Konsumsi Alkohol Global Merosot Tajam Industri Alami Tekanan Berat
Permintaan global terhadap produk alkohol yang selama bertahun-tahun stabil kini mengalami penurunan signifikan. Perubahan perilaku konsumen yang lebih memprioritaskan kesehatan dan pengetatan anggaran rumah tangga menjadi pendorong utama fenomena ini.
Kondisi tersebut berdampak besar pada industri minuman dengan menghapus ratusan miliar dolar dari nilai pasar perusahaan bir, wine, dan minuman keras utama. Fenomena ini juga memaksa produsen memangkas pengeluaran, mengganti jajaran eksekutif, serta meluncurkan produk baru.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, data awal industri dari IWSR menunjukkan bahwa konsumsi alkohol berdasarkan jumlah sajian turun dengan tingkat tahunan majemuk sebesar 2% dari 2019 hingga 2025. Penurunan ini mencakup wilayah cakupan yang mewakili sekitar 75% pasar alkohol dunia.
Tren melemahnya permintaan ini sejalan dengan catatan World Health Organization mengenai konsumsi per kapita menurut volume sejak satu dekade lalu. Lonjakan sementara sempat terjadi saat pandemi Covid-19 karena aktivitas minum di rumah meningkat, namun kembali menurun sejak 2022.
Survei global Euromonitor International mencatat hanya 23% responden yang minum setiap minggu pada 2025, turun dari 25% pada 2020. Penurunan kinerja paling buruk terjadi pada kategori bir, yang posisinya mulai tergerus oleh minuman alternatif siap saji atau ready-to-drink (RTD).
Penurunan konsumsi alkohol berdasarkan jumlah sajian dari 2019 hingga 2025 tercatat paling tajam di China, yakni mencapai 6%. Kebijakan pemerintah setempat yang melarang alkohol dalam acara resmi berimbas langsung pada produsen baijiu tradisional.
Salah satu produsen, Sichuan Swellfun Co., melaporkan penurunan pendapatan sebesar 42% pada 2025 menjadi sekitar 3,04 miliar yuan atau setara US$445 juta. Prancis menempati posisi kedua dengan tingkat penurunan sebesar 3%, diikuti pasar berpendapatan tinggi seperti Amerika Serikat dan Eropa.
Sebaliknya, pertumbuhan penjualan masih terlihat di beberapa pasar negara berkembang. Afrika Selatan, sebagian wilayah Amerika Latin, dan India dipandang sebagai titik cerah industri berkat peningkatan pendapatan disposable serta pertumbuhan populasi usia legal.
Pergeseran Generasi dan Faktor Pendorong Abstinensi
Bukti perbedaan kebiasaan minum antar generasi terlihat dari survei UBS Evidence Lab di pasar terbesar seperti China, Amerika Serikat, dan Brasil. Hanya sekitar 32% peminum dari Generasi Z yang minum setiap minggu, berbanding 45% pada kelompok usia yang lebih tua.
Selain itu, jajak pendapat IWSR pada paruh kedua 2025 menunjukkan 53% peminum Generasi Z menjalani abstinensi sementara. Gerakan sober curious atau komitmen untuk lebih sadar terhadap kebiasaan minum kini marak di kalangan dewasa muda.
Faktor kesehatan menjadi pemicu utama setelah World Health Organization menyatakan pada 2023 bahwa tidak ada tingkat konsumsi alkohol yang aman dari risiko kanker. Tekanan finansial akibat inflasi dan meningkatnya penggunaan obat penurun berat badan GLP-1 turut menekan keinginan konsumsi.
Di wilayah yang melegalkan marijuana seperti Amerika Serikat dan Kanada, popularitas ganja juga menggeser alkohol. Survei Bloomberg Intelligence akhir 2024 menunjukkan dua pertiga warga usia 18 hingga 34 tahun menggunakan ganja sebagai pengganti alkohol minimal sekali seminggu.
Dampak Finansial dan Kebangkrutan di Sektor Industri
Kapitalisasi pasar gabungan merek bir, wine, dan minuman keras terbesar di bursa anjlok 48% dari puncak Juni 2021, melenyapkan nilai sebesar US$850 miliar. Beberapa produsen besar seperti Boston Beer Co., Constellation Brands Inc., dan Diageo Plc mengalami kemerosotan saham tajam.
Sejumlah penyuling di Amerika Serikat seperti A.M. Scott Distillery dan Luca Mariano Distillery telah mengajukan kebangkrutan. Produsen wine Vintage Wine Estates mengalami kepailitan pada 2024, sementara perusahaan bir Inggris BrewDog diakuisisi Tilray Brands senilai £33 juta.
Di Skotlandia, hampir satu dari lima penyuling whisky menghadapi tekanan keuangan pada kuartal terakhir tahun lalu.
"Penyuling di Skotlandia, tempat sebagian besar produksi whisky Inggris berada, menghadapi badai sempurna berupa melemahnya permintaan, naiknya biaya produksi, dan meningkatnya tarif di pasar-pasar utama, faktor-faktor yang dalam beberapa bulan terakhir telah membuat banyak merek kehilangan bisnis mereka," kata Thomas McKay.
Langkah Efisiensi dan Diversifikasi Perusahaan
Menghadapi situasi ini, Heineken NV berencana memangkas 7% tenaga kerja globalnya dalam dua tahun, menyusul penurunan volume konsolidasi sebesar 2,1% pada 2025. Pengurangan karyawan sebesar 12% juga diumumkan oleh Brown-Forman Corp., pembuat whiskey Jack Daniel’s.
Sementara itu, Suntory Holdings Ltd. yang memiliki produsen bourbon Jim Beam mengumumkan penghentian produksi selama satu tahun di penyulingan utamanya di Kentucky mulai awal 2026 akibat pasokan yang melampaui permintaan pasar.
Pergantian kepemimpinan juga terjadi secara masif pada beberapa raksasa industri. CEO Heineken NV Dolf van den Brink dijadwalkan mundur pada Juni, sedangkan Bill Newlands mundur dari posisi presiden dan CEO Constellation Brands Inc. pada April.
Diageo Plc mengakhiri masa jabatan CEO Debra Crew setelah penurunan penjualan yang diperburuk tarif impor era Presiden Donald Trump. Perusahaan kini menunjuk Dave Lewis sebagai pengganti, sementara Remy Cointreau SA menunjuk Franck Marilly sebagai CEO baru.
Sebagai langkah bertahan, perusahaan berfokus pada diversifikasi produk rendah atau tanpa alkohol. Carlsberg A/S melakukan akuisisi terhadap Britvic, sedangkan Heineken dan Anheuser-Busch InBev memperkuat strategi beyond beer melalui produk non-alkohol serta cider.