Kisah Timotius Firman Bangkit Lewat Bisnis Sambal Babon

Share

Perjalanan hidup seseorang sering kali menghadirkan peluang baru di tempat yang tidak terduga. Hal ini dialami oleh Timotius Firman, personel band Saint Loco yang sempat populer pada era 2000-an di industri musik Indonesia.

Di luar kesibukannya bermusik dan melayani sebagai pastor, Timotius kini sukses menekuni dunia kuliner. Pria yang akrab disapa Senkoko ini merintis usaha Sambal Babon yang lahir dari racikan resepnya sendiri, seperti dilansir dari Detik Food.

Minat Timotius dalam meracik sambal bermula saat dirinya menjalani masa rehabilitasi di RSKO Cibubur pada tahun 2019. Di tempat tersebut, ia mulai melakukan eksperimen menggunakan resep yang sederhana.

Inspirasi racikannya datang dari hidangan ayam geprek yang identik dengan sambal bawang siram minyak panas. Timotius kemudian memodifikasi resep itu agar sesuai dengan selera pribadinya.

"Sambal buatan saya ternyata disukai teman-teman di rehabilitasi," ujar Timotius.

Pandemi Menjadi Momentum Berbisnis

Setelah menyelesaikan masa rehabilitasi, tantangan baru muncul akibat pandemi yang membuat aktivitas panggung musik dan pekerjaannya sebagai kontraktor terhenti total. Kondisi ini memaksanya mencari sumber pendapatan lain.

Bersama sang istri, Timotius memutuskan membuka usaha kuliner rice bowl dengan nama Ayam The King. Menu tersebut mengandalkan ayam suwir yang dipadukan bersama sambal buatannya.

Usaha kuliner patungan bersama istrinya tersebut sempat bertahan selama hampir dua tahun. Bisnis itu akhirnya berhenti beroperasi setelah situasi mobilitas masyarakat mulai kembali normal.

Kelahiran Brand Sambal Babon

Memasuki tahun 2026, Timotius kembali fokus mengembangkan formula resep sambal miliknya. Ia meluncurkan produk dengan merek Sambal Babon, yang merupakan akronim dari bahan bawang dan rebon.

Ide kombinasi tersebut didapatkan setelah ia aktif mempelajari berbagai konten kuliner di media sosial. Berbagai referensi itu dikembangkan menjadi racikan khas yang dijual dengan harga Rp 50.000 per stoples.

"Saya bikin resep dengan bahan, takaran, dan gaya saya sendiri," kata Timotius.

Laris Manis di Festival Musik

Kepercayaan diri Timotius terhadap produknya semakin meningkat setelah membuka stan makanan di festival musik Hammersonic 2026 pada awal Mei lalu. Di sana ia menjajakan sambal, nasi jeruk, lemper, kopi, hingga minuman segar.

Antusiasme dari para pengunjung festival tersebut ternyata melampaui ekspektasinya. Seluruh produk dagangan yang dibawa habis terjual selama dua hari penyelenggaraan acara musik cadas tersebut.

"Kami pulang tanpa bawa stok. Hampir semuanya sold out," ungkap Timotius.

Media Karya Baru Selain Musik

Bagi Timotius, dunia kuliner menjadi sarana baru untuk mengekspresikan kreativitas selain melalui jalur musik. Kepuasan tersendiri muncul ketika makanan yang ia racik mendapatkan respons positif dari konsumen.

Saat ini, lini bisnisnya mulai merambah ke produk lain seperti Lemper Babon dan Gado-gado Babon. Kedua menu baru tersebut memanfaatkan resep keluarga yang didapatkan secara turun-temurun.

"Kalau di musik saya berkarya lewat lagu, sekarang saya juga bisa berkarya lewat makanan," tutur Timotius.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author