56 per kilogram untuk kelompok umur 9 tahun, sehingga harganya menjadi Rp3.866,90 per kilogram dengan indeks K 93,30 persen.

"Dengan harga cangkang sebesar Rp 19,15/Kg. Pada periode ini indeks K yang dipakai adalah 93.30%, harga penjualan CPO minggu ini turun sebesar Rp 343,18 dan kernel minggu ini turun sebesar Rp 308,72 dari minggu lalu," kata Supriadi, Kepala Dinas Perkebunan Riau.

Otoritas perkebunan setempat menjelaskan bahwa fluktuasi ini dipengaruhi oleh ketiadaan transaksi penjualan di beberapa pabrik kelapa sawit (PKS) berdasarkan acuan regulasi Permentan Nomor 13 Tahun 2024 Pasal 16.

"Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa harga TBS yang ditetapkan oleh tim untuk mitra plasma mengalami penurunan. Penurunan harga minggu ini lebih disebabkan karena faktor turunnya harga CPO dan kernel," papar Supriadi.

Pemerintah Provinsi Riau bersama Kejaksaan Tinggi Riau kini terus membenahi tata kelola penetapan harga agar regulasi tersebut tetap memberikan asas keadilan bagi seluruh pihak terkait.

"Membaiknya tata kelola penetapan harga ini merupakan upaya yang serius dari seluruh stakeholder yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Riau dan Kejaksaan Tinggi Riau. Komitmen bersama ini pada akhirnya tentu akan berimbas pada peningkatan pendapatan petani yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat," ujar Supriadi.

Kondisi berbeda justru dialami oleh petani swadaya di Riau karena harga kelapa sawit mereka naik tipis 0,64 persen menjadi Rp3.857,14 per kilogram.

"Kenaikan harga pekan ini lebih disebabkan oleh naiknya harga kernel, meski harga CPO (crude palm oil) mengalami penurunan," kata Vera Virgianti, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau.

Berdasarkan laporan Vera Virgianti, harga CPO swadaya terdepresiasi Rp29,63 per kilogram ke angka Rp15.191,67 per kilogram, sedangkan harga kernel swadaya terapresiasi Rp4 per kilogram hingga menyentuh Rp14.828,00 per kilogram.

Sementara itu, penurunan harga juga melanda Sumatra Barat yang menyepakati harga sawit umur 10-20 tahun turun Rp23,4 per kilogram menjadi Rp3.998,76 per kilogram untuk periode 15 sampai 21 Mei 2026.

Di Sumatra Selatan, harga TBS sawit usia produktif menyusut dari Rp3.898 per kilogram pada periode I Mei menjadi Rp3.864 per kilogram pada periode II Mei 2026 akibat penurunan harga acuan di Bursa Malaysia dan Rotterdam.

"Secara sederhana memang dolar mempengaruhi harga TBS, tapi itu bukan penentu satu-satunya. Harga acuan CPO di pasar global saat ini, seperti Bursa Malaysia dan Rotterdam sedang turun," kata M Ichwansyah, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Sumatra Selatan pada Kamis, 21 Mei 2026.

Ichwansyah menguraikan bahwa pelemahan ini dipengaruhi berkurangnya volume permintaan dari Uni Eropa dan Tiongkok karena para importir mulai beralih memprioritaskan minyak nabati alternatif yang lebih murah seperti minyak kedelai.

"Jadi meskipun dolar menguat, dampaknya tidak terlalu terasa terhadap harga TBS karena harga CPO dunia justru turun," ujar Ichwansyah.

Penumpukan muatan di tangki timbun pelabuhan ekspor selaku faktor logistik internal turut menahan laju kenaikan harga domestik dalam jangka pendek.

"Artinya, meskipun harga TBS sedikit turun tetapi bagian harga yang diterima petani cenderung meningkat," tutup Ichwansyah.

Berbeda dengan tren penurunan tersebut, Dinas Perkebunan Sumatra Utara melaporkan harga pembelian TBS swadaya tertinggi justru naik ke rentang Rp3.140 hingga Rp3.410 per kilogram pekan ini, dengan harga tertinggi tercatat di Kabupaten Serdang Bedagai senilai Rp3.410 per kilogram.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author