Korea Selatan Galang Investasi Chip dan Pusat Data AI Senilai Rp15.755 Triliun

Share

Pemerintah Korea Selatan tengah menggalang investasi raksasa senilai minimal 1.350 triliun won atau setara Rp15.755,5 triliun untuk memperkuat infrastruktur digital. Proyek besar ini menyasar sektor chip dan pusat data yang dinilai krusial dalam era kecerdasan buatan (AI).

Langkah strategis ini diambil guna mempertahankan posisi negara dalam persaingan teknologi global yang kian ketat, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Samsung Group dan SK Group berkomitmen membangun dua pabrik semikonduktor baru di wilayah barat daya dengan total dana mencapai 800 triliun won. Ekspansi ini ditargetkan mampu meningkatkan kapasitas produksi secara kilat demi memenuhi lonjakan permintaan pasar internasional.

Selain manufaktur komponen, Seoul juga mengumumkan komitmen investasi sebesar 550 triliun won dari sejumlah perusahaan teknologi, termasuk Naver Corp. Dana tersebut dialokasikan untuk membangun kapasitas pusat data AI sebesar 8,4 gigawatt yang ditargetkan selesai pada 2029.

Kementerian Perindustrian setempat menegaskan target untuk melipatgandakan kapasitas produksi memori dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Langkah ini diambil guna mengamankan kemampuan manufaktur kelas dunia yang berada jauh di atas para kompetitor global.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menekankan pentingnya pergerakan cepat dalam penguasaan sektor chip, pusat data, dan AI fisik. Dalam sebuah konferensi pers, ia bahkan menyebut para pemimpin Samsung dan SK Hynix sebagai pahlawan nasional.

"Kita sedang memasuki era di mana halaman berganti dalam sekejap mata," katanya.

Presiden Lee Jae Myung turut menjanjikan dukungan penuh dari pihak pemerintah untuk mempercepat pembangunan ekosistem kecerdasan buatan di dalam negeri.

"Kecepatan adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup."

Akumulasi pengeluaran teknologi ini merefleksikan urgensi pemerintah dalam menjaga keunggulan chip memori yang menjadi pilar utama kecerdasan buatan. Berdasarkan data Bank Dunia, nilai investasi kolektif ini mencakup sekitar 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Korea Selatan tahun 2024.

Secara berkala, alokasi khusus untuk manufaktur chip diestimasi menyentuh 80 triliun won per tahun. Komitmen jangka panjang ini melampaui cetak biru serupa pada era pemerintahan Moon Jae-in tahun 2021 yang merancang investasi semikonduktor sebesar US$450 miliar selama satu dekade.

Otoritas Seoul telah mendiskusikan dukungan nyata lewat penyediaan infrastruktur dasar seperti jaringan listrik dan pasokan air bersih. Meski demikian, rincian kebijakan insentif serta alokasi anggaran spesifik belum dipublikasikan secara mendetail ke publik.

Khusus pada tahun 2026, Samsung mengumumkan rencana pengucuran dana lebih dari US$70 miliar untuk riset dan perluasan produksi. Agresivitas ini mulai mendekati skala belanja perusahaan hyperscaler dunia seperti Microsoft Corp, maupun rencana investasi lima tahun China senilai US$295 miliar.

Pengumuman ini langsung direspons oleh pasar saham di mana indeks acuan Kospi berhasil memulihkan sebagian besar kerugiannya. Saham Samsung ditutup terkoreksi hampir 5%, sedangkan SK Hynix turun 1,7% pada penutupan pasar.

Co-CIO Klay Group yang berbasis di Singapura, Uday Vikram, menilai langkah masif ini memiliki dampak ganda terhadap industri semikonduktor global.

"Pengumuman ini memiliki dua sisi: di satu sisi menandakan keyakinan terhadap permintaan jangka panjang, namun di satu sisi juga meningkatkan risiko kelebihan pasokan di masa depan," kata Uday Vikram.

Namun, ia memandang positif ekspansi ini selama permintaan memori dunia tetap berada di level yang kuat.

"Akan tetapi, dalam jangka panjang, kami melihat investasi ini sebagai hal yang positif secara keseluruhan, asalkan permintaan memori tetap kuat. Secara keseluruhan, kapasitas tambahan ini memperkuat kepemimpinan Korea dalam rantai pasokan."

Di sisi domestik, tantangan politik membayangi seiring merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan Presiden Lee Jae Myung berdasarkan survei Gallup Korea. Ketidakpuasan dipicu oleh perlambatan ekonomi, pelemahan nilai tukar won, serta isu ketimpangan wilayah akibat sentralisasi di ibu kota.

Keterbatasan pasokan chip memori sebelumnya telah memicu kenaikan harga produk gawai dari sejumlah produsen global seperti Apple Inc. Krisis pasokan global ini diproyeksikan oleh para petinggi industri masih akan bertahan hingga beberapa tahun ke depan.

Executive Chairman Samsung, Jay Y. Lee, menyatakan bahwa perusahaan akan mempercepat proses pembangunan pabrik baru di wilayah metropolitan Seoul guna mengejar ketertinggalan waktu.

"Ini adalah kompetisi melawan waktu," katanya.

Gwangju diproyeksikan menjadi pusat manufaktur memori baru, sementara wilayah Cheonan dan Onyang dialokasikan sebagai pusat pengemasan High Bandwidth Memory (HBM). Selain itu, Samsung berencana mengintegrasikan teknologi robot humanoid pada fasilitas produksinya di Gumi, Provinsi Gyeongsang Utara.

Langkah ini selaras dengan visi pemerataan ekonomi dari Presiden Lee Jae Myung yang ingin menggeser pusat pertumbuhan strategis ke luar Seoul demi menciptakan lapangan kerja bernilai tinggi di daerah.

"Sejarah perkembangan Korea Selatan merupakan kisah pencapaian yang gemilang, sekaligus proses penumpukan ketimpangan dan diskriminasi yang parah," kata Lee Jae Myung dalam sebuah unggahan di media sosial X.

Ia mengajak seluruh pihak berkolaborasi mengatasi konsentrasi penduduk di ibu kota demi kelangsungan hidup bangsa.

"Kini saatnya bagi semua pihak untuk bekerja sama dan menggabungkan kebijaksanaan mereka dalam skala besar guna mencapai tujuan kelangsungan hidup bangsa, yaitu mengurangi konsentrasi penduduk di wilayah ibu kota dan mendorong pembangunan nasional yang seimbang."

Fenomena subsidi industri chip juga terjadi secara global di mana Amerika Serikat menggelontorkan dana lewat Undang-Undang CHIPS dan Sains. Di saat yang sama, China dan Jepang terus meningkatkan sokongan dana negara demi mengamankan rantai pasok semikonduktor domestik mereka.

Citigroup memproyeksikan investasi besar ini akan mendorong pertumbuhan ekosistem peralatan chip lokal secara akseleratif. Sentimen positif ini didorong oleh kuatnya permintaan teknologi kecerdasan buatan serta proyek pembangunan pabrik baru.

Profesor teknik elektro dari KAIST, Kim Joungho, mengingatkan bahwa eksekusi di lapangan membutuhkan kesiapan faktor produksi yang kompleks di luar ketersediaan modal finansial semata.

"Arahnya benar-benar tepat. Namun, membangun pabrik chip mutakhir bukan sekadar soal mengeluarkan uang. Anda membutuhkan listrik, air, tenaga ahli, dan modal—dan yang terpenting, kemampuan untuk melaksanakannya," kata Kim Joungho.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author