Kisah Sema Pengidap Gagal Ginjal Stadium 5 Awali Gejala dari Lebam Badan
Kisah seorang perempuan asal Bekasi bernama Sema menjadi viral di media sosial setelah membagikan pengalamannya menjalani prosedur cuci darah secara berkala. Perempuan berusia 33 tahun tersebut didiagnosis mengidap gagal ginjal stadium 5 sejak tahun 2024, seperti dilansir dari HaiBunda. Melalui akun TikTok miliknya, Sema mengungkapkan beberapa tanda klinis yang muncul pada tubuhnya sebelum diagnosis medis tersebut keluar.
Salah satu tanda awal yang cukup mencolok adalah kemunculan banyak lebam pada area badannya secara tiba-tiba.
Ia mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi kesehatan tubuh serta tidak ragu untuk segera melakukan pemeriksaan medis ke dokter. Langkah deteksi dini dinilai sangat krusial agar penanganan penyakit dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat.
Sema merinci sejumlah gejala fisik yang dirasakannya sebelum divonis mengalami gagal ginjal stadium 5 oleh tim medis. "Gejala yang aku rasain sebelum divonis gagal ginjal stadium 5. Ada banyak lebam di badan, munculnya kantung mata yang tidak hilang-hilang karena penumpukan cairan, tidak nafsu makan sama sekali, penurunan berat badan, pucat, mual, dan muntah," kata Sema.
Ia juga meminta masyarakat untuk tidak panik, melainkan menjadikannya sebagai pengingat untuk melakukan skrining kesehatan berkala. "Tapi please banget kalian jangan parno-an ya. Niat aku sharing agar kalian lebih aware sama badan kalian.
Jika kalian punya riwayat hipertensi, diabetes, asam urat, dan tanda-tanda seperti aku, nggak ada salahnya untuk cek darah," ujar Sema. Dalam unggahan tersebut, Sema turut mengungkapkan bahwa kondisi gagal ginjal stadium akhir yang dialaminya dipicu oleh penyakit hipertensi.
Pentingnya Dukungan Keluarga
Proses pengobatan cuci darah merupakan penanganan jangka panjang yang membutuhkan ketahanan fisik maupun mental bagi pasien.
Dukungan moral serta bantuan dari pihak keluarga dan orang-orang terdekat menjadi pilar kekuatan yang sangat penting bagi Sema. Sema mengaku bersyukur karena mendapatkan sokongan yang luar biasa dari lingkungan sekitarnya selama menjalani pengobatan. Kehadiran sang anak yang baru menginjak usia 5 tahun diakui menjadi motivasi terbesar baginya untuk tetap bertahan.
"Karena gagal ginjal ini berobatnya jangka panjang, saya sangat terbantu dengan bantuan yang hadir. Bukan soal materi, tapi kehadiran keluarga untuk membantu saya dalam mengurus anak maupun dalam mengantar ke RS dan lainnya sangat membantu," tutur Sema.