Kisah Siti Aisyah Banting Stir ke Kuliner Gluten Free
Langkah kaki Siti Aisyah terhenti di kawasan Plumpang, Jakarta Utara, pada suatu Sabtu yang cerah di akhir Mei 2026. Di tempat inilah, ia kembali mengenang titik balik kehidupannya beberapa tahun lalu. Saat pandemi COVID-19 melanda dunia dan melumpuhkan banyak sektor usaha, Siti justru dipaksa untuk melahirkan sesuatu yang baru, sebuah usaha kuliner yang kini dikenal dengan nama Cheria Culinary.
"Produk unggulan berupa siomay ayam yang berbasis gluten free. Dimsum juga ada, gluten free di kulitnya. Tapi selain itu, juga kita punya produk cilok, yang itu juga udah gluten free. Yang di dimsum itu mau kita sempurnakan sih dia, jadi produknya kita jadinya semuanya nanti ke depannya gluten free," tutur Siti Aisyah, pemilik Cheria Culinary.
Dari dapur produksinya yang beralamat di Jl Bendungan Melayu Selatan, Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara, Siti mengisahkan bahwa sebelum fokus pada siomay dan dimsum, ia sempat mencoba peruntungan di bidang lain. Dunia wirausaha sebenarnya bukan hal baru baginya, namun sektor kuliner adalah lembaran yang benar-benar kosong saat ia memulainya.
"Saya kan udah usaha, jadi entrepreneur itu sudah dari tahun 2011 ya, tapi bukan di bidang kuliner, di bidang baby fashion. Tadinya dagang offline itu kan enak ya, sebelum COVID, nah, sekarang itu kan kalau misalnya dagang-dagang begitu kan bersaingnya sama distributor kalau di online ya. Jadi kita kalah saing, terus offline-nya udah enggak terlalu jalan, kita online juga saingan harga terus. Akhirnya, saya mikir di tahun 2022, pas COVID, kayaknya harus banting stir ke arah produk yang bisa kita bikin sendiri," sebut Siti Aisyah.
Keputusan banting setir itu membawanya mengikuti berbagai program pelatihan. Awalnya, menu yang ia pelajari dan coba pasarkan bukanlah kudapan gurih yang menjadi andalannya saat ini, melainkan aneka kue yang manis.
"Jadi saya terjun di bidang kuliner, nah ikut-ikut pelatihan. Tadinya bukan siomay. Tadinya kayak misalnya bolu, brownies terus buat kue kering," imbuh Siti Aisyah.
Namun, bisnis kue kering ternyata memiliki tantangan tersendiri dalam hal konsistensi penjualan. Dinamika pasar yang fluktuatif membuat Siti harus kembali memutar otak untuk menemukan produk yang memiliki siklus perputaran lebih cepat dan dibutuhkan konsumen setiap hari.
"Akhirnya karena penjualan nggak tiap hari ada kalau ya kayak gitu-gitu, cuma event-event aja, akhirnya cari makanan yang setiap hari orang nyari. Akhirnya ketemulah yang si siomay ini, siomay gluten free, dimsum, terus sekarang ada varian cilok juga, sama kadang-kadang kalau di event ada jagung susu keju," beber Siti Aisyah.
Kini, produk-produk buatan Siti semakin dikenal luas oleh pelanggan melalui berbagai acara kantoran hingga bazar-bazar wilayah. Bahkan, Cheria Culinary tercatat pernah unjuk gigi dalam acara Bakul Juara yang digelar di Kantor Wali Kota Jakarta Utara.
Akselerasi Usaha Bersama Rumah BUMN BRI
Selain mengandalkan pemasaran konvensional dari bazar ke bazar, Siti juga memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan WhatsApp bisnis untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Berkat konsistensinya, lini usaha yang dirintis dari bawah ini mampu membukukan pendapatan yang sangat menjanjikan setiap bulannya.
"Kalau omzet rata-rata per bulannya, ya, itu sekitar 10 sampai 15 (juta). Tapi kalau lagi ada event sekitar 20 sampai 30 dapat, kalau eventnya bagus ya," kata Siti Aisyah.
Lompatan besar bisnis kuliner ini tidak lepas dari keputusan Siti untuk bergabung dengan wadah inkubasi pada tahun 2023. Informasi mengenai program pembinaan tersebut ia dapatkan melalui jejaring sesama pelaku usaha mikro yang kerap saling berbagi peluang.
"Kita kan UMKM itu kan punya komunitas banyak, ya, jadi kita berjeraring. Akhirnya banyak info-info, ikut beberapa tempat pelatihan termasuk yang Rumah BUMN ini. Jadi tahunya dari komunitas. Masuk Rumah BUMN BRI tahun 2023," kata Siti Aisyah.
Setelah resmi menjadi bagian dari program inkubasi tersebut, Siti merasakan dampak yang signifikan terhadap perkembangan usahanya. Berbagai fasilitas, mulai dari peningkatan kompetensi, ulasan produk secara cuma-cuma, pembuatan konten digital, hingga kesempatan pameran, membuka jalan bagi Cheria Culinary untuk naik kelas.
"Banyak, banyak manfaatnya ya, itu banyak banget yang kita dapet. Pertama kita dikasih pelatihan-pelatihan yang bagus mulai dari digital marketing, keuangan, terus menaikkan branding. Selain dari pelatihan itu, kita juga dapet juga review produk gratis dari Rumah BUMN BRI dan kita dibikinin konten dan kontennya itu kita tinggal upload aja ke IG. Nah, terus beberapa produk juga bisa dipajang di galerinya Rumah BUMN BRI. Jadi banyak manfaat banget dan kita juga suka diajak event-event iya, event-event dari BRI melalui Rumah BUMN BRI ini," sebut Siti Aisyah.
Pendampingan yang terstruktur ini diakui Siti menjadi motor penggerak yang mempercepat pertumbuhan bisnisnya. Manfaat nyata yang diterima tidak hanya berupa ilmu teoritis, melainkan juga arus pesanan langsung yang datang dari pihak pembina.
"Sangat terasa manfaatnya. Jadi karena bisnis saya kan dari 0, dengan pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh BRI dan fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh BRI, itu sangat membantu akselerasi perkembangan usaha kita gitu. Dan kadang-kadang beberapa kali juga kita dapat orderan dari Rumah BUMN BRI," kata Siti Aisyah, pemilik Cheria Culinary.
Berbagi Ruang dan Memberdayakan Sesama
Pertumbuhan usaha ini pada akhirnya membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar dengan terbukanya lapangan pekerjaan baru. Kehadiran lini usaha kuliner sehat ini turut disyukuri oleh para staf yang mendampingi Siti dalam mengelola operasional sehari-hari.
"Saya pemasaran di kantin, di bazar, kadang juga minggu kemarin ya, minggu kemarin tuh sempat ada bazar juga bagian pemasaran di bazar," ujar Ida Rahmayanti, karyawan.
Bagi para pekerja pemula, ekosistem kerja di dalam usaha kuliner ini memberikan ruang belajar yang sangat berharga. Interaksi langsung dengan pelanggan dan pengelolaan manajemen waktu menjadi pelajaran praktis yang membentuk keterampilan baru mereka.
"Sangat, sangat membantu sih bagi saya yang pemula gitu kan. Walaupun bisa dibilang ada basic, pernah sebelumnya, tapi beda kan. Terkadang beda tempat juga kita beda bagaimana caranya. Jadi belajar juga banyak dari ibu bagaimana kita berhadapan dengan customer, belajar juga manage waktu nih," Ida Rahmayanti menambahkan.
Komitmen untuk memajukan para pelaku usaha mikro ini sejalan dengan visi dari pihak pengelola pusat inkubasi di wilayah Jakarta. Program-program yang dirancang memang difokuskan pada penguatan kapasitas, digitalisasi, serta pembukaan akses pasar yang lebih luas agar produk lokal mampu bersaing.
"Di Rumah BUMN, para pelaku usaha atau UMKM mendapatkan pelatihan untuk mempertajam skill kewirausahaan, pendampingan digital, hingga akses permodalan dan jejaring pasar," ujar Jajang Rohmana, Koordinator Rumah BUMN Jakarta.
Melihat perkembangan positif dari para anggotanya, pengelola merasa bahwa seluruh kerja keras dalam memberikan pendampingan telah terbayar lunas. Keberhasilan para pelaku usaha kecil untuk tumbuh dan mandiri menjadi motivasi utama untuk terus menggulirkan program pembinaan ini.
"Setiap senyuman dari pelaku UMKM yang berhasil naik kelas adalah energi bagi kami," ujar Jajang Rohmana, Koordinator Rumah BUMN Jakarta.