Kisah Penjual Cendol dan Ayam Penyet Benhil Adopsi QRIS BRI

Share

Waktu menunjukkan pukul 11.45 WIB. Sentra kuliner di Jalan Walahar, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, mendadak dipadati oleh para pegawai kantoran dengan id card yang masih menggantung di leher. Tanda jam makan siang telah tiba.

Di tengah riuh kepulan aroma ayam bakar, tumisan, hingga makanan berat lainnya, sebuah banner hijau bertuliskan Es Cendol Durian Sari Suji 86 tampak mencolok. Lapak milik Muhammad Saripudin (40) itu menjelma jadi oase di tengah terik matahari Jakarta.

Warna hijau alami cendol suji yang berpadu dengan es batu kristal, gula merah, serta gurihnya santan seolah memanggil para pegawai kantoran yang mulai kegerahan. Satu per satu dari mereka mulai berdatangan membeli.

"Bang Es Cendol Nangka satu, bayar pakai QRIS ya," ujar salah satu pembeli di Benhil, Kamis (29/6/2026).

Pembeli kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya. Kameranya diarahkan ke QRIS yang menempel di etalase. Tak lama, pembayaran berhasil. Saripudin kemudian menyerahkan satu cup es cendol yang sudah dibuatnya.

Di sela-sela melayani pelanggan ini, Saripudin mulai cerita bagaimana perjalanan usahanya. Rupanya, ia baru memulai peruntungan berjualan es cendol di kawasan perkantoran ini sejak dua minggu lalu.

"Baru banget di sini sekitar 2 minggu. Sebelumnya saya jualan di Kebayoran," ungkap Saripudin, pemilik Es Cendol Durian Sari Suji 86.

Saripudin menyewa lapak kuliner di lokasi strategis ini sebesar Rp 6 juta per enam bulan. Setara dengan Rp 1 juta per bulannya yang dibayarkan langsung kepada pihak pengelola.

Meski terbilang baru, resep es cendol racikannya memiliki sejarah panjang. Usaha kuliner ini bukanlah bisnis kemarin sore ia rintis, melainkan sebuah warisan yang sarat akan pengalaman.

"Pertamanya ini usaha orang tua, kalau saya awalnya jualan dari tahun 2005 di Kebayoran. Terus saya belajar dikit-dikit, jadi ikut jualan juga," kenang Saripudin, pemilik Es Cendol Durian Sari Suji 86.

Mengandalkan Ekosistem Digital QRIS BRI

Sadar pelanggannya saat ini didominasi oleh kaum urban dan pekerja kantoran, Saripudin pun turut memanfaatkan ekosistem digital dengan menyediakan layanan pembayaran nontunai melalui QRIS BRI untuk memudahkan pelanggannya.

Ia mengaku sudah menggunakan QRIS BRI sejak satu tahun yang lalu ketika masih menjajakan dagangannya di Kebayoran. Langkah digitalisasi perbankan ini awalnya ia ambil demi merespons langsung kebutuhan para pelanggannya yang mulai beralih ke tren cashless.

"Pake QRIS BRI udah lama, dari setahun yang lalu. Kebetulan dari pembeli kan suka pada nanyain, ini bisa pake QRIS apa enggak, jadi akhirnya bikin QRIS BRI," ungkap Saripudin, pemilik Es Cendol Durian Sari Suji 86.

Keputusan itu terbukti sangat tepat, terutama setelah ia hijrah ke Jalan Walahar. Di tengah serbuan pembeli yang padat di jam istirahat makan siang, keberadaan QRIS BRI menjadi andalan yang sangat membantu kelancaran usahanya. Saripudin tidak perlu lagi panik memikirkan uang kembalian atau membuang waktu untuk menghitung lembaran uang tunai di tengah antrean yang mengular.

"QRIS memudahkan sih, karena di sini banyak karyawan juga, mereka (rata-rata) pake QRIS. Praktis," tambah Saripudin, pemilik Es Cendol Durian Sari Suji 86.

Selain praktis dan minim sentuhan fisik, perputaran uang hasil penjualan Es Cendol Durian Sari Suji 86 kini juga menjadi lebih aman, rapi, dan tercatat langsung di sistem perbankan.

Menakar Omzet di Lapak Baru

Kendati begitu, ia mengaku belum bisa memastikan angka pasti pendapatan hariannya karena ekosistem pelanggan di Jalan Walahar masih terbilang sangat baru baginya.

"This sehari enggak nentu berapa yang terjual karena masih baru, jadi belum bisa dihitung. Kalau di sini belum kelihatan soalnya," tutur Saripudin, pemilik Es Cendol Durian Sari Suji 86.

Kondisi ini tentu berbeda jika dibandingkan saat ia masih mangkal di Kebayoran, di mana pasarnya sudah terbentuk matang selama belasan tahun. Di tempat lamanya tersebut, Saripudin minimal bisa mengantongi penjualan di atas 50 cup per hari.

"(Waktu di Kebayoran) kalau terjual 80 cup misalnya, kadang dapat Rp 800 ribu sehari," kenang Saripudin, pemilik Es Cendol Durian Sari Suji 86.

Meski masih meraba pasar di Benhil, Saripudin tetap optimistis. Salah satu strategi andalannya untuk menarik minat para pelanggan adalah dengan menyajikan variasi menu es cendol yang sangat beragam dan ramah di kantong pekerja. Varian rasa yang ditawarkan mulai dari Es Cendol Ori seharga Rp8.000 hingga Es Cendol Spesial lengkap seharga Rp25.000, serta Es Cendol Paket seharga Rp50.000.

Efisiensi Transaksi pada Seporsi Ayam Penyet

Tak hanya Saripudin, pelaku usaha lain juga merasakan perubahan serupa dalam pembayaran digital. Asim (50), misalnya, pedagang Ayam Penyet Sidawangi di Jalan Walahar, Bendungan Hilir. Dia mulai menggunakan QRIS BRI sejak pandemi COVID-19 mulai membaik. Keputusan ini ia ambil setelah mendapatkan informasi dan edukasi langsung dari pihak BRI setempat yang aktif merangkul para pelaku UMKM.

"Sekarang hampir semua pakai QRIS, karena lebih cepat, tinggal scan aja, apalagi di sini kebanyakan yang beli karyawan," ungkap Asim, pemilik Ayam Penyet Sidawangi.

Di era digital saat ini, kehadiran QRIS BRI tak hanya memudahkan pembeli, tetapi juga menjadi motor penggerak usaha Ayam Penyet Sidawangi milik Asim.

"Kalau rame pembeli kita jadi nggak repot (mikirin) kembalian, pelanggan juga jadi nggak nunggu lama," terang Asim, pemilik Ayam Penyet Sidawangi.

Asim secara mandiri berinisiatif memasang 'Harga Promo Pake BRImo' demi memikat hati para pelanggannya yang menggunakan QRIS BRI.

"Ini saya bikin promo inisiatif sendiri. Ya, namanya juga orang dagang, harus bisa menarik customer," ungkap Asim, pemilik Ayam Penyet Sidawangi.

Melalui potongan harga yang menarik, strategi pemasaran ini terbukti efektif mendongkrak minat beli para pekerja di kawasan Benhil.

"Jadi harga standarnya itu Rp 23.000 tapi kalau pakai QRIS atau BRImo itu jadi Rp 17.000," ungkap Asim, pemilik Ayam Penyet Sidawangi.

Pertumbuhan Eksponensial Transaksi Digital

Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Direktur Network and Retail Funding BRI Aquarius Rudiantoro menambahkan pada kuartal I 2026 ini, kanal digital BRI mencatatkan pertumbuhan double digit termasuk transaksi QRIS. Pengguna super app BRImo telah mencapai 47,8 million atau tumbuh 18,6%, dengan volume transaksi tembus Rp2.042,2 triliun atau naik 29,4% yoy. Di sisi lain, volume transaksi QRIS BRI tercatat mencapai Rp30,5 triliun atau tumbuh 76% secara tahunan (yoy), dengan jumlah transaksi mencapai 253 miliar transaksi atau meningkat 86,7% YoY.

BRI juga terus komitmen menjalankan berbagai program untuk pelaku UMKM. Hal ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas usaha masyarakat sekaligus memperluas pertumbuhan ekonomi kerakyatan di berbagai wilayah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author