Klub Eropa Garansi Pemain Bintang Tampil di Indonesia Pramusim 2026

Share

Tiga klub elite Eropa, yakni Aston Villa, Chelsea, dan AC Milan, dipastikan menggelar tur pramusim 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, yang ditutup dengan duel Chelsea menghadapi AC Milan pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

Kembalinya klub-klub besar tersebut didukung kesiapan infrastruktur stadion Senayan, pengalaman Indonesia menggelar ajang internasional, serta peran promotor lokal Nine Sport Inc. Laga Aston Villa melawan Indonesia All Stars menjadi pembuka rangkaian tur sebelum laga puncak Super Cup 2026.

Promotor memastikan deretan pemain bintang akan meramaikan pertandingan internasional ini melalui klausul khusus dalam kontrak kerja sama. Kepastian tersebut disampaikan langsung oleh manajemen penyelenggara di Jakarta pada Selasa, 28 Juli 2026.

"Dari awal komitmen kami selalu masukkan dalam kontrak adalah Best Player Available untuk hadir dimainkan karena itu bisnis kami. Yang kami jual adalah produk atau bintang-bintangnya, kami selalu pastikan itu terjadi. Dalam hal ini Palmer dan Modric kami pastikan datang," kata CEO Ninesport Arif Putra Wicaksono.

Selain kepastian hadirnya Cole Palmer dan Luka Modric, promotor juga mengupayakan kedatangan kapten Chelsea Enzo Fernandez yang terkendala jadwal libur pasca-Piala Dunia 2026. Pertandingan ini dipimpin oleh dua pelatih anyar, Xabi Alonso di kubu Chelsea dan Ruben Amorim di AC Milan.

"Enzo kalau dihitung dari peraturan FIFA itu baru tanggal 9 [Agustus] dia baru bisa. Tapi kemarin ada pembicaraan dengan manajemen Chelsea karena dua-duanya juga pelatih baru, ada kemungkinan dia datang. Tapi masih kemungkinan ya. Dan, kalaupun datang kami juga belum bisa নিশ্চিতkan dia tampil," ujar Arif.

Penyelenggaraan ajang ini turut dimanfaatkan sebagai sarana promosi pariwisata olahraga karena disiarkan langsung ke 70 negara. Deputi Kemenpora Bidang Pengembangan Industri Olahraga Teuku Arlan menyatakan pemerintah memberikan dukungan penuh dari sisi perizinan guna menggerakkan perekonomian nasional.

"Tontonan berkualitas kelas dunia ini disiarkan ke 70 negara, jadi untuk national branding sangat baik. Harapan kami kolaborasi seluruh ekosistem, dari hotel, transportasi, kuliner, hingga tour and travel ikut berdampak," ucap Arlan.

Penjualan tiket pertandingan telah melampaui 50 persen dari total kapasitas, dengan Chelsea mengalokasikan 3.000 tiket untuk suporter dari enam negara Asia di luar kuota 40 ribu penonton domestik. Induk organisasi sepak bola nasional juga menyiapkan dukungan operasional lapangan.

"PSSI akan memberikan support-nya, baik mengenai perwasitan dan tentu dokumen-dokumen yang menyangkut pertandingan ini. Karena kami tahu bahwa Chelsea dan AC Milan adalah tim besar yang dihuni oleh pemain-pemain top dunia juga," ungkap Sekjen PSSI Yunus Nusi.

Di luar urusan teknis lapangan, promotor mengungkapkan adanya perbedaan mencolok terkait permintaan khusus atau riders konsumsi dari kedua tim seusai laga. AC Milan menerapkan standar kuliner tinggi untuk mendukung pemulihan fisik pemain, sedangkan Chelsea mengajukan permintaan yang lebih ringkas.

"Sekadar informasi bahwa standar makan kedua tim berbeda. AC Milan misalnya, mereka ingin dapurnya berjarak 10 meter dari tempat makan. Ini menandakan bagaimana makanan Italia yang terkenal di dunia juga ditentukan oleh kadaluarsa saji," ungkap Arif.

Pihak penyelenggara harus menyiapkan fasilitas jamuan makan khusus bagi skuad Rossoneri agar kualitas makanan tetap terjaga. Sementara itu, skuad The Blues hanya meminta menu praktis untuk disantap pemain.

"Selepas pertandingan, Chelsea sekadar ingin makan sandwich , AC Milan malah ingin disediakan satu ruangan untuk mereka makan yang enak," tutur Arif.

Penanganan dua klub raksasa secara bersamaan memberikan tantangan logistik yang kompleks bagi tim promotor. Mengakomodasi kebutuhan puluhan pemain bintang membutuhkan ketelitian ekstra dalam setiap detail persiapan.

"Ibarat konser musik, jika kita biasanya membawa satu bintang, kalau satu tim sepak bola berarti membawa 22 bintang yang keinginannya berbeda," imbuhnya.

Rangkaian agenda tur pramusim ini juga mencakup kegiatan sosial di luar lapangan, seperti kunjungan ke lokasi bersejarah di Indonesia, sesi latihan terbuka, coaching clinic, serta konferensi pers gabungan.

"Kegiatan di luar sepak bola ini merupakan wujud kepedulian para pemain AC Milan dan Chelsea terhadap tempat yang mereka kunjungi," ungkap Arif.

Koordinasi detail juga mencakup urusan penentuan status tim kandang dan tandang dalam publikasi resmi pertandingan agar kedua belah pihak mendapatkan porsi yang adil.

"Selain itu, ada beberapa kegiatan lain seperti coaching clinic, latihan terbuka, hingga konferensi pers gabungan dari kedua tim," imbuh Arif.

Proses negosiasi administratif terus dimatangkan oleh penyelenggara untuk memastikan seluruh hak komersial dan protokoler kedua klub terpenuhi sebelum hari pertandingan.

"Banyak hal menarik yang harus kami bereskan, bahkan soal siapa yang disebut lebih dulu saja menjadi kendala dan ada banyak perdebatan," katanya.

Penyelenggara menerapkan berbagai metode penentuan proporsional untuk menyelesaikan perbedaan pendapat di antara kedua manajemen klub.

"Bahkan kalau kita pakai abjad saja itu sudah ketahuan siapa yang lebih dulu, jadi ada beberapa pemilihan seperti itu yang cukup rumit untuk dilakukan," imbuhnya.

Persiapan pelayanan konsumsi dan dapur khusus terus dimatangkan promotor guna menjaga kondisi fisik pemain selama berada di Jakarta.

"Riders pertama kali buat itu jadi suatu hal yang unik buat kami. Terus juga perbedaannya cukup signifikan antara tim Eropa atau tim Asia atau bahkan tim Eropa kelas menengah, tim Eropa papan atas," kata Arif.

Penetapan jarak dapur masakan menjadi syarat mutlak dari manajemen AC Milan untuk menjaga kesegaran hidangan yang disajikan kepada para pemain.

"AC Milan itu dia punya standarisasi yang cukup tinggi dari segi makanan. Dia nggak mau dapurnya itu lebih jauh 10 meter dari tempat makan mereka. Jadi, kedaluwarsa saji itu menjadi suatu hal yang penting," ujarnya.

Ruangan khusus yang diminta kubu Italia difungsikan sebagai tempat jamuan makan malam resmi setelah bertanding di lapangan.

"AC Milan itu minta satu ruangan untuk ngelakuin full feast gitu ya, makan yang proper layaknya bukan kayak selesai main kelaparan gitu aja, dia pengen bener-bener makan yang proper," katanya.

Standar tinggi yang ditetapkan klub Serie A tersebut mencerminkan kebiasaan dan budaya kuliner dari negara asal mereka.

"Mungkin juga kita jadi ngeh kenapa masakan Italia sangat terkenal di dunia, bahkan pemain-pemain bolanya saja untuk makanan tuh mereka bener-bener mikirin yang proper lah," tambahnya.

Di sisi lain, perwakilan dari Liga Inggris memilih skema konsumsi yang lebih fleksibel setelah menjalani pertandingan berat.

"Setelah selesai pertandingan ini, Chelsea memilih untuk sekadar makan sandwich," ucap Arif.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author